Aksara yang mengalir begitu saja – mbuh lah..

Waiting on the World to Change

Posts Tagged ‘sastra

Jalan Samurai Yukio Mishima

with 5 comments

Beberapa orang dapat mendengar dengan jelas bisikan lirih dari dalam hatinya, dan mereka mengikutinya. Sebagian dari mereka berakhir sebagai orang gila, dan sebagian yang lain menjadi legenda ..

 

(Legend of the Falls)

 

yukio_mishima_san_sebastianthumbnail.jpg

(Catatan penulis: Ini adalah kisah nyata yang dipenuhi darah dan kekerasan, tanpa stilisasi atau penghalusan verbal. Bagi Anda yang tidak menyukai tema-tema semacam ini atau memiliki ambang toleransi yang rendah atas deskripsi kekerasan secara eksplisit, saya menyarankan untuk tidak membacanya karena mungkin akan membekaskan perasaan yang tidak enak)

25 November 1970. Ritual Seppuku, satu tradisi lama para samurai yang telah dilupakan terulang dengan cara yang menggegerkan seluruh Jepang. Pelakunya selebriti eksentrik yang menurut pandangan awam – termasuk Perdana Menteri Eisaku Sato – telah kerasukan kichigai alias sinting. Dalam pandangan politisi, mereka tengah membuat sebuah pernyataan politik. Ahli kejiwaan memandang kalau itu sebuah upaya pencapaian erotisme yang paripurna dari sepasang homoseks yang memadu kasih dengan cara tak lazim. Para sastrawan memandang tindakan itu sebagai manifestasi riil penyatuan diri seorang pengarang dengan karyanya. Apapun analisisnya, hal tersebut menunjukkan bahwa tidaklah mudah memahami secara utuh sosok Mishima dengan segenap gerak langkahnya.

Yukio Mishima adalah fiksi. Mungkin itulah bekal pengertian awal yang perlu kita bawa sebelum mencoba memahaminya lebih jauh. Yukio Mishima hanyalah sebuah nama pena yang tercantum pada novel-novel seperti Kinkaku-ji (The Temple of the Golden Pavilion), Kamen no Kokuhaku (Confession of a Mask), atau Hagakure Nyumon (Way of the Samurai). Nama asli penulis novel-novel tersebut adalah Kimitake Hiraoka.

180px-yukio_mishima_1931.gifKimitake lahir di Distrik Yotsuya (kini Shinjuku), Tokyo, pada 14 Januari 1925 sebagai putra pasangan Azusa Hiraoka dan Shizue. Namun masa kecil Kimitake didominasi pengaruh kuat neneknya, Natsu, yang mengasuhnya hingga umur 12 tahun. Natsu memiliki perangai yang kurang lumrah, cenderung sadistik dan terkadang suka ‘kumat’ (morbid outburst (?)). Karakter abnormal semacam ini acapkali muncul dalam tulisan-tulisan Mishima. Sang nenek juga diketahui selalu melarang Kimitake keluar rumah, bermain, atau bergaul dengan anak laki-laki lain. Ini membuat Kimitake kecil lebih banyak menghabiskan waktu seorang diri, atau bermain boneka dengan sepupu perempuannya. Lepas dari asuhan neneknya, Kimitake kembali ke rumah orangtuanya, dan kali ini mesti menghadapi pola asuhan bergaya disiplin militer dari ayahnya yang juga keras.

mishima_highschool.gif

Pada usia 12 itu pula Kimitake masuk ke sekolah elit Peers school. Enam tahun bersekolah di sana, Kimitake diterima sebagai anggota termuda dewan editorial pada komunitas kesusastraan di sekolah tersebut. Karya tulis pertamanya adalah cerpen berjudul Hanazakari No Mori (The Forest in Full Bloom), sebuah cerpen dengan gaya tuturan penuh metafor dan aforisme, di mana sang narator merasakan satu penyatuan diri dengan arwah nenek moyangnya. Gurunya begitu terkesan dengan cerita itu sehingga merekomendasikannya untuk dimuat ke majalah sastra bergengsi Bungei-Bunka. Tahun 1944 naskah tersebut diterbitkan sebagai buku. Untuk menghindari gelombang kedengkian kawan-kawan sekolahnya, sang guru memberi Kimitake sebuah nama samaran. Maka lahirlah Yukio Mishima.

Pada Januari 1946 Mishima mengunjungi Kawabata Yasunari di kediamannya di Kamakura dengan membawa naskah Chusei dan Tabako, sembari memohon bimbingan pada sastrawan besar itu. Atas rekomendasi Kawabata naskah Tabako diterbitkan di majalah sastra Ningen.

Lulus dari kampus bergengsi Universitas Tokyo pada 1947, Mishima bekerja di kementrian keuangan Jepang. Sebuah karir yang menjanjikan masa depan. Namun begitu, nampaknya Mishima bekerja di tempat tersebut sekadar untuk menyenangkan ayahnya yang kurang menyukai aktivitas kepenulisannya. Hanya setahun bekerja di sana, Mishima mencari-cari alasan sedemikian rupa sehingga sang ayah terpaksa menyetujui pengunduran dirinya dari pekerjaan tetap tersebut untuk ‘membaktikan’ hidup sepenuhnya sebagai pengarang.

Awal ketenaran Mishima (sekaligus bisik-bisik tentang orientasi seksualnya) dimulai saat novel semi autobiografinya Kamen no Kokuhaku (Confession of a Mask) laris manis di pasaran. Novel tersebut berkisah tentang seorang anak muda gay yang terpaksa harus hidup dengan mengenakan ‘topeng’ heteroseksual agar diterima masyarakat. Mishima tidak hanya mejadi bintang di negerinya sendiri, tetapi juga di dunia internasional di mana karya-karyanya banyak diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris. Selain menulis novel, cerpen, dan esai sastra, Mishima juga menekuni seni teater Kabuki dan versi modern dari drama tradisional Jepang No.

mishima.jpeg

Naluri selebriti Mishima nampaknya sebuah bakat alam. Novel-novel kontemporer dan segenap aktivitasnya menjadi sisi menarik kehidupan sosial Jepang masa itu, selain kisah kehidupan pribadinya sendiri yang memang ‘layak’ buat bahan gunjingan. Novel Kinkaku-ji (The Temple of Golden Pavilion) adalah imajinasinya tentang pembakaran sebuah kuil terkenal di kota Kyoto oleh seorang anak yang ingin melindungi kesucian kuil itu. Novel Utage no Ato (After the Banquet) membuatnya dituntut atas pelanggaran privasi karena jalan ceritanya sangat mirip dengan kehidupan pribadi Arita Hachiro, politisi yang tengah berkampanye untuk jabatan gubernur Tokyo. Mishima sempat diisukan dekat dengan Michiko Soda (kini permaisuri Kaisar Akihito) dan beberapa wanita lain termasuk seorang politisi wanita terkemuka yang sempat diajaknya menikah, sebelum akhrnya menikahi Yoko Sugiyama pada 11 Juni 1958 dan memiliki dua anak. Namun pada saat yang sama Mishima juga dikenal sebagai pengunjung bar kaum gay di Tokyo dan berhubungan “cukup dekat” dengan komandan Tatenokai (organisasi tentara swasta yang dibentuk dan dipimpinnya) bernama Masakatsu Morita. Morita inilah yang menemani kematiannya dalam aksi Seppuku di Markas Pasukan Beladiri Jepang.

Mishima gemar menjaga kebugaran tubuhnya dengan rutin berlatih angkat beban sejak tahun 1955. Ketekunannya berlatih kendo (seni pedang) membuatnya sangat mahir dalam olahraga ini, selain menambahi embel-embelnya sebagai sang penulis-pendekar samurai (the samurai writer).

Mishima tiga kali dinominasikan sebagai pemenang hadiah Nobel kesusastraan, dan menjadi dambaan banyak penerbit buku di luar negeri. Namun begitu Dia menyadari kesempatannya meraih penghargaan prestisius tersebut menipis saat Kawabata Yasunari, sang mentor, telah lebih dahulu meraihnya pada 1968.

Kronologi prosesi Seppuku Mishima dan Morita

Pagi, 25 November 1970. Yukio Mishima sibuk mempersiapkan diri untuk menjadi ‘lakon’ sebuah pertunjukan besar. Dia mengenakan fundoshi (cawat tradisional) berwarna putih, kemudian memakai seragam militer Tatenokai. Sebilah samurai panjang, yoroidoshi (pedang pendek), setumpuk kertas selebaran gekibun, dan bagian terakhir naskah tetralogi Lautan Kesuburan (The Sea of Fertility) dalam amplop tebal yang baru selesai dikerjakannya setelah enam tahun turut dibawa serta. Mishima juga menelepon beberapa wartawan kenalannya untuk tidak melewatkan sebuah “pertunjukan”, tanpa menjelaskan apa pertunjukan yang dimaksud.

Tak lama setelah semua persiapan matang, Mishima beserta rombongan pergi menuju Pangkalan Ichigaya, Markas Besar Japan’s Self-Defence Force atau pasukan beladiri Jepang. Rombongan yang mengendarai sedan Toyota Corolla putih itu terdiri atas Mishima sendiri, komandan Tatenokai Masakatsu Morita, dan tiga anggota Tatenokai yakni Chibi-Koga, Hiroyashu Koga, dan Ogawa. Mobil dikemudikan oleh Chibi Koga. Mishima duduk di sebelahnya.

Sebelum pukul 11 mereka telah tiba di Pangkalan Ichigaya. Penjaga gerbang yang telah diberitahu rencana kedatangan mereka – namun tidak tahu maksud sebenarnya – membiarkan mereka lewat. Mobil tersebut lantas melaju bebas di dalam kompleks menuju kantor komandan pangkalan. Tak lama kemudian Mayor Sawamoto, ajudan komandan pangkalan, mempersilakan mereka untuk masuk dan bertemu langsung dengan komandan pangkalan itu, Jenderal Mashita.

Mishima memperkenalkan satu per satu anggota Tatenokai kepada Mashita. Sebelum duduk, Mishima melepaskan samurai di pinggangnya dan diletakkannya di kursi. Kepada Mashita dia menjelaskan bahwa samurai itu buatan abad 17, yang dibuktikan dengan selembar kekunan (sertifikat). Mashita mengelap samurai itu dengan tisu kertas, mengayun-ayunkannya sembari memuji keindahan pedang itu, lalu memberikannya kembali pada Mishima. Bersamaan dengan itu, Mishima memberi kode pada Chibi-Koga lewat isyarat mata. Chibi-Koga berdiri dan mencekik leher sang jenderal dari belakang. Keempat anak buah Mishima yang lain dengan cekatan mengeluarkan tali dari saku mereka untuk mengikat kaki dan tangan Mashita, lalu menarik meja tulis buat mengganjal pintu masuk.

Suasana pangkalan berubah kacau-balau ketika para tentara menyadari aksi penyanderaan komandan mereka. Mereka mencoba menorobos masuk namun dihalang-halangi oleh Mishima dan anak buahnya. Tiga orang perwira terluka tangan dan punggungnya terkena sabetan samurai dan harus digotong keluar. Mereka lantas memilih mundur untuk menjaga keselamatan Mashita, dan wakil komandan pangkalan menelepon polisi untuk menangkap Mishima. Mishima lantas menuntut agar seluruh penghuni pangkalan berkumpul di lapangan parade untuk mendengarkan pidatonya.

Menjelang tengah hari, Morita dan Ogawa muncul di beranda sembari memancangkan bendera putih panjang berisi syarat-syarat untuk keselamatan Mashita. Mereka juga menjatuhkan selebaran gekibun atau manifesto dari Mishima. Isi manifesto itu meniru pernyataan para pelaku kudeta militer tahun 1930:

Marilah kita kembalikan Jepang ke bentuk murninya dan biarkan kami mati. Apakah kalian akan menghargai hidup dan membiarkan semangat kebangsaan mati? Kami akan menunjukkan suatu nilai tinggi yang jauh lebih mulia ketimbang penghormatan pada kehidupan. Bukan kebebasan. Bukan demokrasi. Hanya Nippon, Nippon, tanah air sejarah dan tradisi. Jepang yang kita cintai.”

mishima701125.jpg

Tepat pukul 12 Mishima muncul di balkon jendela ruangan Mashita dan mulai berpidato. Walau dicemooh dan suaranya tak terdengar karena ditelan raungan helikopter militer yang berputar-putar, dia tetap melanjutkan pidatonya. Mishima berbicara panjang lebar tentang nasionalisme, harus kembalinya tentara ke kancah politik, restorasi dan perubahan konstitusi Jepang. Di akhir pidato Morita datang mendekat, lalu mereka berbareng meneriakkan Tenno Haika Banzai! (Hidup Kaisar!) tiga kali.

Keduanya masuk kembali ke dalam ruangan. Mishima membuka seragam militernya hingga tinggal mengenakan fundoshi, lalu berlutut di atas karpet merah. Setelah beberapa kali menarik napas, ia mengambil yoroidoshi – pedang pendek bermata dua dengan ujung yang tajam – yang kemudian ditusukkannya dalam-dalam ke salah satu titik di perut bagian kiri. Sekejap mukanya memutih dan tangannya gemetar. Dengan sisa-sisa tenaganya dicabutnya kembali yoroidoshi itu, lalu dibuatnya sayatan-sayatan mendatar di perut. Darah yang mengucur deras dari luka itu menggenangi karpet dan membasahi fundoshi yang dikenakannya.

Morita yang telah siap di belakangnya segera mengayunkan samurai ke leher Mishima. Nampaknya dia gugup. Samurai itu meleset dan menghantam karpet. Diulanginya sekali lagi, namun kali ini justru mengenai punggung sehingga meninggalkan luka yang dalam dan mengerikan. Hiroyashu Koga yang lebih berpengalaman dalam kendo lantas mengambil alih. Dengan sekali tebas dia memenggal kepala Mishima.

m_head.jpg

‘Selesai’ dengan Mishima, kini giliran Morita. Dia melepas jaket dan celana panjangnya, lantas mengulangi prosesi serupa. Kali ini tidak banyak kesulitan. Hiroyashu Koga memenggal kepala Morita dengan sekali tebasan samurai. Tak lama kemudian polisi berhasil masuk untuk menyelamatkan Mashita dan menangkap ketiga anak buah Mishima, yang menyerahkan diri tanpa perlawanan.

***

Setelah semua berakhir

Berdasarkan penyelidikan pasca kejadian diketahui secara jelas bahwa prosesi Seppuku itu telah dipersiapkan secara matang setidaknya sejak setahun sebelumnya. Tidak ada pihak luar yang mengetahui rencana tersebut selain beberapa anggota inti Tatenokai. Mishima bahkan telah mempersiapkan sejumlah besar uang untuk membayar pengacara bagi ketiga anak buahnya yang ditangkap polisi.

Penulis biografi, penterjemah, dan sahabat Mishima, John Nathan, memperkuat pendapat bahwa pidato politik dan manifesto Mishima hanyalah dalih belaka untuk menutupi motif yang lain. Menurutnya, Mishima memang telah lama memimpikan ritual bunuh diri tersebut. Dalam naskah keempat tetralogi Lautan Kesuburan yang berjudul The Decay of the Angel (Membusuknya sang Malaikat), terdapat karakter utama bernama Honda yang menyesali dirinya karena tak kuasa mengehentikan waktu, sehingga tak dapat menikmati keindahan fisik yang abadi. Satu-satunya cara memenangkan ‘pertandingan’ melawan waktu adalah dengan mendahului menghancurkan diri sendiri sebelum sang waktu menghancurkannya pelan-pelan.

Teori lain yang berangkat dari titik tolak psikoanalisis mengatakan bahwa tindakan bunuh diri bersama itu merupakan ekses dari kecenderungan homoseksualitasnya. Sudah menjadi rahasia umum di Jepang pada masa itu kalau Mishima dan Morita menjalin hubungan istimewa, lebih dari sekadar ‘sahabat’.

Melakukan shinju (bunuh diri ganda) adalah seakan bukti cinta dan kesetiaan yang paling dalam, namun pada dasarnya hanya topeng bagi egoisme individual Mishima. Freud mengatakan bahwa homoseksualitas adalah sisi ekstrem dari komplek narsisisme sekunder (secondary narcissism) alias cinta pada diri sendiri. Narsisisme yang ekstrem akan membuat seseorang hanya mendapat kepuasan dengan memilih obyek kecintaan yang menyerupai dirinya. Seorang pria gay akan mencintai sesama pria semata karena secara karakteristik lebih mirip dengan dirinya. Dengan kata lain, yang dicintainya sesungguhnya bukan pasangannya, melainkan bayangan dirinya yang melekat pada pasangannya itu.

Akan lebih meriah kalau Erich Fromm ditarik masuk ke dalam lingkaran diskusi bunuh diri Mishima. Fromm (yang membuat kombinasi unik antara pandangan determinasi biologis Freud dengan determinasi sosial Marx atas individu) berpendapat bahwa kebebasan (freedom) adalah karakteristik sentral semua makhluk hidup. Paradoks yang umum terjadi pada manusia, kebebasan sulit diperoleh karena karena manusia cenderung untuk menghindarinya (Escape from freedom; lari dari kebebasan). Mengapa? Karena setiap kebebasan yang diperoleh individu harus dibayar dengan tanggung jawab yang berat untuk dilaksanakan. Alternatif pertama untuk lari dari kebebasan adalah dengan meleburkan diri ke dalam otoritarianisme.

Pada otoritarianisme, orang lari dari kebebasan dengan meleburkan diri ke dalam sistem sosial berjenjang. Dalam contoh skala ringan kehidupan sehari-hari, ini terjadi pada mahasiswa pasif yang menelan mentah-mentah semua teori yang diberikan dosennya. Sikap kritis – sebagai refleksi dari kebebasan – hanya akan membuatnya dicemooh sebagai bocah keminter, memaksanya belajar lebih keras untuk mencari referensi bantahan atas teori yang ia ragukan, dan membuatnya berisiko mendapat nilai D atau E pada ujian karena jawabannya kelewat improvisatif dan “tidak sesuai dengan yang diberikan dosen.” Di sisi lain sang dosen yang menempati level lebih tinggi dalam struktur pun lari dari kebebasan intelektualnya sendiri dengan hanya memberikan textbook dan handout yang sama dari tahun ke tahun alih-alih menyegarkan pengetahuan, mengajarkan materi baru atau studi kasus riil yang relevan dengan perkembangan zaman. “Saya tidak ada waktu!” Dus mengelola sebuah kebebasan sungguh bukan pekerjaan gampang sehingga orang lebih suka lari darinya.

Otoritarianisme dalam versi yang ekstrem adalah sado-masokisme. Inilah yang nampaknya terjadi pada Mishima. Erotisme dan darah adalah tema-tema yang melekat erat pada karya-karya Mishima. Kegandrungan berlebihan pada olahraga maskulin kendo, body building, dan hal-hal berbau kemiliteran adalah usahanya melakukan bantahan psikis atas sisi feminin yang tertancap lekat dalam kejiwaannya, yang dalam mekanisme pertahanan ego menurut Freud dinamakan pembentukan reaksi (reaction formation). Ingat bahwa dalam asuhan neneknya hingga usia 12 tahun – periode di mana seorang bocah layaknya ember kosong yang tengah menampung apa saja yang diisikan kepadanya – Mishima dilarang bergaul dengan sesama anak laki-laki sehingga lebih sering bermain boneka bersama sepupu perempuannya. Satu pose imajinatifnya sebagai San Sebastian dengan tangan terikat dan tubuh ditancapi anak panah semakin menguatkan tesis bahwa Mishima memang menikmati posisi sebagai obyek pasif penderitaan dan siksaan (masokis). Di masa kecilnya konon Mishima dapat mengalami orgasme hanya dengan memandangi gambar San Sebastian dalam posisi tersebut.

Atau barangkali semua itu karena faktor kepribadian ganda dalam satu tubuh? Adakah pribadi Kimitake Hiraoka cemburu pada kemasyhuran Yukio Mishima sehingga memutuskan untuk mematikannya saja? Yukio Mishima yang datang begitu saja untuk mengambil alih tubuh dan pikirannya, yang telah mencuri karya-karya besarnya?

Apapun latar belakangnya, Yukio Mishima (atau Kimitake Hiraoka) adalah ‘preparat’ yang menarik dan tak pernah lekang buat studi kejiwaan maupun kesusastraan. Ironi dari kesuksesannya “menghentikan waktu” telah membuat generasi berikutnya (termasuk saya yang lahir satu dasawarsa setelah kematiannya) hanya melihat Mishima dalam citra sebagai sosok muda dan kekar dengan samurai terhunus di tangan dan menikmati kecantikan fisik yang lestari, bukan sosok malaikat yang menjadi renta dan dibusukkan pelan-pelan oleh waktu.

yuukoku051.jpg

Karya-karya tulis terpilih Yukio Mishima

yukio72.jpg

1948 Kamen No Kokuhaku (Confession of a Mask)

1950 Ai no Kawaki (Thirst for Love)

1953 Kinjiki (Forbidden Colors)

1954 Shiosai (The Sound of Waves)

1956 Kinkaku-ji (The Temple of Golden Pavilion)

1959 Kyoko no le (Kyoko’s House)

1960 Utage no Ato (After the Banquet)

1963 Gogo no Eiko (The Sailor Who Fell from Grace with the Sea)

1964 Kinu to Meisatsu (Silk and Insight)

1965 Mikumano Mode (Act of Worship, cerpen)

1965 Sado Kosakhu Fujin (Madame de Sade, drama)

1966 Yukoku (Patriotism, cerpen)

1966 Manatsu no Shi (Death in Midsummer and Other Stories)

1967 Hagakure Nyumon (Way of the Samurai)

1968 Waga Tomo Hittora (My Friend Hitler, drama)
477002903901lzzzzzzz.jpg

1970 Taiyo no Tetsu (Sun and Steel)

1964 – 1970 : Tetralogi Hojo no Umi (The Sea of Fertility):

1968 Haru no Yuki (Spring Snow)

1969 Honba (Runaway Horses)

1970 Akatsuki no Tera (The Temple of Dawn)

1970 Tennin Gosui (The Decay of the Angel)

Referensi:

http://en.wikipedia.org/wiki/Yukio_Mishima

http://www.vill.yamanakako.yamanashi.jp/bungaku/mishima/index-e.html

Stokes, Henry Scott. 1974. The Life and Death of Yukio Mishima. New York: Ballantine Books

ldbooklg.jpg

Baca juga tulisan-tulisan pendukung dan klip menarik ini:

Pencapaian puncak Mishima dalam Kendo (beladiri pedang Jepang)

Esai tentang motif bunuh diri Mishima

Klip singkat wawancara Mishima dalam dokumenter BBC

Artikel tentang ritual bunuh diri Seppuku

Iklan

Written by jojoba

November 22, 2007 at 6:20 pm

Rusia Bukan Tempat Jatuh Cinta

leave a comment »

Mengenang kembali kehidupan sosial di Rusia era komunisme melalui sebuah cerpen..

Cerpen: Hedy Kalikoff

Yang pertama berkesan pada jiwaku tentang Rusia ialah pemandangan alamnya yang tanpa warna. Pesawat kami mulai turun melintasi padang-padang terbuka penuh titik-titik yang kemudian ternyata pohon cemara, kumpulan rumah-rumah kecil, bayangan yang hangat dari satu dunia lama penuh cahaya. Jalan-jalan dan pabrik-pabrik bagaikan garis-garis memotong pada foto hitam-putih, persis seperti aku pernah membayangkannya.

Lewat pintu pesawat Aeroflot yang kutumpangi aku ke luar menerjuni cahaya terang keabuan. Kemudian, samar-samar menembusi lapisan salju yang turun agak lebat, aku menatap mata seseorang yang kemudian ternyata seorang tentara dari salah satu republik bagian selatan. Matanya gelap menatapku.

Akhir musim dingin atau awal musim semi tak dapat dibedakan di Rusia. Sambil menghentak-hentakkan kaki, aku membersihkan salju dari sepatuku. Untuk menghangatkan tanganku aku saling menggosokkannya dengan kencang dan agak lama.

Kapan musim semi akan muncul?” aku bertanya pada seorang Rusia temanku.

Musim semi sudah mulai,” katanya.

 

Moskow, 16 Januari

David sayang,

Tadi malam aku menonton sebuah film yang sungguh hebat, “Lima Malam”. Aku dengar film ini juga pernah main di New York, di bioskop kesenian yang biasa memutar film-film asing. Lihatlah kalau sempat. Film itu begitu sederhana tapi indah sekali dan memakai musik tahun 50-an, hitam putih sampai menjelang akhir dan kemudian baru muncul bagian yang berwarna. Gilanya lagi, film itu nyaris tanpa gerak. Kebanyakan ceritanya mengambil tempat di sebuah apartemen di Moskow. Tapi harus kuakui film itu sangat menarik. Banyak hal yang aku tak mengerti. Namun aku masih dapat merasakannya seperti ketika kita menghadapi satu karya seni yang hebat.

 

***

Mengapa kalian pikir ia sedang memakan semangka?” Tatiana Ivanova terus bertanya berulang-ulang. Roknya gelap penuh noda kapur. Dia menunggu jawaban tak sabaran.

Karena lapar,” seseorang menyahut.

Beberapa orang yang duduk di bagian belakang kelas tertawa. Tatiana mengatupkan mulutnya, jengkel, tapi harus menahan kemarahannya. Di sampingku duduk Richard, tidak bergerak. Matanya senantiasa terpaut pada Tatiana.

Duduk berdampingan dengan Richard selama mengikuti pelajaran dengan Tatiana, memberikan rasa tenteram bagiku. Rasa terpesona Richard terhadap guru wanita itu, mengalihkan rasa takut yang selalu terbawa dalam diriku sebagai orang asing dan mencairkan rasa tertekan yang hampir selalu merundungku di lingkungan yang serba dingin itu; Rusia yang serba dingin dalam segala hal.

Mengapa Girov sedang makan semangka dalam cerita ini?” Tatiana tak mau kalah. Cerita “Wanita dengan Anjing” itu sedang dibongkar kulit hingga terbuka semua isinya lewat uraian Tatiana.

Apa yang ingin disampaikan Chekov dengan ini Richard?”

Suara yang menyebut namanya itu memenggal pesonanya yang lelah menenggelamkannya seperti kesurupan. Dia diam beberapa saat.

Dia memperlihatkan bahwa Girov agak kurang peduli pada … penderitaan Anna.”

Tatiana Ivanova tersenyum. Bahasa Rusia Richard nyaris sempurna.

Bagus, Richard. Sangat bagus. Kalian semuanya sebaiknya mengikuti Richard dan sesekali memikirkan apa yang kalian baca.”

Richard membalas senyumnya tanpa perasaan bangga. Tatiana menulis dengan cepat di papan tulis hingga seluruh tubuhnya ikut bergerak dan pantatnya yang setengah umur itu bergoyang.

Bagaimana mungkin kau bisa menjawab pertanyaan itu?” aku berbisik kepada Richard.

Hmm?”

Kamu bahkan tidak mendengar apa yang dikatakannya.”

Aku tak tahu,” sahut Richard dengan senyuman samar dan pandangan matanya kembali tertancap pada Tatiana; Tatiana yang kami semua tak pernah bisa memahaminya namun bagi Richard selalu merupakan godaan pesona yang memabukkan.

Apa yang bisa dipahami dari Chekov tentang kebudayaan borjuis di Rusia sebelum revolusi?” Tatiana meneruskan.

***

 

TIDAK berapa jauh dari institut tempat mahasiswa asing ada sebuah kafetaria. Tapi ngobrol gaya Eropa atau Amerika tak berarti di Moskow dan tak ada yang menyenangkan dari suasana kafetaria manapun di Rusia. Kopinya encer dan terlalu manis. Bakinya selalu basah. Tangan-tangan merah pelayan selalu menggosok formika pada meja dengan lap-lap yang berbusa oleh sabun. Uap-uap mengepul dari panci-panci raksasa di belakang meja panjang tempat melayani sekalian orang. Di meja kita selalu ada orang tak dikenal ikut duduk bersama. Satu sama lain tak ada yang saling memperhatikan. Pintu kafetaria itu selalu terbuka. Baju-baju berwarna gelap masuk. Meja-meja terus dilap. Sepatu-sepatu yang basah menutupi lantai dengan salju dan lumpur hingga membuat sungai kecil di lantai. Di sebuah kafetaria seperti itulah aku berkenalan dengan Volodya.

SUBWAY atau metro system di Moskow sangat bersih, penuh warna-warni dan mosaik. Di sana aku dapat mempelajari lebih banyak selera seni orang-orang Rusia. Aku sering bergantung dalam metro yang selalu ramai, terayun dan aku selalu sangat tertarik pada topi-topi mereka lebih daripada yang lain.

Ada perempuan yang memakai topi lebar putih, terbuat dari bulu dan mereka kelihatan seperti tetesan hujan salju dari dongeng “The Nutcracker Suite”. Beberapa orang memakai topi yang kelihatan seperti permadani terbuat dari benang-benang berwarna terang dengan bentuk yang tak berselera seperti yang orang Amerika lebih suka memakainya buat lantai di kamar mandi.

Yang paling sederhana memakai topi dari bulu kelinci berwarna gelap. Mereka memakai tutup telinga yang biasa dinaikkan dari topi kecil berpinggir bulu-bulu binatang seperti yang dipakai pelayan toko yang ikut model mutakhir sampai dengan bentuk yang paling kuno yang sudah jarang sekali terlihat, terbuat dari bulu-bulu berwarna gelap, mahal dan membuat kesan selalu dihormati.

Biarkan aku lewat.” Seorang perempuan tua bersuara kasar bilang kepadaku. Dia memandangku dari tumit hingga kepala berulang-ulang, ketika ia mau lewat ke luar pintu menjelang stasiun berikutnya. Dia menatap lama-lama kepada baju dinginku yang terbuat dari kain tebal dan bulu kelinci. Tetapi yang mengagetkan ialah sepatuku. Semua pakaianku bisa diterima. Tetapi sepatuku bagi semua orang Rusia terlalu jantan untuk dipakai seorang wanita. Perempuan itu memandangku tepat di wajahku.

Anak muda. Sepatumu sangat menjengkelkan.”

***

 

Di SEBUAH kafetaria di Paris. Beberapa minggu sesudah meninggalkan Moskow aku jatuh cinta dengan seorang lelaki Perancis. Tapi cintaku tak terbalas. Waktu itu aku lagi duduk dengan seorang lelaki lain, orang Amerika yang kutemui di stasiun kereta api. Kami saling bercerita tentang diri masing-masing tanpa perduli satu sama lain. Kami bersama-samahanya dua hari. Cerita saling dilemparkan dan tak ada yang saling menyambut.

Brandy itu sangat manis dan berwarna merah jambu. Warnanya melekat di pinggir gelas. Lelaki itu di seberang kamar. Memperhatikan dengan penuh minat apa yang dikatakan temannya. Ia tersenyum dan mengangguk. Rambutnya disisir lurus ke belakang. Wajahnya tampak gelap karena cahaya matahari dan aku membayangkan bahwa dia baru kembali dari Yugoslavia atau Yunani. Seluruh pakaiannya berwarna hitam dari sepatu sampai pakaian dalamnya kecuali kaus kakinya yang berwarna merah jambu. Sebenarnya kaus kakinya itulah yang membuat aku jadi tertarik kepadanya. Tetapi bagaimanapun aku pasti jatuh cinta padanya. Aku iri hati dan ingin mendapatkan perhatiannya seperti aku telah memperhatikannya.

Aku ingin membaringkan diriku di antara kedua lelaki itu dan menjadi pusat perhatian mereka. Tetapi sesudah begitu banyak bulan di Moskow di mana laki-laki adalah laki-laki dan wanita adalah wanita dan tidak pernah saling menyatukan dirinya dalam keakraban. Jadi yang menarik perhatianku tentang orang Perancis adalah pakaiannya yang seakan menyatukan jenis keduanya.

***

 

ORANG RUSIA yang duduk satu meja denganku mengatakan sesuatu. Aku menatapnya dan bertanya karena kaget.

Apa?”

Aku memang kaget. Sudah beberapa hari aku sakit dan terlambat sampai di kafetaria untuk ikut sarapan. Dan aku merasa sedikit pusing.

Ada yang bilang bahwa orang yang suka makan pelan-pelan adalah orang yang pikirannya hebat,” dia mengulang ucapannya sambil tersenyum. Matanya biru muda.

Oh, begitu?” jawabku bodoh. Aku melihat kembali ke meja dan berpaling.

Anda dari mana?” dia menatapku sambil bertanya. Rupanya kesan bahwa aku orang asing masih kentara.

Amerika.”

Amerika? Begitu jauh. Apa yang anda lakukan di sini?”

Belajar bahasa Rusia.”

Pantas, bahasa Rusiamu bagus sekali.”

Terimakasih,” sahutku masih dengan senyuman bodoh. Aku berpaling lagi darinya dan marah pada diri sendiri karena merasa begitu malu.

Aku tak pernah ke Amerika. Apa bedanya dengan Rusia?”

Kami mempunyai lebih banyak buah-buahan dan sayur-sayuran.”

Aku ingin menceritakan padanya. Hidup jauh lebih mudah dan para pelayannya jauh lebih sopan, persahabatannya lebih menyenangkan. Di sana juga lebih banyak surat kabar. Tak begitu menekan.

Di sini lebih dingin,” sahutku. Ia tertawa.

Apakah kau tak tahan dengan musim dingin di sini?”

Tidak, sama sekali tidak. Apakah kau memang bisa tahan?”

Kali ini aku menatap tepat di wajahnya. Kulitnya halus dan putih dengan tulang pipi yang lebar dan mulutnya bulat.

Sesungguhnya tidak. Kami hanya seperti kelihatan tahan.”

Senyumnya tampak menawan. Sering ia tersenyum begitu, sengaja atau kebetulan. Aku tak begitu yakin. Dia mengambil sepotong roti dan menyapu kuah di piringnya dengan roti itu. Ia makan penuh nafsu. Kejunya segera lenyap. Ia menyapukan mentega di rotinya. Dia membuka bibirnya, minum kopi yang encer itu. Laki-laki jarang tahu kalau ia sedang diperhatikan oleh perempuan. Mereka menyangka diri serba tahan dan aman. Matanya tertutup ketika ia minum. Dia menarik sebagai orang Rusia. Tak ada kesan ia kurang yakin. Bagi lelaki Rusia, wanita tidak menakutkan. Peran lelaki dan wanita begitu jelas bedanya. Sikapnya mengayomi wanita meskipun orangnya tampak kecil, tapi seakan ia mampu melindungi.

Sekarang piringnya sudah kosong dan ia membersihkan mulutnya.

Namaku volodya,” katanya. “Siapa namamu?”

Laura.”

Dengan agak malu-malu ia mencoba mengucapkan namaku. Ia nampak sulit mengucapkan huruf L, seperti L dalam bahasa Rusia saja. Aku mengangguk. Ia mencoba sekali lagi dengan penuh keyakinan.

Seperti mengucapkan Lara, ya?”

Ya.”

Ia kembali tersenyum, sedikit berat lidahnya di hadapan orang asing.

Senyummu manis sekali, Lara,” katanya.

Ucapan itu menyadarkanku kembali tentang negeriku. Aku orang Amerika, kataku pada diri sendiri. Aku bukan Lara. Aku mau mengatakan sejelas-jelasnya kepadanya, seperti aku sering mengatakan pada lelaki, supaya jangan salah mengerti bahwa kalau aku bersuara lembut itu bukan berarti aku kurang percaya pada diri sendiri dan kalau aku baik hati jangan melihat itu sebagai kelemahan.

Sekarang ia menceritakan negeriku.

Tidak, tidak. Harga tidak begitu tinggi di Amerika,” aku menjelaskan.

Maksudmu, tak ada inflasi di sana?”

Tentu saja ada inflasi. Tapi tidak seburuk yang diberitakan di koran-koran Rusia ini.”

Ia mengangguk tersenyum dan aku pikir ia hanya pura-pura setuju untuk menyenangkanku. Aku melihat jam tanganku. Kami telah mengobrol hampir setengah jam.

Apakah kau akan pergi sekarang,” ia bertanya.

Ya.”

Di mana kau belajar?”

Di Institut Pushkin. Apakah kau tahu di mana tempatnya?”

Ya. Tempatnya tidak lebih jauh dari tempatku kerja.”

Kau kerja di mana?”

Departemen Perdagangan.”

Oh.”

Aku menatapnya dengan lebih teliti dan merasa ingin tahu jabatannya. Aku sadar bahwa ia sangat berbeda dengan teman Rusiaku yang lain, yang kebanyakan ingin pergi merantau untuk menetap di luar negeri. Aku ingin tahu kalau ia anggota Partai Komunis.

Jalan Shuseva bukan?” tanya Volodya.”Aku bisa mengantarkanmu setengah jalan.”

Jalan dekat pintu sangat licin dan aku masih agak pusing setelah beberapa hari terbaring di tempat tidur. Mungkin itu sebabnya mengapa aku merasa tak begitu terganggu ketika tangannya memegang punggungku waktu ia membantuku keluar pintu.

***

Setelah beberapa bulan di Rusia aku mulai bermimpi. Bahwa segalanya sudah diletakkan dalam dunia yang penuh kotak-kotak. Satu kotak dibatasi dengan garis hitam yang jelas dengan kotak lainnya. Tak ada yang boleh pindah dari kotaknya masing-masing. Koran pun demikian.

Dalam mimpiku itu terlihat, semuanya ditutupi dengan semacam kain dan benang-benang jarang hingga kotak-kotak itu seakan dibikin dari benag-benang halus. Terkadang muncul pemandangan, lantas berlalu perlahan. Tetapi ketika aku melihatnya lebih jelas aku melihat garis itu semakin samar. Sering sekali aku mencoba menangkap garis-garis itu tetapi ketika aku hendak memegangnya garis itu menghilang, bergerak liar seperti belut dalam air.

Volodya dan aku berjalan ke arah jalan Shuseva. Kami berdua hampir sama tinggi dan pasti kelihatan mirip dengan pakaian kami yang hitam dan topi yang terbuat dari bulu binatang berwarna gelap. Waktu itu tengah hari dan jalan sepi. Sementara itu kami berjalan melalui salju sedalam mata kaki. Volodya bicara tentang teater dan menanyakan kalau aku ingin ikut dia nonton, kapan-kapan.

Ya,” kataku, “ingin.”

Dia menceritakan tentang sebuah drama baru oleh Vampilov.

Aku merasa mulai lemah. Meskipun aku mencoba konsentrasi mendengar ucapannya, tapi aku tak bisa. Aku rasa sakit dan lebih sakit lagi dan sama sekali tak memperhatikan lagi segala ucapannya.

Volodya,” aku memotong.

Ya?” Dia menghadapiku dengan senyuman mempesona. Tetapi kali ini tak berpengaruh apa-apa terhadapku.

Aku merasa sakit. Aku harus duduk di suatu tempat.”

Volodya tampak mengerutkan keningnya menatapku. Ia kelihatan begitu peduli. “Kau sakit?”

Sedikit.”

Aku memandang ke sekeliling. Kami berada tak begitu jauh dari pusat kota Moskow, tempat yang terlalu sulit untuk sakit atau mencari tempat duduk. Dekat kami ada kotak setinggi 30 senti dan aku duduk di pinggirnya. Karena merasa panas, aku membuka topiku.

Ayo, ayo,” kata Volodya. “Kau tak boleh duduk di sini,” katanya lagi agak mendesak.

Orang-orang melihat.”

Tampaknya orang Rusia merasa takut berada di antara orang banyak dan diperhatikan. Ia tampak sangat terganggu. Aku menarik napas panjang mencoba berdiri.

Volodya memegang tanganku dan membawaku ke taman yang terdekat, sebuah taman yang putih ditutup salju dan kosong, jauh dari pinggir jalan. Dia membersihkan bagku yang bersalju dan kami duduk.

Pohon-pohon tampak saling membongkok bagaikan gadis-gadis remaja saling berbisik tentang hal-hal yang rahasia. Kami saling bergenggaman tangan meski pun sama-sama memakai sarung tangan yang tebal, dan kami menonton salju-salju berjatuhan.

Atap-atap rumah tampak berkilauan. Para pembersih salju di jalan terus bekerja tanpa henti dengan memakai skop, mengikis sakju dari trotoar. Salju terbang bertaburan ke segala penjuru.

Dahan-dahan pepohonan berselimut putih, bertabrakan oleh angin, bunyinya seperti gelas-gelas bersentuhan di ruang makan yang sangat sepi. Udara dengan butir-butir salju seperti gula pasir, tampak seperti kristal-kristal dalam tempaan cahaya.

Aku merasa diriku sebagian dari pemandangan itu. Begitu rapuh dan memerlukan perawatan. Aku sering sakit, suka pingsan dan sering merasa lemah. Aku tersenyum karena malu. Mukaku terasa merah dan sebentar dingin lagi. Aku sudah berubah menjadi tokoh dalam sebuah novel. Aku sudahmenjadi semua wanita Rusia dalam kisah-kisah yang pernah aku baca. Sementara itu aku menjadi segala-galanya yang diharapkan Volodya dan karena itu ia mendapatkan apa yang dicarinya, dia jadi begitu bahagia. Dia melihat kepalaku yang tanpa topi hingga ia juga membuka topinya. Tapi ia langsung kedinginan. Aku menyuruhnya memakai topinya lagi.

Kau pasti kedinginan.”

Dan kau juga,” sahut Volodya.

Tidak. Aku merasa hangat.”

Kau sudah lama sakit?”

Hanya beberapa hari.”

Sebaiknya kau ke dokter.”

Aku kira, aku tak akan apa-apa.”

Ia menggelengkan kepalanya.

Wanita Amerika. Kalian semua mengira, kalian semua kuat. Dan aku tak tahu apakah aku bisa mempercayainya.”

Aku membalas senyumannya. Aku marah pada diri sendiri karena tergantung pada senyum itu untuk menyelamatkan diri dari kemarahannya. Kami saling bertatapan. Dia membersihkan salju dari rambutku.

Aku akan membeli karcis teater itu,” ia memberitahu. “Bagaimana aku bisa menghubungimu. Apakah kau punya telepon?”

Tidak. Aku harus menghubungimu dari telepon umum.”

Dia mulai mencabik kertas dari buku catatan pena sambil menunggu ia memberitahu nomor teleponnya. Dia mengambil kertas dan pena itu.

Aku dapat menulis lebih cepat dari kamu,” katanya dan menulis namanya sendiri. Tapi dia lupa menuliskan nama keluarganya di ujung namanya. Tulisannya sangat rapi, seperti ia menulis untuk anak kecil.

Telepon aku hari Selasa. Pasti aku sudah dapat karcisnya.”

Baik, aku berjanji.”

Tetapi aku tak yakin bahwa aku akan menelponnya.

Aku harus pergi sekarang,” kataku sesaat kemudian.

Dia melihat kepadaku sangat serius.

Aku akan menunggu panggilanmu,” katanya. Aku mengangguk.

Sampai jumpa Laura kecil.”

Aku merasa muka jadi merah.

Sampai jumpa Volodya.”

***

Operator telepon itu memaksaku mengulangi beberapa kali Kirsenov dan mengejanya. Aku meneleponnya atas permintaan saudaranya di New York. Operator itu menanyaiku beberapa pertanyaan dan aku menjawabnya sebaik mungkin dengan bahasa Rusiaku yang kurang lancar.

Akhirnya operator itu memotong dan mengatakan mereka tidak punya telepon.

Apakah anda yakin?” Aku mengulangi bertanya. Saudaranya di Amerika sangat yakin mereka punya telepon.

Sangat yakin,” sahut operator itu dan memutuskan hubungan.

Suatu sore di seberang kota, sesudah berjam-jam mencarinya, aku menemukan flat Kirsenov itu.

Aku pasti datang lebih cepat kalau anda mempunyai telepon …” Aku mulai menjelaskan.

Tapi kami sudah lama punya telepon. Kami sudah bertahun-tahun punya telepon.”

***

Beberapa minggu setelah meninggalkan Moskow aku berada di Indiana. Aku bagaikan bermimpi di lautan warna-warni hijau di tengah-tengah negeriku tercinta. Bahuku menjadi gelap di tempat yang terbuka dan rata itu. Aku menyegarkan diriku dengan keasyikan berenang sepanjang hari. Tetapi malam ketika pohon-pohon di luar jendelaku bergerakresah dan kabut biru kehijauan aku kembali ke Moskow lewat mimpi yang kaleidoskopik. Gambarnya selalu berubah dan kabur.

Ruangan-ruangan lapangan terbang dan kereta api selalu menandai mulanya mimpi itu. Dan dalam mimpi buruk yang hitam dan abu-abu itu, aku selalu berdiri menunggu berbaris,terlambat dapat bus, hilang atau tersesat di jalan, mencari tempat masuk yang benar, dan selalu salah, selalu menanyakan arah berulang-ulang, mengisi telepon umum dengan uang-uang kopek dalam jumlah yang sudah tak terhitung lagi, mengacaukan tata bahasa Rusia, bersikap slah dalam tata cara sehari-hari, kehilangan domptku, .. lupa namaku.

Tetapi pada pagi hari yang sudah mulai panas hingga mataku berkedip, gambar-gambar dari mimpi itu menjadi satu, kemudian lenyap menghilang.

Di salah satu stasiun metro di Moskow aku menuruni eskalator yang paling panjang di dunia. Di bawahku, di tangga yang sama, ada seorang lelaki berwajah gelap, berkulit gelap, berjenggot. Ia berpaling melihat ke belakang dan ke atas melihat padaku, agak lama. Kulihat di sekeliling memang dia tidak menatap orang lain, hanya aku. Dan dia tetap begitu. Aku pura-pura tidak peduli. Dia tetap menatapku. Aku tunggu dari eskalator itu dan buru-buru pergi ke tempat menunggu kereta. Dia juga. Aku menunggu kereta sementara ia berjalan berputar-putar di sekitarku dan kadang-kadang memandangku. Kereta datang. Aku membiarkannya lewat. Dan satu lagi yang berikutnya. Sialan. Orang itu masih lewat. Aku punya janji dengan seorang teman Rusia dan aku berusaha agar tidak diikuti.

***

Akhirnya aku jadi marah, persis seperti orang Amerika. Mengapa seseorang ingin mengawasiku? Bagaimana mungkin aku ini begitu penting? Dari ratusan mahasiswa-mahasiswa asing di Moskow dan pedagang-pedagang dan turis-turis?

Aku berbalik dan melihat langsung kepadanya. Dia pura-pura tidak memperhatikanku. Aku menatapnya. Dia kelihatan agak kaget, kemudian tersenyum dan mendekatiku. Katanya, “Anda darimana?”

Kanada,” aku berbohong.

Oh, benar?” Itu menarik sekali. Aku tidak dapat membacanya dari wajahmu.”

Aku diam. Aku ingin mengatakan padanya agar dia membiarkan aku sendirian. Tetapi itu satu kalimat yang hampir-hampir tidak pernah kedengaran di Rusia. Waktu aku baru di Moskow ada yang menasehati; kau harus belajar bagaimana sendirian di tempat yang asing dan ramai.

Kau mau pergi ke arah mana?” Aku bertanya.

Tidak ke manapun,” sahutnya.

Dia memiringkan kepalanya seakan mau bertanya tetapi kemudian dia membalik dan pergi menjauhiku. Kami berdua berputar-putar di tempat itu, sementara kereta api tetap datang dan pergi. Akhirnya dia menghilang di tempat ramai. Aku pulang. Terlalu takut untuk meneruskan perjalanan ke rumah temanku itu.

Tiga hari berikutnya aku sedang berlari masuk gedung institut, terlambat hadir di kelas seperti biasa, ketika akumelihat lelaki berjenggot itu lagi. Dia sedang berdiri di bawah bayangan gelap dekat pintu masuk gedung lain.

***

Moskow, 8 Maret

David sayang,

aku sangat senang menerima suratmu yang terakhir itu. Surat itu datang pada saat aku merasa capek dan dingin, marah sama si Rusia ini dan merasa sangat jauh dari negeriku. Aku rindu kau dan aku sering memikirkanmu. Tapi aku kira risiko itu lebih kuambil daripada akhirnya kita saling terikat hanya karena takut kehilangan.

Apakah kau tidak berpikir begitu juga?

Oh, omong-omong saja ya. Jangan kuatir tentang Richard. Ia benci.

***

Di sebuah telepon umum di pinggir jalan aku memegang banyak uang logam dan telepon itu sering salah sambung dan putus sebelum aku sampai dapat sambungan yang benar. Seorang perempuan menjawab dan membalas pertanyaanku:

Volodya siapa? Apakah anda tak tahu nama keluarganya?”

Aku ragu-ragu dan kemudian mmutuskan. Apakah dia sengaja memberi aku nomor telepon yang salah? Apakah perempuan itu kenal bahwa aku orang asing dan ia ingin tahu lebih dulu tentang diriku?

Tak ada lagi yang dapat kukerjakan selain dari itu. Sesudah beberapa minggu aku memutuskan tidak ada harapan lagi untuk meghubungi Volodya itu dan aku tidak mengharap bisa bertemu dia kembali.

Aku menyimpan dalam pikiranku, pertemuan dengan dia sebagai kenangan aneh dan tak masuk akal, seperti yang sering terjadi selama aku di Moskow.

***

Moskow, 12 April

David sayang,

Makin lama aku di sini, aku makin bingung. Aku berharap dapat pengertian dan penjelasan tentang Uni Soviet dan berharap, tolol, bahwa ketika aku pulang aku dapat membicarakan Uni Soviet dan menjelaskannya kepada orang-orang lain. Tentu saja aku banyak belajar. Tetapi aku merasa seperti aku sedang mengupas kulit luar dari sebutir bawang; lapisan yang paling tipis dan transparan.

Beberapa malam lalu aku makan malam dengan beberapa orang Rusia dan Amerika, termasuk Richard. Kami semua berumur 20-an dan semua orang Rusia itu begitu bebas dan menyenangi Amerika. Seperti biasa kami mulai membandingkan Amerika Serikat dan Uni Soviet dan percakapan terjadi antara Richard dengan seorang lelaki Rusia bernama Sasha.

Akhirnya Sasha mengatakan, “Dengarlah, apa yang akan terjadi kalau kau kerja di Amerika dan datang terlambat?”

Tidak apa-apa. Hanya ditegur saja,” Richard menjawab.

Dan kalau kamu sering datang terlambat?” Sasha meneruskan, “dan kadang-kadang tidak masuk sama sekali?”

Aku pasti diberhentikan,” sahut Richard.

Kalau kau di sini, kau tidak diberhentikan. Atau kalau kau diberhentikan, pemerintah pasti mencarikan kerja lain secepat mungkin.” Sasha tersenyum. “Jadi di negeri yang mana manusia lebih bebas?”

Kau mengerti maksudku? Sasha itu hanya bercanda. Tetapi, aku pikir ini semua tergantung dari pihak seseorangdan kadang-kadang aku merasa seperti sudah lupa di mana sebenarnya aku berpihak.

***

Sekali jadi pembangkang, tetap jadi pembangkang,” kata Richard.

Jangan begitu,” kataku padanya dan mulai memasukkan mie ke dalam air yang sedang direbus. Asrama itu hanya menyediakan empat kompor untuk 50 orang.

Belum, belum,” Richard memegang tanganku. “Air itu harus mendidih lebih dahulu.” Dia mengambil bungkus mie itu dan meletakkannya kembali di atas meja.

Ya Tuhan,” aku mengeluh. “Dan bagaimanapun aku tak bermaksud melucu tadinya. Aku pikir sungguh-sungguh begitu.”

Pikir apa?” Aku melihat air itu mulai mendidih.

Bahwa orang yang mengeluh kehidupan di sini pasti juga menjadi radikal dan mengeluh di mana saja mereka berada. Kalau tidak mengeluh soal ekonomi negerinya tentu mengeluh soal politik.”

Sungguh kau pikir begitu?”

Ya.”

Kalau begitu, soal menjadi pembangkang hanya soal kejiwaan?”

Sekarang air itu sudah menguap. Ia tak membalas pertanyaanku dan hanya memasukkan mie itu ke dalam didih air.

***

Beberapa minggu setelah aku mencoba menelepon Volodya, dia muncul lagi di kafetaria itu. Dia duduk di meja yang sama. Tapi kali ini dengan tiga lelaki lain. Aku berhenti di mejanya sebelum aku menuju ke tempat teman Amerikaku duduk. Dan aku hanya memikirkan, bagaimana sedihnya perasaanku ketika aku tak bisa menghubunginya.

Volodya. Aku mencoba meneleponmu. Tapi tak sampai. Maaf, ya?”

Dia tidak melihat kepadaku. Kulitnya memerah dan dia tetap melihat pada meja. Setengah berbisik dia mengatakan, “aku akan menunggumu di luar.” Aku berdiri sesaat lagi, kemudian cepat berlalu.

***

Headline berita, intervensi Amerika di Guatemala. Headline berita, intervensi Amerika di San Salvador. Headline berita, imperialisme Amerika di Amerika Selatan. Headline berita, intervensi Amerika di Filipina. Headline berita, perasaan anti Amerika berkembang di Timur Tengah. Headline berita, kamerad Brezhnev diterima dengan baik di India.

Ketika kami semua meninggalkan kafe itu menuju sekolah, aku kaget sekali melihat Volodya berdiri di luar kafe itu. Dia telah menunggu begitu lama selama aku mendengar teman-temanku ngobrol dan pura-pura makan. Sekarang aku bingung. Tapi aku kira, karena sikapnya seakan dia tidak mau berbicara dengan aku. Dia bicara dan tersenyum seperti tak terjadi apa-apa.

Hello,” kataku tanpa bisa tersenyum.

Aku menunggu sepanjang sore itu,” katanya sambil memegang tanganku. “dan juga sore berikutnya.”

Dia berhenti dan berdiri menghadapku di tengah trotoar.

Dan ketika kau tidak menelepon, aku begitu kecewa. Aku tak pernah menonton teater itu. Aku menghabiskan sore itu di rumah dengan dua karcis yang sudah kubeli,” katanya lagi.

Aku sudah coba menelepon. Aku tak tahu apa yang sesungguhnya terjadi. Teleon di sini sangat …” Bagaimana cara mengatakan kacau dalam bahasa Rusia … ? “Sulit. Aku sungguh-sungguh ingin pergi dengan kau.”

Dia kelihatan sangat senang mendengar ucapanku.

Bagaimana kesehatanmu?”

Oh, baik-baik saja. Sangat sehat.”

Kau harus jaga diri lebih baik,” katanya. Ia melihat kepadaku. “Sebaiknya kau pakai topimu hari ini.”

Di satu sudut dekat perempatan institut dia berhenti.

Aku harus pergi ke jurusan lain. Departemenku di arah itu.” Dia menunjuk ke arah jalan Hertzen.

Aku mau tahu kalau arahnya memang ke sana ataukah dia hanya tidak mau kelihatan bersama orang Amerika di tempat umum.

Kau harus meneleponku,” katanya, “Aku akan menunggu.”

Aku akan mencoba. Tapi bagaimana kalau tak bisa sambung?”

Nama keluargaku adalah Ivanov,” ia menambahkan. “Coba kau ulangi,” katanya lagi.

Aku menatapnya agak curiga.

Aku hanya ingin kau mengerti nama itu.”

Aku kira dia mengira aku sangat bodoh. Ivanov di Rusia seperti John di Amerika. Nama itu sangat sering terdengar. Aku mengulangi namanya dan dia tersenyum.

Persis seperti perempuan Rusia. Kalau begitu kau pasti akan menghubungiku,” katanya.

Ia memegang pipiku dengan tangan bersarung dan berbalik. Aku berjalan ke sekolah dengan pikiran kacau. Di kantongku ada banyak uang logam.

Moskow, 28 April

David sayang,

Aku ingin kau menulis surat lebih sering kepadaku.

***

Di seberang kolam Moskow yang sangat luas dan kelihatan dari jauh karena uapnya, ada museum seni Pushkin. Di sana selalu ramai dan orang-orang harus menunggu dan berbaris di depannya cukup lama karena di sana selalu ada pameran dari seni barat. Aku menunggu di luar satu jam lebih hingga kakiku kejang kedinginan tetapi ketika aku dibiarkan masuk, aku heran karena pengaruh lukisan-lukisan itu membuat aku merasa seperti mandi dalam air hangat atau membaca buku yang paling menyenangkan. Renoir, Rembrandt, Manet, Courbet, Cezanne, Veronese, Botticelli. Seperti reuni saja laiknya. Aku tinggal berjam-jam di sana, memanjakan diri menikmati kekayaan seni dari barat.

Hari mulai larut dan aku mulai sadar bahwa laki-laki ini yang pernah hidup pada masa yang berbeda di negeri yang lain, jauh lebih mudah kupahami daripada orang-orang Rusia yang berdiri di sekelilingku, yang menebarkan salju di seluruh lantai.

Dengan jari tangan yang sangat dingin aku mencari nomor telepon Volodya di buku alamatku. Hari sudah mau malam. Matahari mulai tenggelam. Di horison masih terlihat garis sinar berwarna kemerahan. Aku memasukkan logam ke dalam kotak telepon dan mulai memutar nomornya ketika aku mencoba membayangkan wajahnya. Tetapi bayangan yang kubayangkan kenyataannya seperti lukisan kubisme; tulang pipi yang khas Eropa Utara, seperti lapis-lapis dengan bagian-bagian kulit yang pucat dan rambut berwarna muda. Bagaikan lukisan di mana hitam putih dipermainkan hingga kontrasnya sangat terang. Jidatnya yang sangat putih di atas pelipisnya yang dalam. Aku kira jauh lebih gampang aku menjadi pacar Cezanne daripada Volodya. Aku merobek halaman dimana nomor teleponnya terlukis dalam buku catatanku dan membuangnya.

Malam sudah jatuh menutupi pepohonan dan padang-padang di Moskow. Aku membayangkan Volodya duduk di sebuah kamar kecil; cahaya yang menghilang membuat wajahnya menjadi abu-abu kebiruan, remang-remang gelap dan kemudian hitam. Aku tak akan pernah mengerti negeri ini; aku tak akan pernah merasa menjadi bagiannya. Aku berjalan kencang sampai aku menakutkan segerombolan gagak-gagak. Gagak-gagak itu berterbangan, menjerit, menjadi titik-titik hitam di langit.

***

Salah satu mimpi yang aku dapatkan setelah kembali ke Amerika sangat lain dari yang lain. Bukan mimpi buruk. Tapi hanya pemandangan salju yang datangnya pada bulan Agustus yang panas; dan terasa sangat aneh untuk bermimpi tentang salju di musim panas.

***

Hujan salju terus turun dari saat pertama aku tiba di Moskow. Salju bertumpukan bagaikan lapisan kertas-kertas bon yang belum dibayar. Salju itu mencair menjadi lumpur. Dan ketika aku mulai berpikir bahwa kota itu terlalu kasar dan kotor, salju itu kembali menutupi noda-noda mengisi keretakan-keretakan yang membuat segalanya menjadi rata kembali. Kadang-kadang salju itu memberat menjadi seperti sebuah kerangkeng. Bunyi-bunyi genertap, gema terperangkap. Salju itu mendiamkan segala keluhan, diam tetapi terasa menderas. Pasif tetapi memiliki ketekunan. Kalau aku ingat Moskow, yang pasti aku teringat saljunya, bayangan yang tak bisa dihapuskan, tak terlupakan, seperti wajah seseorang yang tak bisa dihapuskan, tak terlupakan, seperti wajah seseorang yang nyaris jadi kekasihku, tetapi tak kesampaian.

***

Di gereja St. Nikolas dekat Lagrande Piace di Brussels segalanya terasa besar, berat, dan serba bergaya Romawi. Kayu gelap yang diukir, batu-batu berwarna abu-abu. Cahaya siang hari yang penuh bayangan hujan seperti disaring melalui jendela-jendela yang bergambar lila dan hijau jeruk.

Aku duduk di salah satu bangku yang tak enak diduduki dan merasa rindu gereja-gereja Rusia yang beratap lengkung seperti masjid, di luanya kelihatan tak terpelihara tetapi di dalamnya penuh ikon-ikon berwarna emas dan merah. Ruangan tengahnya kosong, hanya diisi dengan asap kemenyan. Wanita-wanita tua memakai selendang hitam, buruh-buruh melintasi jalanan penuh salju mengejar misa sore hari. Mereka membakar lilin merah lantas membuat salib di dada, berdiri berjam-jam dalam asap berbau wangi, bernyanyi dengan suara gemetaran.

Di sini, di Eropa Utara, gerejanya gelap, penuh ukiran serba rumit dan sepi. Orang-orang datang dan pergi memakai jas dan baju hujan berwarna krem. Mereka membakar lilin putih, berdoa sesaat lantas berlalu.

Di gereja katolik selalu ada tempat mengaku dosa dan ada tanda yang mengatakan bahwa pendeta yang berada di sana dapat mengerti bahasa Jerman, Itali, Perancis, dan Belanda.

***

Seorang lelaki yang memakai baju dingin potongan Inggris berjalan melewatiku. Kulitnya sangat putih dan orangnya gagah. Aku hanya melihatnya selintas tetapi tiba-tiba aku teringat Moskow, teringat pada Volodya dan taman yang penuh salju di mana pohon-pohon adalah bayangan hitam. Kenangan ini kembali kepadaku bagaikan banjir, terasa lagi sentuhan tangannya yang terbalut sarung tangan, terlihat lagi bayangan tulang pipinya yang gelap itu. Namaku disalahucapkan. Dan aku teringat warna biru, birunya langit yang selalu mengejutkan kalbu seperti sesekali muncul dalam musim dingin yang biasanya berlangit kusam keabuan.

Aku ingin mengangkat tubuhku ke dalam telapak tanganku sendiri, dan pergi menemui seorang pendeta tua.

Aku ingin berlutut di atas batu keras dan menekankan jidatku di atas batu granit dingin sambil berdongeng kepadanya dan memohon maaf dari kerut wajahnya yang bagaikan ukiran logam karya Durer.

Ya, aku ingin meminta pengampunan bagi dosa-dosa yang tak pernah kulakukan.

***

 

Catatan:

Sumber: Majalah Horison No.8 tahun 1983. Diterjemahkan oleh Margaret G. Agusta

Cerpen ini merupakan karya pertama Hedy Kalikoff yang dipublikasikan, dan memenangkan sayembara penulisan fiksi yang diselenggarakan majalah Mademoiselle’s pada 1982. Saat itu usianya 24 tahun, mendapatkan gelar sarjana muda dari Connecticut College, AS, dan sempat mengikuti kuliah bahasa dan kebudayaan Rusia di Moskow selama satu semester.

Written by jojoba

November 18, 2007 at 1:38 pm

Ditulis dalam Cerpen, Susastra

Tagged with , , , , ,

W.S. Rendra: Maqam Mereka Masih Viagra

leave a comment »

Penyair besar berjuluk Burung Merak itu memasuki usia 72 tahun. Suaranya tak lagi selalu menggelegar, tapi karismanya masih membayang. Ketika berbicara, kutipan ayat suci kerap mengalir dengan pengucapan puitis dari mulutnya. Beberapa teman lama dan kerabat menyambanginya pada hari ulang tahun, Rabu pekan lalu, untuk mengucap tahniah. Sehari-hari Rendra kini menyibukkan diri dengan membaca teks sejarah–kegiatan yang sudah dilakukannya dalam beberapa tahun terakhir. Berbagai bacaan ia lahap tanpa batas, mulai dari asal mula buah-buahan dan tanaman pangan yang sekarang lazim ditemui di Indonesia sampai periode kejayaan dan keruntuhan kerajaan-kerajaan Nusantara.

Seniman yang kenyang masuk tahanan di masa Orde Lama dan Orde Baru itu tak lagi terlalu produktif berteater. Pentas teater terakhirnya adalah Sobrat, yang berlangsung di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, dua tahun lalu. Tapi ia masih sering diundang berorasi, berbicara, dan sesekali membaca puisi di berbagai daerah.

Seperti para leluhur yang, menurutnya, tak hanya pandai menyerap tapi juga mahir mengolah, Rendra masih mengikuti dan menganalisis berbagai peristiwa yang terjadi di Tanah Air. Di padepokannya yang luas dan asri di Cipayung Jaya, Depok, Jawa Barat, ia menuturkan berbagai soal, mulai dari sastra, fundamentalisme agama, sampai spiritualitas kepada Nugroho Dewanto, Seno Joko Suyono, dan Anton Septian dari Tempo. Berikut nukilannya.

(Keterangan: T=Tempo; R=Rendra)

T: Apakah Anda masih mengikuti perkembangan dunia sastra kita?

R: Saya rutin mengikuti dengan membaca rubrik sastra dan puisi di Koran Tempo dan Kompas yang saya langgani. Siapa saja sastrawan muda kita yang menurut Anda cukup menonjol? Salah satunya Nenden Lilis. Sebagai lirikus, makin lama dia makin matang. Dia sudah pentas di Eropa. Juga Joko Pinurbo dan banyak lagi yang lain.

 

T: Ada kritik, seperti disampaikan penyair Taufiq Ismail, bahwa dunia sastra kita belakangan tergelincir kepada erotisme. Bahkan ia menyebut ada Gerakan Syahwat Merdeka dan Fiksi Aliran Kelamin dalam dunia sastra kita?

R: Erotika bukan hal baru dalam dunia sastra kita. Sudah ada sejak zaman Centhini, juga dalam cerita-cerita carangan seperti Sembodro Larung dan Pergiwo-Pergiwati. Wah, itu erotikanya indah. Erotika itu penting untuk kesehatan badan dan gairah pemikiran. Berbeda dengan malaikat, kita itu dilahirkan dengan hormon-hormon yang menimbulkan nafsu. Kita diciptakan Allah dengan hormon semacam itu yang perlu peremajaan. Menurut agama saya yaitu Islam, erotika dan seksualita itu boleh. Islam itu bukan agama yang aseksual. Yang dilarang itu adalah perzinaan. Erotika itu bagus untuk menjaga kebugaran. Jadi erotika tidak untuk diredam.

 

T: Sudah seberapa gawat sesungguhnya dunia sastra kita sehingga ada yang merasa harus melarang sastra yang menonjolkan erotika?

R: Ah, enggak gawat. Zaman sekarang apresiasi terhadap tubuh semakin terbuka. Orang semakin banyak pakai bikini. Kita yang harus menahan diri.

 

T: Beberapa novelis seperti Ayu Utami dan Jenar Mahesa Ayu dinilai vulgar karena menonjolkan adegan persenggamaan secara terperinci, bagaimana menurut Anda?

R: Gerakan anti-erotika memang agak galak sekarang ini. Saya kira itu salah kaprah dalam soal me-manage nafsu. Mereka bukan mengendalikan nafsunya tapi malah melarang-larang orang lain. Seperti orang mengatakan jangan terlalu banyak makan gula, bikin gemuk. Jangan terlalu banyak makan lemak nanti kolesterol. Mestinya dia menahan diri, bukan mengatakan daging atau makanan bergula harus dilarang. Itu menunjukkan perasaan suudzhon dan zalim karena melarang sesuatu yang tak dilarang oleh agama.

 

T: Menurut Anda, karya mereka tidak vulgar?

R: Dengan sikap seperti itu, orang yang menganggap vulgar sesungguhnya dia sendiri sangat vulgar. Meremehkan naluri manusia. Meremehkan sunatullah.

 

T: Mereka sendiri tak bisa menahan diri?

R: Mereka tidak bisa me-manage diri sendiri, menyalahkan orang lain. Buruk muka cermin dibelah.

 

T: Kenapa gerakan anti-erotika sekarang begitu kencang?

R: Mereka itu orang yang beragama untuk politik. Mereka merasa memonopoli kebenaran dan kesucian. Mereka memperkenankan dirinya melakukan kekerasan dan kezaliman kepada orang lain.

 

T: Anda percaya ada karya sastra yang sengaja untuk merangsang berahi?

R: Memang ada yang sengaja mengeksploitasi seksualitas untuk merangsang pancaindra, itu saya sebut picisan. Mereka hanya merangsang sensasi. Seperti pembacaan puisi yang mengandung sensasi, membawakan diri dengan sensasional. Tidak ada hubungan dengan puisi, sekadar gimmick.

 

T: Padahal kesadaran manusia tak cuma pancaindra?

R: Kesadaran manusia itu adalah kesadaran pancaindra, kesadaran naluri, dan kesadaran batin atau rohani. Pada tingkat tertentu, intensitas penghayatan rohani yang bertemu dengan naluri dan pikiran, tiga-tiganya bila bersatu dengan intens sering muncul imaji erotik seperti yang terdapat pada candi. Rasa menyatunya diri dengan alam.

 

T: Artinya, itu semua alamiah?

R: Iya. Orang Jawa mengatakan greget. Puncak dari greget kadang-kadang adalah erotik. Kelenjar-kelenjar adrenalin menjadi somatik. Gagasan, buah pikiran yang turun ke kalbu lalu bertemu gairah hidup itu somatik, membangkitkan air mata. Kadang-kadang bisa membuat kita menari atau menulis syair sambil menangis. Saya sering seperti itu. Bukan cengeng. Lalu sambil gemetar. Somatik. Kelenjar-kelenjar bergeletar. Sebab di dalam kelenjar-kelenjar itu terdapat melodi. Kalau jantung berdetak, dia berirama. Jadi, pada waktu buah pikiran turun ke kalbu, pertemuan itu intens, dia membutuhkan bentuk. Apalagi waktu bertemu naluri, dia butuh irama. Itu melodi. Dalam intensitas seperti itu muncul imaji-imaji erotik.

 

T: Anda mengalaminya juga ketika berkarya?

R: Waktu saya menulis Suto Mencari Bapak, itu melahirkan imaji persetubuhan. Saya kira seperti itu juga yang terjadi pada relief-relief di Candi Cetho dan Candi Sukuh. Atau dalam cerita Bimasraya. Itu tak ada hubungannya dengan sekadar pornografi.

 

T: Dan itu semua bukan sekadar syahwat?

R: Itu bukan syahwat. Itu kelenjar. Itu greget. Kalau sekadar syahwat itu maqam-nya obat kuat, maqam-nya masih Viagra. Sayang sekali, penghayatan akan kehidupan dan bersatu dengan alam itu hanya terbatas sampai pergaulan Viagra. Mereka kurang mendalam, jadi tak perlu ditanggapi secara berlebih-lebihan. Urusannya dengan majalah picisan saja.

 

T: Apakah gerakan anti-erotika juga ada dalam sejarah di Jawa?

R: Tidak ada. Cuma ada sekarang. Kebudayaan kita itu matang dalam menangani erotika. Tidak melihat kerbau perempuan terus berahi. Kalau itu sudah penyakit jiwa modern. Kita tidak cuma menyerap, tapi juga mengolah.

 

T: Apa maksudnya matang dalam menangani erotika?

R: Artinya, tidak mudah terangsang. Kita bisa me-manage nafsu. Melihat Ratu Ken Dedes, orang berkomentar, “Wah, payudaranya masih bagus.” Itu maksudnya Ken Dedes masih sehat. Bukan berarti, “Aku pengen dia.” Seperti orang lihat kembang bagus, terus ingin memetik. Orang yang begitu-begitu tidak siap beragama. Kurang beriman. Sibuk menyalahkan dunia. Mengaitkan agama dengan kekuasaan atas kebenaran. Sangat tidak Islamiyah.

 

T: Bagaimana dengan kelompok yang menyebut diri sastra Islami yang mendambakan akhirat?

R: Boleh saja. Saya juga menyampaikan hal semacam itu dalam Suto Mencari Bapak. Nyanyian Angsa itu proses pelacur yang mau meninggal dan berakhir dengan persetubuhan. Tapi tidak ada niat membangkitkan kepuasan pancaindra.

 

T: Bagaimana Anda memandang RUU Anti-Pornografi?

R: Itu menunjukkan kelemahan iman. Menghadapi nafsunya sendiri mbok ya enggak usah pakai undang-undang. Ada ulama dari Cirebon, KH Husein Muhammad, pernah mengingatkan saya. Mas, Nabi dulu pernah berpesan, sepeninggalku janganlah hal-hal yang tak bisa dirumuskan, diundang-undangkan. Dan jangan memperkarakan sesuatu yang tak bisa dirumuskan.

 

T: Pornografi termasuk hal yang tak bisa dirumuskan?

R: Bila Anda ke Bali atau Hawaii, orang pakai pakaian minim dan ketat itu tidak apa-apa. Apalagi kalau itu hanya grafik. Tapi di tempat lain bisa jadi masalah.

 

T: Bukankah ada hukum adat yang malah berbeda dalam memandang pornografi?

R: Pada beberapa suku bangsa yang hukum adatnya masih kuat, malah ada perumusan yang jelas terhadap pornoaksi, yaitu sesuatu yang keluar dari tubuh adalah najis. Jangan sampai itu terjadi di muka umum. Jadi, kalau saya kentut, meludah, membersihkan kotoran mata, dan lain-lain, jangan di muka umum. Termasuk kalau saya mengeluarkan darah, saya menikam atau menggores seseorang sampai keluar darah, itu jadi masalah. Tak usah sampai membunuh, tapi sekadar membuat berdarah saja sudah masalah. Lalu berlanjut hal-hal yang disebut fi’il di Lampung atau siri di Bugis. Menolak hadiah, meremehkan unjuk kebaikan orang lain, itu fi’il. Merusak komunikasi dan silaturahim. Tidak dermawan dalam bersikap.

 

T: Itu juga pelanggaran?

R: Iya, saya tidak suka itu. Sikap arogan. Tidak dermawan dalam bersikap dan perkataan. Tidak mengenal bersyukur.

 

T: Bagaimana dengan beberapa daerah yang memberlakukan peraturan tentang syariat?

R: Saya tidak mau tinggal di tempat seperti itu. Bayangkan ada pekerja yang ditangkap karena kemalaman. Orang didorong hidup dalam prasangka buruk. Membuat undang-undang kok dasarnya suudzhon.

 

T: Mungkin terlalu mencontoh budaya Arab?

R: Ya, itu kan budaya Arab. Allah tidak menyukai orang yang penuh waswas dan suudzhon. Kita tidak bisa terlalu berpaling ke Timur Tengah karena rasa suudzhon-nya luar biasa. Di sana sama-sama syahadatnya bisa saling membunuh kok, dengan bom lagi. Krisis moral dalam beragama ini harus diperhatikan.

 

T: Fundamentalisme agama sedang mengalami gelombang pasang?

R: Itu sudah dari dulu. Ku Klux Klan itu sejak abad ke-19 tidak juga reda. Pertentangan antara Buddha dan Buddha sudah ada sejak zaman Sriwijaya. Begitu juga Hindu dan Hindu di India. Kelemahan manusia itu kalau sudah beragama lalu ada nafsu kekuasaan politik. Kalau sudah begitu, gampang waswas. Wah, ini ada Kristenisasi. Seolah-olah Islamisasi itu beda dengan Kristenisasi.

 

T: Bagaimana sebaiknya kita bersikap?

R: Harus kembali kepada iman. Kita harus memperkuat iman, nukleus keluarga dan masyarakat yang beriman. Dan menghargai iman orang lain. Dalam Islam, itu yang diajarkan Allah. Kita tidak diajari untuk mengatakan kepada orang kafir, “Salah agamamu. Masuk neraka kamu. Buntulah jalanmu ke surga.” Sebaliknya kita diajari untuk mengatakan, “Untukmu agamamu, untukku agamaku.”

 

T: Terus, bagaimana dengan banyak yang mengaku-aku nabi kemudian dilarang MUI?

R: Itulah ekstremnya kalau orang merasa paling benar. Sudah diperingatkan Allah dalam Al-Quran, surat “Para Penyair”. “Berhati-hatilah kamu yang sering mengembara ke lembah-lembah yang gelap.” Konsep “lembah yang gelap” itu berkembang luas. Misalnya naluri. Meditasi, tafakur, dan zikir juga kalau dilakukan secara intens membuat kita seakan-akan dekat dengan Allah, padahal tidak. Lalu kita sendiri menciptakan berbagai jalan supaya dekat dengan Allah. Padahal Allah sudah memberikan jalan. Kalau kamu beriman, bertakwa, beramal saleh, beribadah, kamu dekat dengan Allah.

 

T: Belakangan ini Anda menjadi sangat religius?

R: Dari dulu saya religius. Selalu melakukan olah batin yang bagus untuk kesehatan. Tapi pengasuh saya dulu, Mas Janadi, mengingatkan, “Jangan kamu anggap dengan olah batin kamu bisa ketemu Tuhan, ketemu Nabi. Ketemu eyangmu saja tidak.”

 

T: Anda merasakan ada perbedaan spiritualitas, dulu dan sekarang?

R: Dulu ada pengaruh dari mistikus Katolik yang mengatakan, “Menjelmalah Kau.… Mendekatlah Kau.” Sedangkan orang Jawa kan maqam-nya suwung, meniadakan diri untuk dekat dengan Allah. Kita tak bisa berteriak, “Mendekatlah Kau, Ya Allah.” Tapi kita sendiri yang mendekatkan diri kepada Allah dengan perbuatan kita. Orang Jawa berpegang pada surat Al-Ikhlas. Allah itu ahad. Bahkan, sebelum Islam datang, orang Jawa itu telah suwung. Makanya, Jawa mudah menerima Islam.

 

T: Dengan spiritualitas itu Anda merasa tenteram?

R: Iya, seperti pengembara yang menemukan rumah.

 

T: Itu juga yang membuat Anda kelihatan segar?

R: Ah, ini karena diperkenankan Allah. Saya juga rutin berolahraga. Meditasi dalam gerak. Sehabis mandi, dengan tubuh masih basah, saya melakukan beberapa gerakan sampai tubuh kering (Rendra mengembangkan kedua tangannya, menggerakkan perlahan hingga kedua telapak tangannya bertemu, lalu ditarik ke arah dada). Itu sekitar sepuluh menit.

 

T: Kalau meditasi yang lain?

R: Saya memakai metode yang diperkenalkan Sosrokartono–kakak laki-laki Kartini–yaitu Petruk Kantong Bolong. Kita tak menahan, tak menolak semua suara, semua pikiran, tapi seperti kantong bolong. Masuk lalu keluar lagi. Dalam hidup sehari-hari pun, kita tidak menahan, kita ramah saja. Hal-hal yang mengganggu, yang tidak mengenakkan, permusuhan, biarkan saja. Kita tidak perlu berteriak-teriak bahwa orang lain sesat. Kesucian tidak perlu dipamer-pamerkan.

+++++++

W.S. Rendra

 

__,_._,___

Tempat dan Tanggal Lahir:

Solo, Jawa Tengah, 7 November 1935

Pendidikan:

American Academy of Dramatic Arts, Amerika, 1967

Fakultas Sastra dan Kebudayaan Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta,

tidak lulus

SMA St Josef, Solo, Jawa Tengah

Pekerjaan:

Sastrawan. Pendiri Bengkel Teater

Menulis sajak sejak 1950-an

Kumpulan puisinya: Balada Orang Tercinta meraih Hadiah Sastra Nasional

Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional, 1957

Menerima Anugerah Seni dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1969

Menerima Hadiah Seni dari Akademi Jakarta, 1975

Ditahan pemerintah Orde Baru karena pembacaan sajak-sajak protes di

Taman Ismail Marzuki, Jakarta, 1978

***-/**

 

(Sumber: Tempo, 12-18 November 2007)

Written by jojoba

November 14, 2007 at 6:35 am

Ditulis dalam Inspirasi, Persona, Susastra

Tagged with , ,

Kawabata Yasunari

with one comment

200px-kawabata_yasunari.jpg

Kawabata Yasunari. Orang barat membalik penyebutan namanya menjadi Yasunari Kawabata, barangkali karena kebiasaan penyebutan nama keluarga di belakang nama diri. Sastrawan Jepang penerima hadiah Nobel Kesusastraan tahun 1968 ini dikenal luas dunia terutama lewat novel-novelnya seperti Izu no Odoriko (The Dancing Girl of Izu; Penari dari Izu), Yukiguni (Snow Country; Negeri Salju), dan Yama no Oto (The Sound of The Mountain; Suara dari Gunung). Ada sebongkah kekuatan nan halus dalam tulisan-tulisannya – khas Jepang – yang hanya mungkin ditemukan pada karya-karya sejajar para penulis besar dari belahan dunia yang lain dalam gaya yang berbeda.

Selain menulis novel, Kawabata juga menulis cerpen. Kawabata menamai cerita-cerita pendeknya sebagai Tenohira No Shosetsu; ‘Kisah-kisah telapak tangan’. Dan memang itulah yang sesungguhnya Dia sukai: menulis cerita-cerita yang pendek namun bernas tentang peristiwa sehari-hari dengan gaya prosa liris, terlihat kalem dan enteng di permukaan namun sesungguhnya amat dalam, menyerupai sebuah sketsa impresionistis (dua terjemahan cerpennya Delima dan Pohon Prem dapat anda baca di weblog ini).

Kawabata lahir di Osaka pada 14 Juni 1899. Pada usia dua tahun dia telah menjadi yatim piatu sehingga diasuh oleh kakek-neneknya, sementara kakak perempuannya diasuh oleh bibinya. Namun hal tersebut tidak bertahan lama. Neneknya meninggal ketika usianya baru tujuh tahun, disusul oleh kakeknya yang meninggal ketika Ia berusia lima belas.

Kehilangan orang-orang terdekat dalam usia yang begitu muda, Kawabata lantas ikut bersama keluarga ibuya. Selanjutnya dia tinggal secara mandiri di sebuah asrama dekat sekolah menengah atas tempatnya menimba ilmu.

Pada bulan Maret 1917 selulus SMU Dia berangkat ke Tokyo unuk mengikuti ujian Dai-chi Koto-gakko (First Upper School) di bawah ampuan Universitas Kekaisaran Tokyo (Tokyo Imperial University).

Semasih kuliah aktivitas Kawabata antara lain ‘membangunkan’ kembali majalah sastra Universitas Tokyo Shin-shico yang telah mati suri selama empat tahun. Di media tersebut Kawabata sekaligus menerbitkan cerpennya yang pertama, Shokonsai Ikkei (A Scene from a Seance).

Kawabata lulus kuliah tahun 1924, tahun yang sama ketika Dia mulai menarik perhatian beberapa penulis dan redaktur sastra ternama, antara lain Kikuchi Kan, redaktur media sastra Bungei Shunju tempat Dia mengajukan karya-karyanya untuk dimuat. Oktober tahun itu pula Dia bersama sejumlah sastrawan seperti Kataoka Teppei dan Yokomitsu Riichi menerbitkan jurnal sastra Bungei Jidai (The Artistic Age; Zaman Artistik), sebagai reaksi atas kesusastraan tradisional Jepang yang berakar pada naturalisme, sekaligus juga mengambil posisi berlawanan dengan gerakan sastra proletar yang diusung sastrawan komunis. Selain menulis fiksi, Kawabata bekerja sebagai reporter di Mainichi Shimbun.

Meski menolak terjun ke dalam kegairahan militeristik yang melanda Jepang selama perang dunia kedua, tidak bisa dipungkiri bahwa suasana perang berpengaruh terhadap hasil karyanya. Sejumlah kritikus melihat adanya pergeseran tematis pada tulisan-tulisan Kawabata sebelum dan sesudah perang. Hal ini diakui sendiri olehnya, di mana Dia sempat menyatakan dengan getir bahwa setelah perang Dia hanya mampu menulis sejumlah elegi alias syair-syair ratapan belaka.

Mungkin hal itu pula yang membuatnya mengambil keputusan drastis, yakni mengakhiri hidupnya sendiri. Tanggal 16 April 1972 Kawabata ditemukan tewas bunuh diri dengan mengisap gas beracun.

Sejumlah teori bermunculan (selain teori stagnasi kreativitas) untuk menjelaskan motif bunuh diri Kawabata. Satu teori mengatakan bahwa Kawabata bunuh diri karena tidak tahan dengan kondisi kesehatannya yang memburuk (dia menderita Parkinson). Teori lain menyebutkan bahwa kematian sahabatnya, sastrawan kenamaan Yukio Mishima – yang bunuh diri dengan cara yang spektakuler dengan melakukan upacara harakiri di markas pasukan beladiri Jepang bersama ‘kekasih’ pria-nya Morita – sangat mengejutkannya sehingga Kawabata mengambil keputusan yang sama. Tidak ada yang dapat memastikan motif sebenarnya, karena Kawabata tidak meninggalkan catatan apapun sebelum Dia meninggal.

Karya-karya terpilih dari Kawabata Yasunari:

1926 Izu no Odoriko (The Dancing Girl of Izu)

1930 Asakusa Kureinaidan (The Scarlet Gang of Asakusa)

1935-37, 1947 Yukiguni (Snow Country)

1951-54 Meijin (The Master of Go)

1949-52 Senbazuru (Thousand Cranes)

1949-54 Yama no Oto (The Sound of the Mountain)

1954 Mizuumi (The Lake)

1961 Nemureru Bijo (The House of the Sleeping Beauties)

1962 Koto (The Old Capital)

1964 Utsukushisa to Kanashimi (To Beauty and Sadness)

1964 Kataude (One Arm)

Tenohira no Shosetsu (Palm-of-the-Hand Stories)

Referensi:

Written by jojoba

Oktober 19, 2007 at 7:42 am

Pohon Prem

leave a comment »

Ibu dan ayah itu sedang memperdebatkan sesuatu waktu mereka duduk berlawanan dan memandang dua atau tiga bunga merah di pohon prem tua itu.

Setelah beberapa puluh tahun, bunga-bunga pertama telah bermekaran di cabang rendah itu juga. Pohon itu sama sekali tak berubah, sejak si ibu datang ke rumah itu sebagai pengantin. Tak ingat lagi, kata si ibu. Pengelakan ini mengganggu si ayah. Tak punya waktu untuk pohon prem, kata si ibu. Soalnya si ibu telah menyia-nyiakan waktunya, kata si ayah. Masalahnya tampaknya adalah bahwa si ibu tidak berminat membagi berbagai perasaan dengan suaminya tentang pendeknya hidup manusia dibandingkan dengan hidup pohon prem tua itu.

Percakapan menjurus ke dodol tahun baru. Si ayah bilang bahwa pada tanggal dua januari ia membeli dodol dari Fugetsudo. Si ibu bilang sama sekali tidak ingat hal itu.

“Tapi aku masih ingat baik-baik bahwa kuhentikan mobil di Meiji dan Fugetsudo, dan aku membeli dodol di kedua toko itu.”

“kuingat Meiji. Tapi kau belum pernah sekalipun membeli apapun di Fugetsudo sejak aku berada di rumah ini.”

“Kau ini bicara seenaknya saja.”

“Kau tak pernah membelikanku apapun.”

“Tapi kau memakannya. Aku tahu aku yang membelinya.”

“Kau membuatku merasa tak enak. Kau memimpikannya. Kau bicara tentang yang kau impikan.”

“Oh?”

Di dapur, anak gadisnya yang sedang makan mendengarkan perdebatan itu. Ia tahu siapa yang benar, tetapi tak berkehendak membukanya. Ia berdiri tersenyum di samping ceret.”

“Kau yakin kau membawanya pulang waktu itu?” Si ibu tampaknya ingin menyatakan bahwa setidaknya si ayah mungkin telah membeli dodol itu dulu.

“Aku membelinya – tetapi mungkin ketinggalan di dalam mobil?” Ia jadi ragu-ragu.

“Kalau kau telah meninggalkannya dalam mobil, sopirnya tentu telah membawanya ke mari. Ia tentu tidak pergi begitu saja dengan dodol-dodol itu. Kan mobil kantor.”

“Memang.”

Si gadis agak gelisah.

Ia menjadi gelisah karena ibunya telah lupa hal itu, dan ayahnya telah membiarkan keyakinannya digoyahkan begitu mudah.

Si ayah berjalan-jalan pada tanggal dua Januari itu dan mobilnya disuruh mengikuti di belakang, dan ia telah membeli sekotak besar dodol manis di Fugetsudo. Ibu telah ikut memakannya.

Hening; setelah itu dengan sangat tenang ibu teringat.

“Oh, itu! Kau membelinya kan?”

“Ya.”

“Kuingat sekarang. Kita memberikannya kepada seseorang. Terbungkus rapi. Siapa ya?”

“Ya. Kau memberikannya kepada seseorang.” Ayah bicara seolang-olah urat yang mengejang di leher tiba-tiba mengendor. “Kepada Fusae barangkali?”

“Fusae, barangkali. Ya, kukatakan seharusnya tidak diperlihatkan anak-anak.”

“Ya, Fusae.”

Dan pertengkaranpun usai. Rasa sepakat tampaknya memuaskan keduanya.

Namun kenyataannya berbeda. Mereka dulu itu tidak memberikannya kepada Fusae, pembantunya yang dulu, tetapi kepada anak lelaki tetangga sebelah.

Si gadis menunggu sampai ibunya teringat hal itu pula. Tetapi hanya suara ceret the saja yang kedengaran dari ruang makan pagi.

Gadis itu menyediakan makan siang.

“Kau dengar percakapan kami tadi, Yoshiko?” tanya ayah.

“Ya.”

“Ibumu sudah pelupa benar. Semakin pelupa dia, semakin berpura-pura dia bahwa segalanya beres. Kau harus membantunya mengingat-ingat segala sesuatu.”

“Aku sangsi siapa di antara kami yang lebih pelupa. Kali ini aku kalah, tetapi aku masih sangsi.”

Anaknya berpikir akan mengatakan sesuatu tentang Fusae dan anak lelaki tetangga itu tetapi tak jadi.

Dua tahun setelah itu, ayahnya meninggal. Ia telah menderita serangan otak dan jarang pergi ke kantor sebelum itu.

Dan tetap saja bunga-bunga prem bersemi dari dahan bawah itu. Yoshiko sering memikirkan masalah Fugetsudo. Ia tak pernah mengatakannya kepada ibunya. Mungkin sekali ibunya sudah melupakannya.

 

***

Sebuah cerpen karya Kawabata Yasunari

Sumber: Majalah Horison No.5 tahun 1983. Diterjemahkan oleh Sapardi Djoko Damono dari edisi bahasa Inggris oleh Edward Seidensticker dalam Contemporary Japanese Literature, Tokyo, 1978.

Written by jojoba

Oktober 18, 2007 at 1:47 pm

Ditulis dalam Cerpen, Susastra

Tagged with , ,

The Road Not Taken

leave a comment »

frost2.gif

Two roads diverged in a yellow wood,
And sorry I could not travel both
An
d be one traveler, long I stood
And looked down one as far as I could
To w
here it bent in the undergrowth;
Then took the other, as just as fair,

And having perhaps the better claim,
Because it was grassy and wanted wear;
Though as for that the passing there
Had worn them really about the same,
And both that morning equally lay
In leaves no step had trodden black.
Oh, I kept the first for another day!
Yet knowing how way leads on to way,
I doubted if I should ever come back.
I shall be telling this with a sigh
Somewhere ages and ages hence:
Two roads diverged in a wood, and I-
I took the one less traveled by,
And that has made all the difference.

 

A Poem by Robert Frost

 

Written by jojoba

Agustus 14, 2007 at 3:29 pm

Ditulis dalam Inspirasi, Odisi, Susastra

Tagged with , , ,

Delima

leave a comment »

Dalam angin kencang malam itu, pohon delima itu rontok daun-daunnya.

Daun-daun itu menumpuk berbentuk lingkaran di kaki batang pohon itu.

Kimiko terkejut melihatnya telanjang pagi harinya, dan mengagumi bundarnya lingkaran daunan itu.

Ada sebutir buah delima, sangat bagus, tertinggal di pohon.

“Lihatlah buah itu,” katanya memanggil ibunya.

“Aku telah lupa,” Ibunya memandang pohon itu sekilas lalu kembali ke dapur.

Itu memuat Kimiko merenungkan kesepian mereka. Buah delima yang di beranda itu tampaknya juga kesunyian dan terlupakan.

Kira-kira dua minggu sebelumnya, kemenakannya yang berumur tujuh tahun berkunjung menengoknya; ia segera saja memperhatikan delima-delima itu. Kemenakannya itu memanjat pohon itu.

Kimiko merasa sedang menghadapi kehidupan.

“Ada sebuah yang besar di atas,” teriaknya dari beranda.

“Tapi kalau aku memetiknya, aku tak bisa turun nanti.”

Benar. Turun dari pohon dengan kedua belah tangan membawa buah-buah delima memang tidak mudah. Kemenakannya itu anak manis.

Sampai saat kemenakannya itu berkunjung, keluarganya sudah melupakan pohon delima itu. Dan sampai kini mereka telah melupakannya lagi.

Kemudian buahnya tersembunyi di antara daunan. Kini ia tersembul jelas menatap langit.

Ada kekuatan dalam buah itu dan dalam lingkaran daunan di kaki pohon. Kimiko beranjak dan menjoloknya dengan sebilah bambu.

Buah itu begitu matang sehingga biji-bijinya tampaknya berusaha memecahkannya. Biji-biji itu tampak berkilau di sinar matahari ketika Kimiko meletakkannya di beranda, dan matahari seolah akan menyusup ke dalamnya.

Gadis itu merasa seperti harus minta maaf.

Sekitar pukul sepuluh, ketika sedang menjahit di lantai atas, kimiko mendengar suara Keikichi. Meskipun pintu tidak dikunci, pemuda itu tampaknya telah masuk melalui kebun. Suaranya mengandung sesuatu yang penting.

“Kimiko, Kimiko!” Panggil ibunya. “Keikichi di sini.”

Kimiko membiarkan jarumnya lepas tanpa benang. Lalu ditusukkannya ke bantalan jarum.

“Kimiko selalu mengatakan betapa inginnya bertemu denganmu lagi sebelum kau berangkat. Keikichi akan berangkat ke medan perang. “Tetapi kami tidak bisa pergi menemuimu tanpa undangan, dan kau juga tak datang – tak juga datang. Syukur kau datang hari ini.”

Si ibu memintanya agar tinggal sampai makan siang, tetapi ia terburu-buru.

“Yah, setidaknya makanlah delima. Kami menanamnya sendiri.” Si ibu memanggil Kimiko lagi.

Pemuda itu menyalami Kimiko dengan matanya, seolah-olah ia lebih dari apa yang bisa dilakukannya dalam menunggu gadis itu turun. Kimiko berhenti di tangga.

Sesuatu yang hangat serasa menyusup kemata pemuda itu, dan buah delima terjatuh dari tangannya.

Mereka saling memandang dan tersenyum.

Ketika Kimiko menyadari dirinya tersenyum wajahnya menjadi merah. Keikichi bangkit dari beranda.

“Jaga dirimu baik-baik, Kimiko.”

“Dan kau.”

Ia telah berbalik pergi dan mengucapkan selamat tinggal kepada ibu Kimiko.

Kimiko memandang ke arah pintu pagar setelah pemuda itu pergi.

“Ia begitu tergesa,” kata ibunya. “Dan delima itu begitu bagus.”

Keikichi telah meninggalkan delima itu di beranda.

Jelas bahwa pemuda itu menjatuhkannya ketika sesuatu yang terasa hangat menyusup di matanya dan waktu itu ia sudah mulai membelahnya. Ia belum sampai membelahnya menjadi dua. Delima itu tergeletak dengan biji-bijinya di atas.

Ibunya membawanya ke dapur dan mencucinya, dan memberikannya kepada Kimiko.

Kimiko merengut tidak mau menerimanya, dan kemudian, sekali lagi wajahnya memerah, menerima buah itu dengan pikiran yang agak kalut.

Keikichi seolah telah mengambil beberapa biji di bagian pinggir buah itu.

Dengan kehadiran ibunya di depannya, terasa aneh bagi Kimiko untuk tidak memakannya. Ia menggigit buah itu dengan acuh tak acuh. Mulutnya terasa pahit. Ia mencecap semacam kebahagiaan yang memilukan, seolah-olah merasuk jauh ke dalam dirinya.

Tanpa memperhatikannya, ibunya telah berdiri.

Ibunya menuju ke cermin dan duduk.

“Lihatlah rambutku. Aku tadi mengucapkan selamat pisah kepada Keikichi dengan rambut acak-acakan begini.”

Kimiko mendengar suara sisir.

“Ketika ayahmu meninggal,” kata ibunya lembut, “aku takut menyisir rambutku. Kalau menyisir rambut aku melupakan apa yang sedang kulakukan. Kalau aku sadar kembali terasa seolah-olah ayahmu menantiku untuk menyelesaikan sisiranku.”

Kimiko teringat kebiasaan ibunya memakan sisa yang ditinggalkan ayahnya di piring.

Kimiko merasa seperti ada yang menariknya, suatu kebahagiaan yang membuatnya ingin menangis.

Ibunya barangkali telah memberikan delima itu kepadanya karena sayang kalau dibuang. Hanya karena itu saja. Telah menjadi kebiasaan untuk tidak membuang-buang barang.

Sendirian dengan kebahagiaan tersembunyi, Kimiko merasa malu di hadapan ibunya.

Ia berpikir bahwa peristiwa tadi merupakan salam pisah yang lebih baik dari yang bisa dibayangkan Keikichi, dan bahwa ia bisa menanti pemuda itu sampai kapan pun ia kembali.

Ia memandang ke arah ibunya. Matahari mencapai pintu kertas yang agak jauh dari tempatnya duduk di depan kaca.

Gadis itu agak takut-takut menggigit delima yang di pangkuannya.

***

Sebuah Cerpen karya Kawabata Yasunari

Sumber: Majalah Horison No.5 tahun 1983. Diterjemahkan oleh Sapardi Djoko Damono dari edisi bahasa Inggris oleh Edward Seidensticker dalam Contemporary Japanese Literature, Tokyo, 1978.

Written by jojoba

Agustus 7, 2007 at 1:00 pm

Ditulis dalam Cerpen, Susastra

Tagged with , ,