Aksara yang mengalir begitu saja – mbuh lah..

Waiting on the World to Change

Archive for the ‘Serbaneka’ Category

Zona Pribadiku, Zona pribadimu

with one comment

Apakah Anda menyadari hal-hal yang tampaknya remeh, namun sangat memengaruhi interaksi Anda dengan lingkungan berkaitan dengan apa yang disebut ‘wilayah pribadi’, alias dalam bahasa sundanya disebut privacy? Pernahkah Anda memerhatikan bagaimana setiap orang, termasuk Anda sendiri, berusaha sedapat mungkin mempertahankan wilayah pribadi agar tidak dilanggar oleh orang lain? Apabila seseorang menerobos masuk melewati jarak yang kita anggap zona pribadi itu, kita akan merasa gelisah, uring-uringan, lalu ujung-ujungnya – kalau tak mampu mengontrol diri – mudah tersulut emosinya dan melakukan tindakan agresif.

Konsep tentang kebutuhan ruang pribadi pada manusia pertama kali dicetuskan oleh Antropolog Amerika bernama Edward T. Hall pada tahun 60-an, tatkala dia memperkenalkan istilah “proxemics”, yang diturunkan dari kata proximity yang berarti kedekatan. Setiap orang – mengacu pada konsep tersebut – memiliki apa yang disebut sebagai “gelembung virtual”, sebuah gelembung tak kasat mata yang bersifat fleksibel, mengikuti ke mana pun kita pergi, bertugas menjaga jarak ‘aman’ kita dari orang lain, dan membuat kita terlindungi secara psikis.

Yang menarik, besarnya kebutuhan ruang pribadi berbeda-beda pada tiap orang. Salah satu faktor yang mempengaruhinya adalah kondisi sosial ekonomi, sehingga hanya dengan mengamati bagaimana seseorang menjaga wilayah pribadinya, kita dapat menduga latar belakang sosial ekonomi orang tersebut. Inilah seni menyenangkan yang kelak melahirkan kajian populer tentang bahasa tubuh.

Bagaimana cara terbaik mempraktekkan ilmu ini? Well, keluar rumah dan pergi ke lingkungan yang ramai: jalan, mall, kantor, atau bahkan di dalam lift. Amati orang-orang di sekitar anda – dengan diam-diam tentu, bukan memelototi mereka. Perhatikan tingkah polah mereka. Selalu ada hal-hal tersirat yang hanya mungkin disadari apabila anda cukup peka:

  • Ketika sepasang pria dan wanita berciuman, anda dapat membedakan apakah ciuman tersebut ciuman kekasih atau sekadar ciuman persahabatan dengan memperhatikan jarak pinggul mereka saat berciuman. Kalau sekadar sahabat, secara tak sadar mereka akan menjaga jarak antar pinggul mereka paling tidak 15 cm. Sebaliknya, sepasang kekasih akan merapatkan pinggul mereka serapat mungkin. Di Yogyakarta kalau tidak salah juga ada skripsi yang mengupas perilaku berboncengan motor sepasang muda-mudi, yang menunjukkan tingkat kedekatan hubungan mereka. Semakin mesra hubungan mereka, semakin erat sang pembonceng (yang mestinya cewek) mendekap tubuh pasangannya, ‘biar tidak jatuh’.

  • Seseorang yang dibesarkan di desa atau kota kecil relatif memiliki zona pribadi lebih besar daripada orang kota. Ini bisa dimaklumi karena di desa orang terbiasa hidup dalam lingkungan yang lapang (persawahan), sehingga mereka menciptakan wilayah pribadi yang juga lebih besar. Ini bisa anda buktikan saat dia bersalaman. Orang kota cenderung mendekatkan tubuhnya saat bersalaman. Sebaliknya, orang desa akan menjaga jarak dan mengulurkan tangan lebih jauh. Pada orang-orang yang terbiasa hidup di daerah terpencil bahkan tidak ada kebiasaan bersalaman. Mereka lebih menjaga jarak lagi dengan hanya melambaikan tangan buat memberi salam. Seorang kawan saya punya teori lain untuk membedakan gerombolan orang desa dengan orang kota, yakni dengan melihat cara mereka berjalan dalam rombongan di trotoar. Orang kota tulen akan berjalan berjajar dan memenuhi ruang trotoar. Sebaliknya, orang desa akan berjalan berurutan satu-satu, dengan orang yang lebih berpengalaman diberi tempat paling depan. Hal ini konon dipengaruhi oleh kebiasaan mereka berjalan di pematang sawah yang sempit yang hanya cukup dilalui satu orang. Benar atau tidak, Wallahu a’ lam. Yang merasa wong ndeso tolong kasih verifikasi 🙂

  • Polisi biasa menggunakan pelanggaran zona pribadi sebagai taktik untuk melumpuhkan mental tersangka dalam pemeriksaan. Jika anda tersangka yang tengah diperiksa, mereka akan berdiri sedekat mungkin dengan anda, mengambil posisi di bagian yang lemah secara psikis (misal, berdiri merapat tepat di belakang punggung anda yang tak terlindung). Hal ini akan membuat anda merasa gelisah, cemas, grogi, sehingga pada gilirannya anda akan ‘menyerah’ dan menurut. (Catatan: hal ini hanya berlaku efektif buat tersangka culun atau bandit kelas teri yang tidak memiliki taktik kontra serangan psikologis. Tersangka teroris kelas berat atau bandit ndableg tentu tidak mempan diperlakukan seperti itu.

  • Kelompok demonstran, supporter sepakbola, atau kumpulan massa dalam jumlah besar apapun alasan mereka berkumpul, selalu memiliki potensi membikin kerusuhan. Mengapa? Semakin bertambah besar kerumunan orang; semakin sedikit ruang pribadi bagi masing-masing individu, yang menyebabkan mereka menjadi gelisah, emosional, dan mudah terprovokasi. Satu pemicu kecil saja dapat membangkitkan huru-hara tak terkendali. Polisi anti huru-hara meredam kemungkinan tersebut dengan cara memecah kerumunan besar menjadi kelompok-kelompok lebih kecil sehingga tiap orang mendapatkan kembali zona pribadinya, dan hal itu akan membuatnya lebih tenang.

  • Kalau anda berada di dalam lift, angkot, atau dalam bus yang padat penumpang di mana orang mau tidak mau harus membiarkan zona pribadinya dilanggar orang lain, anda akan menyadari bahwa setiap orang, termasuk anda sendiri, menjalankan ritual bawah sadar untuk menjaga keharmonisan sosial dengan cara:

    • Menghindari kontak mata

    • Memasang wajah datar alias tidak memperlihatkan ekspresi apapun

    • Menahan gerakan yang tak perlu, terutama bila tempat tersebut sangat padat

    • Membisu, tidak mengatakan sesuatu selain ucapan pendek seperti “permisi” atau “maaf”

    • Jika membawa buku atau koran atau ponsel, maka benda-benda itu sering dipakai buat pengalih perhatian: pura-pura sibuk baca atau pencat-pencet tombol ponsel.

  • Sebuah penelitian menunjukkan bahwa di WC umum yang berderet panjang, 90% orang cenderung memilih WC bagian ujung. Apabila tempat itu telah terisi barulah dia bersedia memakai WC bagian tengah. Tanya kenapa?

Iklan

Written by jojoba

November 30, 2007 at 6:39 am

Komunitas Berbagi Rujukan del.icio.us

with 2 comments

Internet telah diakui secara de-facto sebagai saluran rujukan dengan koleksi informasi nyaris tak terbatas, sehingga terkadang malah membuat penggunanya kehilangan orientasi saat mesti memilah informasi yang dibutuhkannya. Situasi chaotic terjadi karena dunia virtual itu tidak bertuan. Tidak ada pihak yang memiliki dan berhak menjadi bos internet. Yang ada sebatas klaim atas kepemilikan materi informasi secara parsial dan bukan keseluruhan isinya.

Sebagian pihak mencoba merintis terciptanya keteraturan dari kekacauan informasi tersebut. Aktivitas semacam ini mengawali terciptanya web direktori dan mesin pencari dalam bentuk yang sekarang kita kenal. Contoh dari web direktori adalah DMOZ, dan mesin pencari (search engine) adalah Google. Beragam metode dipakai dalam membangun database raksasa itu, mulai dari penyuntingan manual oleh manusia (Human Based) hingga mengutus perangkat lunak Crawler untuk ‘menggerayangi’ seluruh isi web dan mengirimkan salinan (cache) dari setiap halaman web yang telah digerayangi untuk disimpan ke dalam databasenya. Dengan kata lain ketika kita menggunakan mesin pencari Google untuk memperoleh informasi tertentu – “kadal” misalnya, maka yang akan kita dapat adalah halaman salinan, bukan halaman sesungguhnya dari website tentang kadal yang kita cari. Ini sering menjadi faktor delay alias keterlambatan update informasi pada mesin pencari, disebabkan selang waktu antar jadwal rutin peluncuran crawlernya (buat mengetahui detil mekanisme kerja search engine, silakan kunjungi http://free-pdflibrary.blogspot.com. Weblog itu saya buat sebagai rintisan database koleksi online dokumen-dokumen PDF – tutorial, paper, disertasi, dsb – yang bisa diunduh secara gratis. Moga-moga bermanfaat).

Alternatif lain dari mekanisme penciptaan keteraturan atas anarkisme informasi diperkenalkan oleh Joshua Schachter pada takhir tahun 2003. Dia membuat sebuah site dengan DNS unik: del.icio.us (dieja: “Delicous”) – satu kesuksesan DNS hacking yang membuatnya menjadi sangat memorable. Keunggulan tersendiri saat harus bersaing dengan jutaan nama domain konvensional lain yang seringkali susah diingat.

del.icio.us tidak menggunakan mekanisme crawling untuk mengumpulkan alamat URL yang terserak di web menjadi satu. Dia membangun sebuah komunitas social bookmark. Ya, kumpulan orang-orang dari seluruh dunia yang gemar menjelajahi web dan menandai (mem-bookmark) halaman web yang menurutnya menarik atau penting agar tidak lupa apabila lain waktu hendak mengunjungi kembali halaman tersebut

Bookmarking umumnya dilakukan secara personal untuk kepentingan pribadi. Pada browser Internet Explorer lebih dikenal sebagai menu favorite. Kecerdikan del.icio.us adalah menjadikan kebiasaan tersebut menjadi satu aktivitas sosial. Para pengguna yang telah mendaftar dipersilakan meng-”ekspor” bookmark pribadinya ke halaman bookmarknya di del.icio.us, mengeditnya, mengelompokkannya ke dalam topik-topik tertentu dengan tag cloud yang lebih praktis dari sistem folder, membiarkannya dilihat orang lain (dengan mengesetnya ke public share), melihat bookmark orang lain, menemukan kesamaan minat atas topik tertentu, atau menemukan sumber informasi menarik yang selama ini belum dia temukan tetapi telah ditemukan orang lain (dengan melihat bookmark mereka). Dalam wilayah ini seolah berlaku kembali teori klasik invisible hand-nya Adam Smith: masing-masing orang bekerja untuk kepentingannya sendiri, namun menciptakan mekanisme tak tampak buat saling membantu. Sangat indah.

Layanan social bookmarking yang disediakan del.icio.us disediakan secara gratis (setidaknya hingga posting ini dibuat). Siapa pun dapat ikut berpartisipasi dalam komunitas ini sepanjang memiliki akses ke jaringan internet. Walau menyediakan layanan gratis, jangan main-main dengan nilai kapitalisasinya. Ketika del.icio.us diakuisisi Yahoo! Pada 9 Desember 2005, pihak Yahoo! Mesti merogoh kocek antara US $ 15 juta hingga US $ 30 juta (kurang lebih Rp. 142,5 – 285 milyar pada kurs 1 US $ = Rp.9500). Berapa jumlah tepatnya tidak diketahui karena tidak disiarkan secara terbuka. (Sumber: http://money.cnn.com/magazines/business2/business2_archives/2006/01/01/8368130/index.htm dan http://money.cnn.com/2005/12/10/technology/delicious_biz20_120905/index.htm.

Kelebihan dari jaringan informasi del.icio.us adalah Dia tercipta secara alami dari kegiatan orang-orang yang memiliki kesamaan minat. Dia bukan daftar kaku hasil suntingan a la Web Direktori konvensional atau data hasil telusuran mesin a la search engine yang terkadang mengandung informasi yang tidak relevan. Kelemahannya mungkin terdapat pada faktor subyektifitas: terkadang halaman yang paling populer belum tentu yang paling bermanfaat. Bisa jadi dalam aktivitas bookmarking itu terdapat interest tersembunyi, yakni memasukkan URL websitenya sendiri dengan tag yang dibuat semenarik mungkin buat mendongkrak trafik kunjungan ke websitenya. Tampaknya memang tidak ada sistem yang benar-benar mampu terbebas dari vandalisme tangan-tangan nakal.

Written by jojoba

November 13, 2007 at 2:21 pm

Ditulis dalam Serbaneka

Tagged with , ,

Mengajar Berpikir (Edward de Bono)

leave a comment »

“Perkenalan” saya dengan Edward de Bono terjadi tanpa disengaja tatkala saya tengah mengaduk-aduk rak buku perpustakaan kampus buat mencari bahan seputar metodologi penelitian sosial buat keperluan tugas akhir kuliah. Di antara jajaran buku-buku yang ada terselip satu buku lusuh ukuran saku berjudul Mengajar Berpikir (Teaching Thinking). Dan seperti umumnya kebiasaan free-thinker amatiran yang gemar coba-coba mengunyah makanan asing, saya pinjam buku yang salah letak tersebut dan melupakan sejenak tugas akhir yang menanti. Berikut beberapa point penting yang bisa saya sarikan dari buku tersebut:

  • Tuhan tidak perlu berpikir. Berpikir hanya digunakan oleh manusia buat melengkapi pengetahuannya yang tidak memadai.

  • Dalam sebuah masyarakat yang kompleks (seperti masyarakat modern sekarang), kebutuhan untuk berpikir semakin besar daripada waktu yang lampau. Kita mempunyai kebebasan yang lebih besar, dan kebebasan adalah penindasan dari kesempatan karena setiap kesempatan berarti keharusan ntuk mengambil keputusan.

  • Lebih baik belajar berpikir terbuka daripada menjadikan berpikir semata-mata sebagai ekspresi ketidakpuasan emosional.

  • Memutuskan untuk mengajarkan berpikir merupakan suatu keputusan politik, karena beberapa sistem politik akan lebih senang kalau rakyat hanya menurut dan tidak perlu berpikir. Hanya itikad untuk menipu yang membuat seseorang takut kepada pandangan yang jelas.

  • Usaha mencari kesempurnaan akademis seringkali merupakan musuh bagi pendidikan praktis berpikir: eksplorasi pengalaman yang dilakukan secara sadar dalam mencapai suatu tujuan.

  • Tidaklah tepat menganggap seorang pemakai bahasa yang terampil otomatis pemikir yang terampil pula. Salah pula menganggap seseorang yang kurang baik ekspresi lisannya otomatis kurang baik pula cara berpikirnya. Bahasa dan ekspresi adalah sarana untuk menuangkan hasil pemikiran, bukan pemikiran itu sendiri. (Btw, dengan kalimat lain bisa dikatakan bahwa orang yang pinter ngomong belum tentu cerdas)

  • Tujuan berpikir adalah mempersiapkan sesuatu yang akan kita rasakan. Dengan berpikir, kita menata kembali persepsi dan pengalaman kita, sehingga kita memiliki pandangan yang lebih jelas mengenai sesuatu. Pandangan yang lebih jelas inilah yang membuat perasaan kita tergetar. Tanpa berpikir, perasaan hanya merupakan tirani. Mengapa? Karena perasaan adalah sejenis tindakan. Tujuan berpikir adalah mempersiapkan diri kita untuk bertindak.

  • Idiom akademis yang diajarkan di sekolah dan disempurnakan di universitas layaknya keterampilan mengetik dua jari: keterampilan yang sangat baik untuk menghadapi situasi tertutup di mana semua informasi telah tersedia, tetapi sangat tidak efisien untuk menghadapi situasi terbuka, di mana hanya sebagian dari informasi tersedia namun keputusan tetap harus dibuat.

  • Adalah keangkuhan yang luar biasa untuk beranggapan hanya ada dua pilihan, yang terpolarisasi dengan tajam pada suatu soal, yang mengatakan bahwa bila yang satu salah maka yang lain pasti benar.

  • Masalah mendasar dari keterlibatan ego dalam pemikiran kita adalah kita secara normal menganggap logika sebagai suatu cara memproses persepsi kita, dan mengambil implikasi yang lengkap dari persepsi itu. Kita tidak dapat melihat bahwa dalam banyak situasi, sebagaimana dengan dukungan ego, struktur logika muncul paling awal dan mempunyai momentumnya sendiri, dan persepsi dibuat supaya cocok dengan struktur itu. Di tangan yang terampil, mau tidak mau struktur itu konsisten, namun persepsinya sangat tertutup dan sempit.

  • Sistem logika tradisional (yang berbasis verbal) menghadapi kesulitan besar dalam berurusan dengan besaran, karena bahasa berurusan dengan sifat-sifat dan bukan dengan ukuran. Kesalahan besaran tidak dapat dideteksi dengan memeriksa argumentasi itu sendiri karena argumen itu barangkali konsisten secara logika dan benar secara internal. Kesalahan hanya bisa diketahui bila si pemikir telah mempunyai bidang persepsi yang lebih luas untuk dapat menilai argumentasi itu.

  • Kesalahan seringkali bukan terletak pada kurangnya pengetahuan, tetapi lebih pada cara kita memandang pengetahuan itu.

  • Mengajarkan berpikir bukanlah mengajarkan logika, tetapi mengajarkan persepsi.

  • Seringkali, terlalu cepat sampai pada tahap pengolahan logika dapat membatasi penyelidikan kita dalam tahap pengerahan perhatian maupun eksplorasi persepsi. Jadi salah satu fungsi berpikir adalah mengarahkan perhatian melintasi bidang persepsi.

  • Pengarahan perhatian secara sadar ke bidang seluas mungkin (memperluas wawasan, melihat sesuatu dari sudut pandang lain, dan keterbukaan sikap) merupakan bagian yang sangat mendasar dalam berpikir.

Written by jojoba

Oktober 26, 2007 at 2:39 pm

Ditulis dalam Inspirasi, Serbaneka

Tagged with , ,

Pulp Fiction, Pendidikan Moral a la Tarantino

leave a comment »


Pulp Fiction adalah satu dari sedikit film yang tidak melulu berhenti sebagai hiburan sejam dua jam belaka. Sisi paling menarik dari film ini adalah permainan plot dan karakterisasinya yang ‘tidak lumrah’ namun tetap asyik dan sedikit sinting buat pemirsa konvensional. Layaknya Wachowski bersaudara memiliki epigon-epigon yang latah setelah kesuksesan The Matrix yang mereka sutradarai, Quentin Tarantino juga memiliki banyak “pengikut” yang bertebaran di mana-mana setelah sukses merilis Pulp Fiction yang mendulang banyak award (termasuk Palm D’Or, penghargaan untuk film terbaik Festival Film Cannes tahun 1994).

Anda harus memiliki mata dan telinga yang cukup moderat untuk menonton Pulp Fiction, karena sepanjang durasinya yang 154 menit, Tarantino seolah tidak tahan buat menghamburkan perbendaharaan scene vulgar dan kata-kata kotor khas Amerika jalanan yang dimilikinya (situs imdb.com mencatat, kata “fuck” diucapkan 281 kali). Harap maafkan saja hal itu, karena tidak mengurangi kredibilitasnya untuk dinobatkan oleh banyak movie buff sebagai film terbaik dekade 90-an.

Secara garis besar Pulp Fiction merupakan kombinasi dari tiga plot cerita utama yang masing-masing berdiri sendiri namun saling berkaitan satu sama lain, yang dituturkan dengan teknik naratif paralel. Buat Anda pembaca novel-novel John Steinbeck atau In Cold Blood-nya Truman Capote, teknik bertutur semacam ini tentu tidak asing lagi.

Pulp Fiction dibuka (sekaligus ditutup) oleh adegan perampokan pada jam sarapan di sebuah kafetaria yang padat pengunjung di kawasan suburban LA. Pasangan perampok amatir Pumpkin (Tim Roth) dan Yolanda alias Honeybunny (Amanda Plummer) tengah mengobrol seputar kesulitan mereka mencari tempat yang enak buat dirampok. Obrolan ngalor-ngidul itu lantas mencetuskan ide spontan buat merampok kafetaria itu.

Sepintas kisah perampokan kafetaria itu berdiri sendiri, karena terpotong oleh caption film, dan plot cerita selanjutnya sama sekali tidak menyinggungnya. Baru pada akhir cerita penonton dibuat ngeh bahwa adegan itu bertautan dengan “pertobatan” Jules, anak buah gangster Marcellus Wallace (Ving Rhames) yang memperoleh pencerahan batin setelah merasa diselamatkan Tuhan dari hamburan peluru pistol.

Walau memiliki susunan plot yang unik, kekuatan utama Pulp Fiction sendiri sebetulnya lebih bertumpu pada penciptaan karakter pendukung cerita yang matang dan dialog-dialog intensif yang cerdas. Hal inilah yang membedakan Tarantino dari sineas-sineas penirunya yang kebanyakan hanya sebatas meniru kulit belaka, ikut-ikutan membolak-balik plot dengan harapan filmnya dibilang unik dan nyleneh.

Melihat karakter-karakter yang ada dalam Pulp Fiction, kita seolah menengok pada banyak sisi kepribadian dalam diri kita sendiri. Lihatlah Vincent Vega (John Travolta). Bandit yang satu ini menggambarkan karakter seseorang yang slenge’an, tidak dewasa, lawless, tidak pernah merasa bersalah bahkan setelah jelas-jelas membikin kekacauan. Dia dapat dengan enaknya meledakkan kepala Marvin (Phil LaMarr) dengan satu dentum tembakan dan bilang kalau tembakan itu tidak sengaja. Namun begitu terdapat sisi kepolosan yang menggelikan saat Dia merasa grogi berat ketika harus menemani Mia Wallace (Uma Thurman), istri sang Big Boss, dugem ke sebuah nite club.

Atau tengoklah Jules Winfield (Samuel L. Jackson). Sahabat Vincent ini layaknya seorang idealis dan moralis sejati. Dia tidak henti-hentinya bicara tentang ‘ini seharusnya begini, itu seharusnya begitu’ dan tidak pernah lupa mengutip seayat Bible (Ezekiel 25:17) sebelum membunuhi orang-orang. Tidakkah kelakuan Jules ini mirip dengan karakter banyak orang di negeri ini yang gemar berlindung di balik atribut religi guna melegalkan tindakan brutalnya?

Karakter yang paling waras barangkali hanya Butch Coolidge (Bruce Willis), sang petinju sial yang dikejar-kejar anak buah Marcellus setelah membunuh lawannya di atas ring, di mana dalam pertandingan itu Dia “seharusnya” kalah pada ronde kelima sesuai kesepakatan. Butch adalah tipikal regular American guy, orang yang tidak neko-neko dalam menjalani hidup, ingin segalanya berjalan lurus namun terjebak dalam pergaulan dunia hitam yang terkadang memaksanya ikut-ikutan bertindak brutal demi mempertahankan diri. Sisi nyentrik Butch adalah obsesi kuatnya atas jam kuno pemberian almarhum ayahnya. Dia rela menempuh bahaya buat mengambil arloji tersebut yang tertinggal di kamar apartemennya. Siapa mengira tindakan itu secara tidak langsung justru membuatnya rujuk kembali dengan Marcellus, yang diselamatkannya ketika tengah disodomi oleh oknum Sheriff Zed (Peter Greene) dan anteknya Maynard (Duane Whitaker).

Pulp Fiction merupakan prestasi kedua Tarantino setelah Reservoir Dogs (1992), di mana dia memperoleh baik sukses komersial maupun reputasi internasional. Bekas penjaga rental video ini menempati posisi yang unik dalam jajaran sineas Amerika generasi baru, di mana posisinya sebagai sutradara memiliki merek dagang tersendiri dan lebih banyak mendongkrak popularitas film-filmnya ketimbang aktor-aktris yang bermain di dalamnya.

Tarantino memiliki cara yang unik dalam mengkasting pemain. Sembari menuliskan naskah skenario, dia telah menyesuaikan karakter yang diciptakannya dengan aktor yang menurutnya pantas memainkan peran tersebut. Samuel L. Jackson adalah aktor yang secara spesifik dipilihnya untuk memerankan Jules Winfield, sama halnya dengan karakter pasangan perampok kacangan Pumpkin dan Honeybunny yang dikhususkan buat dimainkan Tim Roth dan Amanda Plummer. Beberapa karakter lain juga dia tujukan secara spesifik untuk aktor tertentu, namun terpaksa digantikan oleh aktor lain karena berbagai alasan. Peran Butch Coolidge mulanya ditujukan buat Sylvester Stallone, namun akhirnya jatuh ke tangan Bruce Willis. Demikian pula peran Vincent Vega pada awalnya hendak diberikan pada Michael Madsen, namun jadwal syuting Madsen yang bentrok tidak memungkinkannya memainkan peran tersebut sehingga pilihan beralih pada John Travolta.

Buatku pribadi, Pulp Fiction adalah sebuah contoh bagus tentang bagaimana pendidikan moral tidak harus mengambil bentuk serba normatif. Film yang penuh kekerasan dan taburan kata-kata kotor ini justru mampu memberi penggambaran jernih dan nyata bahwa dalam dunia hitam pun, secuil perbuatan baik akan mendapat balasan yang baik, dan sebaliknya. Sebuah pengertian bahwa tiap perbuatan akan menuai karmanya masing-masing.

Namun apakah model pendidikan moral semacam ini efektif buat penonton di Nusantara, entahlah. Jangan-jangan malah adegan kekerasannya yang terus diingat-ingat. Masyarakat kita telah dibiasakan dengan dogma turun-temurun bahwa kebenaran pasti datang dari satu otoritas tunggal, dan yang ada di luar itu pasti kebohongan belaka.

***

 

Pulp Trivia (sumber: imdb.com)

  • Produksi Pulp Fiction menelan biaya delapan juta dollar. Lima juta dollar dari jumlah tersebut dialokasikan untuk membayar aktor-aktris pendukungnya sehingga biaya produksi sesungguhnya hanya tiga juta dollar.

  • Selain menyutradarai, Tarantino juga berperan sebagai Jimmie, kawan Jules, yang uring-uringan berat ketika Jules mendadak datang pada suatu pagi membawa mayat Marvin untuk dititipkan di rumahnya. The Bonnie Situation. Produser Lawrence Bender juga muncul sebagai cameo pada adegan di kafetaria sebagai pria yuppies berambut panjang

  • Pistol yang digunakan Vincent adalah 1911A1 Auto Ordnance .45 ACP yang telah diberi lapisan krom, dan pistol Jules adalah Star Model B 9 mm

  • Tarantino menciptakan karakter Winston “The Wolf” khusus untuk diperankan oleh Harvey Keitel

  • Kalimat yang diucapkan Vincent “You know what they call a Quarter Punder with Cheese in Paris?… They call it a Royale with Cheese.” terpilih pada urutan 81 sebagai 100 kalimat film terbaik versi majalah Premiere tahun 2007.

Written by jojoba

Oktober 21, 2007 at 2:51 pm

Membuat orang lain menghargai Anda

with one comment

Penghargaan orang lain atas diri Anda sangat dipengaruhi oleh sejauh mana Anda menghargai diri Anda sendiri. Berikut beberapa tips tentang bagaimana membuat orang lain menghargai Anda dengan cara mengubah persepsi atas diri Anda sendiri (Saya dapat dari Majalah Intisari, lupa edisinya).

  • Banggalah terhadap hasil pencapaian Anda apabila Anda berhasil menyelesaikan pekerjaan dengan sukses. Jangan menganggapnya sebagai keberuntungan belaka. Semua bisa Anda peroleh karena kerja keras Anda.
  • Ucapkan terima kasih kepada orang yang memuji Anda, tanpa harus merasa malu atau jengah.
  • Ungkapkan perasaan Anda (misalnya mencintai seseorang) dengan tulus kepada orang yang memang anda cintai. Jangan dipendam
  • Akui kesalahan apabila Anda melakukan kekeliruan. Semua orang pernah melakukan kesalahan, namun hanya orang yang menghargai diri sendirilah yang mau dan tahu cara mengakuinya. Yang perlu dilakukan adalah mengakuinya dengan penuh rasa tanggung jawab, mengambil pelajaran dari kesalahan yang Anda buat, dan berusaha memperbaikinya.
  • Apabila seseorang mengancam Anda dengan kata-kata, lawan dengan perkataan pula, tidak perlu bertindak emosional.
  • Jangan pernah menghina orang lain. Seseorang yang bermartabat dan menghargai dirinya sendiri tidak akan pernah merendahkan martabat dan harga diri orang lain.
  • Berjalanlah dengan penuh percaya diri. Angkat kepala Anda dan tegakkan punggung. Yakinlah bahwa Anda melakukan cara berjalan dengan benar.
  • Berpakaianlah dengan rapi. Perhatikan penampilan, kerapian, serta kebersihan tubuh Anda; namun jangan terkesan berlebihan.
  • Mencoba sesuatu yang baru setiap minggu: majalah baru, kenalan baru, film terbaru – mungkin juga teman kencan yang baru;-)
  • Turuti keinginan hati Anda. Pikirkan dan lakukan sesuatu yang telah lama Anda rencanakan. Misal, melakukan perjalanan jauh, membeli seikat bunga buat seseorang, menulis jurnal pribadi (weblog) di internet …
  • Pandangan Anda terhadap diri Anda lebih penting dari apa yang dikatakan orang lain tentang Anda.
  • Sendirian tidak berarti kesepian. Rasa kesepian pada dasarnya berasal dari dalam diri Anda sendiri.
  • Yakinlah bahwa Anda orang yang berharga, entah dicintai atau tidak.
  • Menyadari bahwa masa lalu tetaplah masa lalu. Tidak peduli seberapa sering Anda memikirkan (dan mungkin menyesalinya), Anda tidak bisa mengubahnya.
  • Hargai diri anda sebagai satu pribadi yang utuh.


Some quotes

  • Jika Anda bisa berpikir tentang hari yang lalu tanpa rasa penyesalan, dan hari esok tanpa rasa takut, Anda sudah berjalan di jalur kehidupan yang benar.
  • Kebahagiaan datang jika kita berhenti mengeluh tentang kesulitan-kesulitan yang kita hadapi, dan mengucapkan terima kasih atas kesulitan-kesulitan yang tidak menimpa kita.
  • Detail kehidupan kita akan dilupakan oleh banyak orang, namun semangat dan kasih sayang kita akan selalu dikenang oleh orang-orang yang pernah merasakannya. (Liv Ullman)

Written by jojoba

Agustus 17, 2007 at 8:36 am

Ditulis dalam Inspirasi, Jagung Pop, Serbaneka

Tagged with , ,