Aksara yang mengalir begitu saja – mbuh lah..

Waiting on the World to Change

Archive for the ‘Persona’ Category

Jalan Samurai Yukio Mishima

with 5 comments

Beberapa orang dapat mendengar dengan jelas bisikan lirih dari dalam hatinya, dan mereka mengikutinya. Sebagian dari mereka berakhir sebagai orang gila, dan sebagian yang lain menjadi legenda ..

 

(Legend of the Falls)

 

yukio_mishima_san_sebastianthumbnail.jpg

(Catatan penulis: Ini adalah kisah nyata yang dipenuhi darah dan kekerasan, tanpa stilisasi atau penghalusan verbal. Bagi Anda yang tidak menyukai tema-tema semacam ini atau memiliki ambang toleransi yang rendah atas deskripsi kekerasan secara eksplisit, saya menyarankan untuk tidak membacanya karena mungkin akan membekaskan perasaan yang tidak enak)

25 November 1970. Ritual Seppuku, satu tradisi lama para samurai yang telah dilupakan terulang dengan cara yang menggegerkan seluruh Jepang. Pelakunya selebriti eksentrik yang menurut pandangan awam – termasuk Perdana Menteri Eisaku Sato – telah kerasukan kichigai alias sinting. Dalam pandangan politisi, mereka tengah membuat sebuah pernyataan politik. Ahli kejiwaan memandang kalau itu sebuah upaya pencapaian erotisme yang paripurna dari sepasang homoseks yang memadu kasih dengan cara tak lazim. Para sastrawan memandang tindakan itu sebagai manifestasi riil penyatuan diri seorang pengarang dengan karyanya. Apapun analisisnya, hal tersebut menunjukkan bahwa tidaklah mudah memahami secara utuh sosok Mishima dengan segenap gerak langkahnya.

Yukio Mishima adalah fiksi. Mungkin itulah bekal pengertian awal yang perlu kita bawa sebelum mencoba memahaminya lebih jauh. Yukio Mishima hanyalah sebuah nama pena yang tercantum pada novel-novel seperti Kinkaku-ji (The Temple of the Golden Pavilion), Kamen no Kokuhaku (Confession of a Mask), atau Hagakure Nyumon (Way of the Samurai). Nama asli penulis novel-novel tersebut adalah Kimitake Hiraoka.

180px-yukio_mishima_1931.gifKimitake lahir di Distrik Yotsuya (kini Shinjuku), Tokyo, pada 14 Januari 1925 sebagai putra pasangan Azusa Hiraoka dan Shizue. Namun masa kecil Kimitake didominasi pengaruh kuat neneknya, Natsu, yang mengasuhnya hingga umur 12 tahun. Natsu memiliki perangai yang kurang lumrah, cenderung sadistik dan terkadang suka ‘kumat’ (morbid outburst (?)). Karakter abnormal semacam ini acapkali muncul dalam tulisan-tulisan Mishima. Sang nenek juga diketahui selalu melarang Kimitake keluar rumah, bermain, atau bergaul dengan anak laki-laki lain. Ini membuat Kimitake kecil lebih banyak menghabiskan waktu seorang diri, atau bermain boneka dengan sepupu perempuannya. Lepas dari asuhan neneknya, Kimitake kembali ke rumah orangtuanya, dan kali ini mesti menghadapi pola asuhan bergaya disiplin militer dari ayahnya yang juga keras.

mishima_highschool.gif

Pada usia 12 itu pula Kimitake masuk ke sekolah elit Peers school. Enam tahun bersekolah di sana, Kimitake diterima sebagai anggota termuda dewan editorial pada komunitas kesusastraan di sekolah tersebut. Karya tulis pertamanya adalah cerpen berjudul Hanazakari No Mori (The Forest in Full Bloom), sebuah cerpen dengan gaya tuturan penuh metafor dan aforisme, di mana sang narator merasakan satu penyatuan diri dengan arwah nenek moyangnya. Gurunya begitu terkesan dengan cerita itu sehingga merekomendasikannya untuk dimuat ke majalah sastra bergengsi Bungei-Bunka. Tahun 1944 naskah tersebut diterbitkan sebagai buku. Untuk menghindari gelombang kedengkian kawan-kawan sekolahnya, sang guru memberi Kimitake sebuah nama samaran. Maka lahirlah Yukio Mishima.

Pada Januari 1946 Mishima mengunjungi Kawabata Yasunari di kediamannya di Kamakura dengan membawa naskah Chusei dan Tabako, sembari memohon bimbingan pada sastrawan besar itu. Atas rekomendasi Kawabata naskah Tabako diterbitkan di majalah sastra Ningen.

Lulus dari kampus bergengsi Universitas Tokyo pada 1947, Mishima bekerja di kementrian keuangan Jepang. Sebuah karir yang menjanjikan masa depan. Namun begitu, nampaknya Mishima bekerja di tempat tersebut sekadar untuk menyenangkan ayahnya yang kurang menyukai aktivitas kepenulisannya. Hanya setahun bekerja di sana, Mishima mencari-cari alasan sedemikian rupa sehingga sang ayah terpaksa menyetujui pengunduran dirinya dari pekerjaan tetap tersebut untuk ‘membaktikan’ hidup sepenuhnya sebagai pengarang.

Awal ketenaran Mishima (sekaligus bisik-bisik tentang orientasi seksualnya) dimulai saat novel semi autobiografinya Kamen no Kokuhaku (Confession of a Mask) laris manis di pasaran. Novel tersebut berkisah tentang seorang anak muda gay yang terpaksa harus hidup dengan mengenakan ‘topeng’ heteroseksual agar diterima masyarakat. Mishima tidak hanya mejadi bintang di negerinya sendiri, tetapi juga di dunia internasional di mana karya-karyanya banyak diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris. Selain menulis novel, cerpen, dan esai sastra, Mishima juga menekuni seni teater Kabuki dan versi modern dari drama tradisional Jepang No.

mishima.jpeg

Naluri selebriti Mishima nampaknya sebuah bakat alam. Novel-novel kontemporer dan segenap aktivitasnya menjadi sisi menarik kehidupan sosial Jepang masa itu, selain kisah kehidupan pribadinya sendiri yang memang ‘layak’ buat bahan gunjingan. Novel Kinkaku-ji (The Temple of Golden Pavilion) adalah imajinasinya tentang pembakaran sebuah kuil terkenal di kota Kyoto oleh seorang anak yang ingin melindungi kesucian kuil itu. Novel Utage no Ato (After the Banquet) membuatnya dituntut atas pelanggaran privasi karena jalan ceritanya sangat mirip dengan kehidupan pribadi Arita Hachiro, politisi yang tengah berkampanye untuk jabatan gubernur Tokyo. Mishima sempat diisukan dekat dengan Michiko Soda (kini permaisuri Kaisar Akihito) dan beberapa wanita lain termasuk seorang politisi wanita terkemuka yang sempat diajaknya menikah, sebelum akhrnya menikahi Yoko Sugiyama pada 11 Juni 1958 dan memiliki dua anak. Namun pada saat yang sama Mishima juga dikenal sebagai pengunjung bar kaum gay di Tokyo dan berhubungan “cukup dekat” dengan komandan Tatenokai (organisasi tentara swasta yang dibentuk dan dipimpinnya) bernama Masakatsu Morita. Morita inilah yang menemani kematiannya dalam aksi Seppuku di Markas Pasukan Beladiri Jepang.

Mishima gemar menjaga kebugaran tubuhnya dengan rutin berlatih angkat beban sejak tahun 1955. Ketekunannya berlatih kendo (seni pedang) membuatnya sangat mahir dalam olahraga ini, selain menambahi embel-embelnya sebagai sang penulis-pendekar samurai (the samurai writer).

Mishima tiga kali dinominasikan sebagai pemenang hadiah Nobel kesusastraan, dan menjadi dambaan banyak penerbit buku di luar negeri. Namun begitu Dia menyadari kesempatannya meraih penghargaan prestisius tersebut menipis saat Kawabata Yasunari, sang mentor, telah lebih dahulu meraihnya pada 1968.

Kronologi prosesi Seppuku Mishima dan Morita

Pagi, 25 November 1970. Yukio Mishima sibuk mempersiapkan diri untuk menjadi ‘lakon’ sebuah pertunjukan besar. Dia mengenakan fundoshi (cawat tradisional) berwarna putih, kemudian memakai seragam militer Tatenokai. Sebilah samurai panjang, yoroidoshi (pedang pendek), setumpuk kertas selebaran gekibun, dan bagian terakhir naskah tetralogi Lautan Kesuburan (The Sea of Fertility) dalam amplop tebal yang baru selesai dikerjakannya setelah enam tahun turut dibawa serta. Mishima juga menelepon beberapa wartawan kenalannya untuk tidak melewatkan sebuah “pertunjukan”, tanpa menjelaskan apa pertunjukan yang dimaksud.

Tak lama setelah semua persiapan matang, Mishima beserta rombongan pergi menuju Pangkalan Ichigaya, Markas Besar Japan’s Self-Defence Force atau pasukan beladiri Jepang. Rombongan yang mengendarai sedan Toyota Corolla putih itu terdiri atas Mishima sendiri, komandan Tatenokai Masakatsu Morita, dan tiga anggota Tatenokai yakni Chibi-Koga, Hiroyashu Koga, dan Ogawa. Mobil dikemudikan oleh Chibi Koga. Mishima duduk di sebelahnya.

Sebelum pukul 11 mereka telah tiba di Pangkalan Ichigaya. Penjaga gerbang yang telah diberitahu rencana kedatangan mereka – namun tidak tahu maksud sebenarnya – membiarkan mereka lewat. Mobil tersebut lantas melaju bebas di dalam kompleks menuju kantor komandan pangkalan. Tak lama kemudian Mayor Sawamoto, ajudan komandan pangkalan, mempersilakan mereka untuk masuk dan bertemu langsung dengan komandan pangkalan itu, Jenderal Mashita.

Mishima memperkenalkan satu per satu anggota Tatenokai kepada Mashita. Sebelum duduk, Mishima melepaskan samurai di pinggangnya dan diletakkannya di kursi. Kepada Mashita dia menjelaskan bahwa samurai itu buatan abad 17, yang dibuktikan dengan selembar kekunan (sertifikat). Mashita mengelap samurai itu dengan tisu kertas, mengayun-ayunkannya sembari memuji keindahan pedang itu, lalu memberikannya kembali pada Mishima. Bersamaan dengan itu, Mishima memberi kode pada Chibi-Koga lewat isyarat mata. Chibi-Koga berdiri dan mencekik leher sang jenderal dari belakang. Keempat anak buah Mishima yang lain dengan cekatan mengeluarkan tali dari saku mereka untuk mengikat kaki dan tangan Mashita, lalu menarik meja tulis buat mengganjal pintu masuk.

Suasana pangkalan berubah kacau-balau ketika para tentara menyadari aksi penyanderaan komandan mereka. Mereka mencoba menorobos masuk namun dihalang-halangi oleh Mishima dan anak buahnya. Tiga orang perwira terluka tangan dan punggungnya terkena sabetan samurai dan harus digotong keluar. Mereka lantas memilih mundur untuk menjaga keselamatan Mashita, dan wakil komandan pangkalan menelepon polisi untuk menangkap Mishima. Mishima lantas menuntut agar seluruh penghuni pangkalan berkumpul di lapangan parade untuk mendengarkan pidatonya.

Menjelang tengah hari, Morita dan Ogawa muncul di beranda sembari memancangkan bendera putih panjang berisi syarat-syarat untuk keselamatan Mashita. Mereka juga menjatuhkan selebaran gekibun atau manifesto dari Mishima. Isi manifesto itu meniru pernyataan para pelaku kudeta militer tahun 1930:

Marilah kita kembalikan Jepang ke bentuk murninya dan biarkan kami mati. Apakah kalian akan menghargai hidup dan membiarkan semangat kebangsaan mati? Kami akan menunjukkan suatu nilai tinggi yang jauh lebih mulia ketimbang penghormatan pada kehidupan. Bukan kebebasan. Bukan demokrasi. Hanya Nippon, Nippon, tanah air sejarah dan tradisi. Jepang yang kita cintai.”

mishima701125.jpg

Tepat pukul 12 Mishima muncul di balkon jendela ruangan Mashita dan mulai berpidato. Walau dicemooh dan suaranya tak terdengar karena ditelan raungan helikopter militer yang berputar-putar, dia tetap melanjutkan pidatonya. Mishima berbicara panjang lebar tentang nasionalisme, harus kembalinya tentara ke kancah politik, restorasi dan perubahan konstitusi Jepang. Di akhir pidato Morita datang mendekat, lalu mereka berbareng meneriakkan Tenno Haika Banzai! (Hidup Kaisar!) tiga kali.

Keduanya masuk kembali ke dalam ruangan. Mishima membuka seragam militernya hingga tinggal mengenakan fundoshi, lalu berlutut di atas karpet merah. Setelah beberapa kali menarik napas, ia mengambil yoroidoshi – pedang pendek bermata dua dengan ujung yang tajam – yang kemudian ditusukkannya dalam-dalam ke salah satu titik di perut bagian kiri. Sekejap mukanya memutih dan tangannya gemetar. Dengan sisa-sisa tenaganya dicabutnya kembali yoroidoshi itu, lalu dibuatnya sayatan-sayatan mendatar di perut. Darah yang mengucur deras dari luka itu menggenangi karpet dan membasahi fundoshi yang dikenakannya.

Morita yang telah siap di belakangnya segera mengayunkan samurai ke leher Mishima. Nampaknya dia gugup. Samurai itu meleset dan menghantam karpet. Diulanginya sekali lagi, namun kali ini justru mengenai punggung sehingga meninggalkan luka yang dalam dan mengerikan. Hiroyashu Koga yang lebih berpengalaman dalam kendo lantas mengambil alih. Dengan sekali tebas dia memenggal kepala Mishima.

m_head.jpg

‘Selesai’ dengan Mishima, kini giliran Morita. Dia melepas jaket dan celana panjangnya, lantas mengulangi prosesi serupa. Kali ini tidak banyak kesulitan. Hiroyashu Koga memenggal kepala Morita dengan sekali tebasan samurai. Tak lama kemudian polisi berhasil masuk untuk menyelamatkan Mashita dan menangkap ketiga anak buah Mishima, yang menyerahkan diri tanpa perlawanan.

***

Setelah semua berakhir

Berdasarkan penyelidikan pasca kejadian diketahui secara jelas bahwa prosesi Seppuku itu telah dipersiapkan secara matang setidaknya sejak setahun sebelumnya. Tidak ada pihak luar yang mengetahui rencana tersebut selain beberapa anggota inti Tatenokai. Mishima bahkan telah mempersiapkan sejumlah besar uang untuk membayar pengacara bagi ketiga anak buahnya yang ditangkap polisi.

Penulis biografi, penterjemah, dan sahabat Mishima, John Nathan, memperkuat pendapat bahwa pidato politik dan manifesto Mishima hanyalah dalih belaka untuk menutupi motif yang lain. Menurutnya, Mishima memang telah lama memimpikan ritual bunuh diri tersebut. Dalam naskah keempat tetralogi Lautan Kesuburan yang berjudul The Decay of the Angel (Membusuknya sang Malaikat), terdapat karakter utama bernama Honda yang menyesali dirinya karena tak kuasa mengehentikan waktu, sehingga tak dapat menikmati keindahan fisik yang abadi. Satu-satunya cara memenangkan ‘pertandingan’ melawan waktu adalah dengan mendahului menghancurkan diri sendiri sebelum sang waktu menghancurkannya pelan-pelan.

Teori lain yang berangkat dari titik tolak psikoanalisis mengatakan bahwa tindakan bunuh diri bersama itu merupakan ekses dari kecenderungan homoseksualitasnya. Sudah menjadi rahasia umum di Jepang pada masa itu kalau Mishima dan Morita menjalin hubungan istimewa, lebih dari sekadar ‘sahabat’.

Melakukan shinju (bunuh diri ganda) adalah seakan bukti cinta dan kesetiaan yang paling dalam, namun pada dasarnya hanya topeng bagi egoisme individual Mishima. Freud mengatakan bahwa homoseksualitas adalah sisi ekstrem dari komplek narsisisme sekunder (secondary narcissism) alias cinta pada diri sendiri. Narsisisme yang ekstrem akan membuat seseorang hanya mendapat kepuasan dengan memilih obyek kecintaan yang menyerupai dirinya. Seorang pria gay akan mencintai sesama pria semata karena secara karakteristik lebih mirip dengan dirinya. Dengan kata lain, yang dicintainya sesungguhnya bukan pasangannya, melainkan bayangan dirinya yang melekat pada pasangannya itu.

Akan lebih meriah kalau Erich Fromm ditarik masuk ke dalam lingkaran diskusi bunuh diri Mishima. Fromm (yang membuat kombinasi unik antara pandangan determinasi biologis Freud dengan determinasi sosial Marx atas individu) berpendapat bahwa kebebasan (freedom) adalah karakteristik sentral semua makhluk hidup. Paradoks yang umum terjadi pada manusia, kebebasan sulit diperoleh karena karena manusia cenderung untuk menghindarinya (Escape from freedom; lari dari kebebasan). Mengapa? Karena setiap kebebasan yang diperoleh individu harus dibayar dengan tanggung jawab yang berat untuk dilaksanakan. Alternatif pertama untuk lari dari kebebasan adalah dengan meleburkan diri ke dalam otoritarianisme.

Pada otoritarianisme, orang lari dari kebebasan dengan meleburkan diri ke dalam sistem sosial berjenjang. Dalam contoh skala ringan kehidupan sehari-hari, ini terjadi pada mahasiswa pasif yang menelan mentah-mentah semua teori yang diberikan dosennya. Sikap kritis – sebagai refleksi dari kebebasan – hanya akan membuatnya dicemooh sebagai bocah keminter, memaksanya belajar lebih keras untuk mencari referensi bantahan atas teori yang ia ragukan, dan membuatnya berisiko mendapat nilai D atau E pada ujian karena jawabannya kelewat improvisatif dan “tidak sesuai dengan yang diberikan dosen.” Di sisi lain sang dosen yang menempati level lebih tinggi dalam struktur pun lari dari kebebasan intelektualnya sendiri dengan hanya memberikan textbook dan handout yang sama dari tahun ke tahun alih-alih menyegarkan pengetahuan, mengajarkan materi baru atau studi kasus riil yang relevan dengan perkembangan zaman. “Saya tidak ada waktu!” Dus mengelola sebuah kebebasan sungguh bukan pekerjaan gampang sehingga orang lebih suka lari darinya.

Otoritarianisme dalam versi yang ekstrem adalah sado-masokisme. Inilah yang nampaknya terjadi pada Mishima. Erotisme dan darah adalah tema-tema yang melekat erat pada karya-karya Mishima. Kegandrungan berlebihan pada olahraga maskulin kendo, body building, dan hal-hal berbau kemiliteran adalah usahanya melakukan bantahan psikis atas sisi feminin yang tertancap lekat dalam kejiwaannya, yang dalam mekanisme pertahanan ego menurut Freud dinamakan pembentukan reaksi (reaction formation). Ingat bahwa dalam asuhan neneknya hingga usia 12 tahun – periode di mana seorang bocah layaknya ember kosong yang tengah menampung apa saja yang diisikan kepadanya – Mishima dilarang bergaul dengan sesama anak laki-laki sehingga lebih sering bermain boneka bersama sepupu perempuannya. Satu pose imajinatifnya sebagai San Sebastian dengan tangan terikat dan tubuh ditancapi anak panah semakin menguatkan tesis bahwa Mishima memang menikmati posisi sebagai obyek pasif penderitaan dan siksaan (masokis). Di masa kecilnya konon Mishima dapat mengalami orgasme hanya dengan memandangi gambar San Sebastian dalam posisi tersebut.

Atau barangkali semua itu karena faktor kepribadian ganda dalam satu tubuh? Adakah pribadi Kimitake Hiraoka cemburu pada kemasyhuran Yukio Mishima sehingga memutuskan untuk mematikannya saja? Yukio Mishima yang datang begitu saja untuk mengambil alih tubuh dan pikirannya, yang telah mencuri karya-karya besarnya?

Apapun latar belakangnya, Yukio Mishima (atau Kimitake Hiraoka) adalah ‘preparat’ yang menarik dan tak pernah lekang buat studi kejiwaan maupun kesusastraan. Ironi dari kesuksesannya “menghentikan waktu” telah membuat generasi berikutnya (termasuk saya yang lahir satu dasawarsa setelah kematiannya) hanya melihat Mishima dalam citra sebagai sosok muda dan kekar dengan samurai terhunus di tangan dan menikmati kecantikan fisik yang lestari, bukan sosok malaikat yang menjadi renta dan dibusukkan pelan-pelan oleh waktu.

yuukoku051.jpg

Karya-karya tulis terpilih Yukio Mishima

yukio72.jpg

1948 Kamen No Kokuhaku (Confession of a Mask)

1950 Ai no Kawaki (Thirst for Love)

1953 Kinjiki (Forbidden Colors)

1954 Shiosai (The Sound of Waves)

1956 Kinkaku-ji (The Temple of Golden Pavilion)

1959 Kyoko no le (Kyoko’s House)

1960 Utage no Ato (After the Banquet)

1963 Gogo no Eiko (The Sailor Who Fell from Grace with the Sea)

1964 Kinu to Meisatsu (Silk and Insight)

1965 Mikumano Mode (Act of Worship, cerpen)

1965 Sado Kosakhu Fujin (Madame de Sade, drama)

1966 Yukoku (Patriotism, cerpen)

1966 Manatsu no Shi (Death in Midsummer and Other Stories)

1967 Hagakure Nyumon (Way of the Samurai)

1968 Waga Tomo Hittora (My Friend Hitler, drama)
477002903901lzzzzzzz.jpg

1970 Taiyo no Tetsu (Sun and Steel)

1964 – 1970 : Tetralogi Hojo no Umi (The Sea of Fertility):

1968 Haru no Yuki (Spring Snow)

1969 Honba (Runaway Horses)

1970 Akatsuki no Tera (The Temple of Dawn)

1970 Tennin Gosui (The Decay of the Angel)

Referensi:

http://en.wikipedia.org/wiki/Yukio_Mishima

http://www.vill.yamanakako.yamanashi.jp/bungaku/mishima/index-e.html

Stokes, Henry Scott. 1974. The Life and Death of Yukio Mishima. New York: Ballantine Books

ldbooklg.jpg

Baca juga tulisan-tulisan pendukung dan klip menarik ini:

Pencapaian puncak Mishima dalam Kendo (beladiri pedang Jepang)

Esai tentang motif bunuh diri Mishima

Klip singkat wawancara Mishima dalam dokumenter BBC

Artikel tentang ritual bunuh diri Seppuku

Iklan

Written by jojoba

November 22, 2007 at 6:20 pm

W.S. Rendra: Maqam Mereka Masih Viagra

leave a comment »

Penyair besar berjuluk Burung Merak itu memasuki usia 72 tahun. Suaranya tak lagi selalu menggelegar, tapi karismanya masih membayang. Ketika berbicara, kutipan ayat suci kerap mengalir dengan pengucapan puitis dari mulutnya. Beberapa teman lama dan kerabat menyambanginya pada hari ulang tahun, Rabu pekan lalu, untuk mengucap tahniah. Sehari-hari Rendra kini menyibukkan diri dengan membaca teks sejarah–kegiatan yang sudah dilakukannya dalam beberapa tahun terakhir. Berbagai bacaan ia lahap tanpa batas, mulai dari asal mula buah-buahan dan tanaman pangan yang sekarang lazim ditemui di Indonesia sampai periode kejayaan dan keruntuhan kerajaan-kerajaan Nusantara.

Seniman yang kenyang masuk tahanan di masa Orde Lama dan Orde Baru itu tak lagi terlalu produktif berteater. Pentas teater terakhirnya adalah Sobrat, yang berlangsung di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, dua tahun lalu. Tapi ia masih sering diundang berorasi, berbicara, dan sesekali membaca puisi di berbagai daerah.

Seperti para leluhur yang, menurutnya, tak hanya pandai menyerap tapi juga mahir mengolah, Rendra masih mengikuti dan menganalisis berbagai peristiwa yang terjadi di Tanah Air. Di padepokannya yang luas dan asri di Cipayung Jaya, Depok, Jawa Barat, ia menuturkan berbagai soal, mulai dari sastra, fundamentalisme agama, sampai spiritualitas kepada Nugroho Dewanto, Seno Joko Suyono, dan Anton Septian dari Tempo. Berikut nukilannya.

(Keterangan: T=Tempo; R=Rendra)

T: Apakah Anda masih mengikuti perkembangan dunia sastra kita?

R: Saya rutin mengikuti dengan membaca rubrik sastra dan puisi di Koran Tempo dan Kompas yang saya langgani. Siapa saja sastrawan muda kita yang menurut Anda cukup menonjol? Salah satunya Nenden Lilis. Sebagai lirikus, makin lama dia makin matang. Dia sudah pentas di Eropa. Juga Joko Pinurbo dan banyak lagi yang lain.

 

T: Ada kritik, seperti disampaikan penyair Taufiq Ismail, bahwa dunia sastra kita belakangan tergelincir kepada erotisme. Bahkan ia menyebut ada Gerakan Syahwat Merdeka dan Fiksi Aliran Kelamin dalam dunia sastra kita?

R: Erotika bukan hal baru dalam dunia sastra kita. Sudah ada sejak zaman Centhini, juga dalam cerita-cerita carangan seperti Sembodro Larung dan Pergiwo-Pergiwati. Wah, itu erotikanya indah. Erotika itu penting untuk kesehatan badan dan gairah pemikiran. Berbeda dengan malaikat, kita itu dilahirkan dengan hormon-hormon yang menimbulkan nafsu. Kita diciptakan Allah dengan hormon semacam itu yang perlu peremajaan. Menurut agama saya yaitu Islam, erotika dan seksualita itu boleh. Islam itu bukan agama yang aseksual. Yang dilarang itu adalah perzinaan. Erotika itu bagus untuk menjaga kebugaran. Jadi erotika tidak untuk diredam.

 

T: Sudah seberapa gawat sesungguhnya dunia sastra kita sehingga ada yang merasa harus melarang sastra yang menonjolkan erotika?

R: Ah, enggak gawat. Zaman sekarang apresiasi terhadap tubuh semakin terbuka. Orang semakin banyak pakai bikini. Kita yang harus menahan diri.

 

T: Beberapa novelis seperti Ayu Utami dan Jenar Mahesa Ayu dinilai vulgar karena menonjolkan adegan persenggamaan secara terperinci, bagaimana menurut Anda?

R: Gerakan anti-erotika memang agak galak sekarang ini. Saya kira itu salah kaprah dalam soal me-manage nafsu. Mereka bukan mengendalikan nafsunya tapi malah melarang-larang orang lain. Seperti orang mengatakan jangan terlalu banyak makan gula, bikin gemuk. Jangan terlalu banyak makan lemak nanti kolesterol. Mestinya dia menahan diri, bukan mengatakan daging atau makanan bergula harus dilarang. Itu menunjukkan perasaan suudzhon dan zalim karena melarang sesuatu yang tak dilarang oleh agama.

 

T: Menurut Anda, karya mereka tidak vulgar?

R: Dengan sikap seperti itu, orang yang menganggap vulgar sesungguhnya dia sendiri sangat vulgar. Meremehkan naluri manusia. Meremehkan sunatullah.

 

T: Mereka sendiri tak bisa menahan diri?

R: Mereka tidak bisa me-manage diri sendiri, menyalahkan orang lain. Buruk muka cermin dibelah.

 

T: Kenapa gerakan anti-erotika sekarang begitu kencang?

R: Mereka itu orang yang beragama untuk politik. Mereka merasa memonopoli kebenaran dan kesucian. Mereka memperkenankan dirinya melakukan kekerasan dan kezaliman kepada orang lain.

 

T: Anda percaya ada karya sastra yang sengaja untuk merangsang berahi?

R: Memang ada yang sengaja mengeksploitasi seksualitas untuk merangsang pancaindra, itu saya sebut picisan. Mereka hanya merangsang sensasi. Seperti pembacaan puisi yang mengandung sensasi, membawakan diri dengan sensasional. Tidak ada hubungan dengan puisi, sekadar gimmick.

 

T: Padahal kesadaran manusia tak cuma pancaindra?

R: Kesadaran manusia itu adalah kesadaran pancaindra, kesadaran naluri, dan kesadaran batin atau rohani. Pada tingkat tertentu, intensitas penghayatan rohani yang bertemu dengan naluri dan pikiran, tiga-tiganya bila bersatu dengan intens sering muncul imaji erotik seperti yang terdapat pada candi. Rasa menyatunya diri dengan alam.

 

T: Artinya, itu semua alamiah?

R: Iya. Orang Jawa mengatakan greget. Puncak dari greget kadang-kadang adalah erotik. Kelenjar-kelenjar adrenalin menjadi somatik. Gagasan, buah pikiran yang turun ke kalbu lalu bertemu gairah hidup itu somatik, membangkitkan air mata. Kadang-kadang bisa membuat kita menari atau menulis syair sambil menangis. Saya sering seperti itu. Bukan cengeng. Lalu sambil gemetar. Somatik. Kelenjar-kelenjar bergeletar. Sebab di dalam kelenjar-kelenjar itu terdapat melodi. Kalau jantung berdetak, dia berirama. Jadi, pada waktu buah pikiran turun ke kalbu, pertemuan itu intens, dia membutuhkan bentuk. Apalagi waktu bertemu naluri, dia butuh irama. Itu melodi. Dalam intensitas seperti itu muncul imaji-imaji erotik.

 

T: Anda mengalaminya juga ketika berkarya?

R: Waktu saya menulis Suto Mencari Bapak, itu melahirkan imaji persetubuhan. Saya kira seperti itu juga yang terjadi pada relief-relief di Candi Cetho dan Candi Sukuh. Atau dalam cerita Bimasraya. Itu tak ada hubungannya dengan sekadar pornografi.

 

T: Dan itu semua bukan sekadar syahwat?

R: Itu bukan syahwat. Itu kelenjar. Itu greget. Kalau sekadar syahwat itu maqam-nya obat kuat, maqam-nya masih Viagra. Sayang sekali, penghayatan akan kehidupan dan bersatu dengan alam itu hanya terbatas sampai pergaulan Viagra. Mereka kurang mendalam, jadi tak perlu ditanggapi secara berlebih-lebihan. Urusannya dengan majalah picisan saja.

 

T: Apakah gerakan anti-erotika juga ada dalam sejarah di Jawa?

R: Tidak ada. Cuma ada sekarang. Kebudayaan kita itu matang dalam menangani erotika. Tidak melihat kerbau perempuan terus berahi. Kalau itu sudah penyakit jiwa modern. Kita tidak cuma menyerap, tapi juga mengolah.

 

T: Apa maksudnya matang dalam menangani erotika?

R: Artinya, tidak mudah terangsang. Kita bisa me-manage nafsu. Melihat Ratu Ken Dedes, orang berkomentar, “Wah, payudaranya masih bagus.” Itu maksudnya Ken Dedes masih sehat. Bukan berarti, “Aku pengen dia.” Seperti orang lihat kembang bagus, terus ingin memetik. Orang yang begitu-begitu tidak siap beragama. Kurang beriman. Sibuk menyalahkan dunia. Mengaitkan agama dengan kekuasaan atas kebenaran. Sangat tidak Islamiyah.

 

T: Bagaimana dengan kelompok yang menyebut diri sastra Islami yang mendambakan akhirat?

R: Boleh saja. Saya juga menyampaikan hal semacam itu dalam Suto Mencari Bapak. Nyanyian Angsa itu proses pelacur yang mau meninggal dan berakhir dengan persetubuhan. Tapi tidak ada niat membangkitkan kepuasan pancaindra.

 

T: Bagaimana Anda memandang RUU Anti-Pornografi?

R: Itu menunjukkan kelemahan iman. Menghadapi nafsunya sendiri mbok ya enggak usah pakai undang-undang. Ada ulama dari Cirebon, KH Husein Muhammad, pernah mengingatkan saya. Mas, Nabi dulu pernah berpesan, sepeninggalku janganlah hal-hal yang tak bisa dirumuskan, diundang-undangkan. Dan jangan memperkarakan sesuatu yang tak bisa dirumuskan.

 

T: Pornografi termasuk hal yang tak bisa dirumuskan?

R: Bila Anda ke Bali atau Hawaii, orang pakai pakaian minim dan ketat itu tidak apa-apa. Apalagi kalau itu hanya grafik. Tapi di tempat lain bisa jadi masalah.

 

T: Bukankah ada hukum adat yang malah berbeda dalam memandang pornografi?

R: Pada beberapa suku bangsa yang hukum adatnya masih kuat, malah ada perumusan yang jelas terhadap pornoaksi, yaitu sesuatu yang keluar dari tubuh adalah najis. Jangan sampai itu terjadi di muka umum. Jadi, kalau saya kentut, meludah, membersihkan kotoran mata, dan lain-lain, jangan di muka umum. Termasuk kalau saya mengeluarkan darah, saya menikam atau menggores seseorang sampai keluar darah, itu jadi masalah. Tak usah sampai membunuh, tapi sekadar membuat berdarah saja sudah masalah. Lalu berlanjut hal-hal yang disebut fi’il di Lampung atau siri di Bugis. Menolak hadiah, meremehkan unjuk kebaikan orang lain, itu fi’il. Merusak komunikasi dan silaturahim. Tidak dermawan dalam bersikap.

 

T: Itu juga pelanggaran?

R: Iya, saya tidak suka itu. Sikap arogan. Tidak dermawan dalam bersikap dan perkataan. Tidak mengenal bersyukur.

 

T: Bagaimana dengan beberapa daerah yang memberlakukan peraturan tentang syariat?

R: Saya tidak mau tinggal di tempat seperti itu. Bayangkan ada pekerja yang ditangkap karena kemalaman. Orang didorong hidup dalam prasangka buruk. Membuat undang-undang kok dasarnya suudzhon.

 

T: Mungkin terlalu mencontoh budaya Arab?

R: Ya, itu kan budaya Arab. Allah tidak menyukai orang yang penuh waswas dan suudzhon. Kita tidak bisa terlalu berpaling ke Timur Tengah karena rasa suudzhon-nya luar biasa. Di sana sama-sama syahadatnya bisa saling membunuh kok, dengan bom lagi. Krisis moral dalam beragama ini harus diperhatikan.

 

T: Fundamentalisme agama sedang mengalami gelombang pasang?

R: Itu sudah dari dulu. Ku Klux Klan itu sejak abad ke-19 tidak juga reda. Pertentangan antara Buddha dan Buddha sudah ada sejak zaman Sriwijaya. Begitu juga Hindu dan Hindu di India. Kelemahan manusia itu kalau sudah beragama lalu ada nafsu kekuasaan politik. Kalau sudah begitu, gampang waswas. Wah, ini ada Kristenisasi. Seolah-olah Islamisasi itu beda dengan Kristenisasi.

 

T: Bagaimana sebaiknya kita bersikap?

R: Harus kembali kepada iman. Kita harus memperkuat iman, nukleus keluarga dan masyarakat yang beriman. Dan menghargai iman orang lain. Dalam Islam, itu yang diajarkan Allah. Kita tidak diajari untuk mengatakan kepada orang kafir, “Salah agamamu. Masuk neraka kamu. Buntulah jalanmu ke surga.” Sebaliknya kita diajari untuk mengatakan, “Untukmu agamamu, untukku agamaku.”

 

T: Terus, bagaimana dengan banyak yang mengaku-aku nabi kemudian dilarang MUI?

R: Itulah ekstremnya kalau orang merasa paling benar. Sudah diperingatkan Allah dalam Al-Quran, surat “Para Penyair”. “Berhati-hatilah kamu yang sering mengembara ke lembah-lembah yang gelap.” Konsep “lembah yang gelap” itu berkembang luas. Misalnya naluri. Meditasi, tafakur, dan zikir juga kalau dilakukan secara intens membuat kita seakan-akan dekat dengan Allah, padahal tidak. Lalu kita sendiri menciptakan berbagai jalan supaya dekat dengan Allah. Padahal Allah sudah memberikan jalan. Kalau kamu beriman, bertakwa, beramal saleh, beribadah, kamu dekat dengan Allah.

 

T: Belakangan ini Anda menjadi sangat religius?

R: Dari dulu saya religius. Selalu melakukan olah batin yang bagus untuk kesehatan. Tapi pengasuh saya dulu, Mas Janadi, mengingatkan, “Jangan kamu anggap dengan olah batin kamu bisa ketemu Tuhan, ketemu Nabi. Ketemu eyangmu saja tidak.”

 

T: Anda merasakan ada perbedaan spiritualitas, dulu dan sekarang?

R: Dulu ada pengaruh dari mistikus Katolik yang mengatakan, “Menjelmalah Kau.… Mendekatlah Kau.” Sedangkan orang Jawa kan maqam-nya suwung, meniadakan diri untuk dekat dengan Allah. Kita tak bisa berteriak, “Mendekatlah Kau, Ya Allah.” Tapi kita sendiri yang mendekatkan diri kepada Allah dengan perbuatan kita. Orang Jawa berpegang pada surat Al-Ikhlas. Allah itu ahad. Bahkan, sebelum Islam datang, orang Jawa itu telah suwung. Makanya, Jawa mudah menerima Islam.

 

T: Dengan spiritualitas itu Anda merasa tenteram?

R: Iya, seperti pengembara yang menemukan rumah.

 

T: Itu juga yang membuat Anda kelihatan segar?

R: Ah, ini karena diperkenankan Allah. Saya juga rutin berolahraga. Meditasi dalam gerak. Sehabis mandi, dengan tubuh masih basah, saya melakukan beberapa gerakan sampai tubuh kering (Rendra mengembangkan kedua tangannya, menggerakkan perlahan hingga kedua telapak tangannya bertemu, lalu ditarik ke arah dada). Itu sekitar sepuluh menit.

 

T: Kalau meditasi yang lain?

R: Saya memakai metode yang diperkenalkan Sosrokartono–kakak laki-laki Kartini–yaitu Petruk Kantong Bolong. Kita tak menahan, tak menolak semua suara, semua pikiran, tapi seperti kantong bolong. Masuk lalu keluar lagi. Dalam hidup sehari-hari pun, kita tidak menahan, kita ramah saja. Hal-hal yang mengganggu, yang tidak mengenakkan, permusuhan, biarkan saja. Kita tidak perlu berteriak-teriak bahwa orang lain sesat. Kesucian tidak perlu dipamer-pamerkan.

+++++++

W.S. Rendra

 

__,_._,___

Tempat dan Tanggal Lahir:

Solo, Jawa Tengah, 7 November 1935

Pendidikan:

American Academy of Dramatic Arts, Amerika, 1967

Fakultas Sastra dan Kebudayaan Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta,

tidak lulus

SMA St Josef, Solo, Jawa Tengah

Pekerjaan:

Sastrawan. Pendiri Bengkel Teater

Menulis sajak sejak 1950-an

Kumpulan puisinya: Balada Orang Tercinta meraih Hadiah Sastra Nasional

Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional, 1957

Menerima Anugerah Seni dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1969

Menerima Hadiah Seni dari Akademi Jakarta, 1975

Ditahan pemerintah Orde Baru karena pembacaan sajak-sajak protes di

Taman Ismail Marzuki, Jakarta, 1978

***-/**

 

(Sumber: Tempo, 12-18 November 2007)

Written by jojoba

November 14, 2007 at 6:35 am

Ditulis dalam Inspirasi, Persona, Susastra

Tagged with , ,

Kawabata Yasunari

with one comment

200px-kawabata_yasunari.jpg

Kawabata Yasunari. Orang barat membalik penyebutan namanya menjadi Yasunari Kawabata, barangkali karena kebiasaan penyebutan nama keluarga di belakang nama diri. Sastrawan Jepang penerima hadiah Nobel Kesusastraan tahun 1968 ini dikenal luas dunia terutama lewat novel-novelnya seperti Izu no Odoriko (The Dancing Girl of Izu; Penari dari Izu), Yukiguni (Snow Country; Negeri Salju), dan Yama no Oto (The Sound of The Mountain; Suara dari Gunung). Ada sebongkah kekuatan nan halus dalam tulisan-tulisannya – khas Jepang – yang hanya mungkin ditemukan pada karya-karya sejajar para penulis besar dari belahan dunia yang lain dalam gaya yang berbeda.

Selain menulis novel, Kawabata juga menulis cerpen. Kawabata menamai cerita-cerita pendeknya sebagai Tenohira No Shosetsu; ‘Kisah-kisah telapak tangan’. Dan memang itulah yang sesungguhnya Dia sukai: menulis cerita-cerita yang pendek namun bernas tentang peristiwa sehari-hari dengan gaya prosa liris, terlihat kalem dan enteng di permukaan namun sesungguhnya amat dalam, menyerupai sebuah sketsa impresionistis (dua terjemahan cerpennya Delima dan Pohon Prem dapat anda baca di weblog ini).

Kawabata lahir di Osaka pada 14 Juni 1899. Pada usia dua tahun dia telah menjadi yatim piatu sehingga diasuh oleh kakek-neneknya, sementara kakak perempuannya diasuh oleh bibinya. Namun hal tersebut tidak bertahan lama. Neneknya meninggal ketika usianya baru tujuh tahun, disusul oleh kakeknya yang meninggal ketika Ia berusia lima belas.

Kehilangan orang-orang terdekat dalam usia yang begitu muda, Kawabata lantas ikut bersama keluarga ibuya. Selanjutnya dia tinggal secara mandiri di sebuah asrama dekat sekolah menengah atas tempatnya menimba ilmu.

Pada bulan Maret 1917 selulus SMU Dia berangkat ke Tokyo unuk mengikuti ujian Dai-chi Koto-gakko (First Upper School) di bawah ampuan Universitas Kekaisaran Tokyo (Tokyo Imperial University).

Semasih kuliah aktivitas Kawabata antara lain ‘membangunkan’ kembali majalah sastra Universitas Tokyo Shin-shico yang telah mati suri selama empat tahun. Di media tersebut Kawabata sekaligus menerbitkan cerpennya yang pertama, Shokonsai Ikkei (A Scene from a Seance).

Kawabata lulus kuliah tahun 1924, tahun yang sama ketika Dia mulai menarik perhatian beberapa penulis dan redaktur sastra ternama, antara lain Kikuchi Kan, redaktur media sastra Bungei Shunju tempat Dia mengajukan karya-karyanya untuk dimuat. Oktober tahun itu pula Dia bersama sejumlah sastrawan seperti Kataoka Teppei dan Yokomitsu Riichi menerbitkan jurnal sastra Bungei Jidai (The Artistic Age; Zaman Artistik), sebagai reaksi atas kesusastraan tradisional Jepang yang berakar pada naturalisme, sekaligus juga mengambil posisi berlawanan dengan gerakan sastra proletar yang diusung sastrawan komunis. Selain menulis fiksi, Kawabata bekerja sebagai reporter di Mainichi Shimbun.

Meski menolak terjun ke dalam kegairahan militeristik yang melanda Jepang selama perang dunia kedua, tidak bisa dipungkiri bahwa suasana perang berpengaruh terhadap hasil karyanya. Sejumlah kritikus melihat adanya pergeseran tematis pada tulisan-tulisan Kawabata sebelum dan sesudah perang. Hal ini diakui sendiri olehnya, di mana Dia sempat menyatakan dengan getir bahwa setelah perang Dia hanya mampu menulis sejumlah elegi alias syair-syair ratapan belaka.

Mungkin hal itu pula yang membuatnya mengambil keputusan drastis, yakni mengakhiri hidupnya sendiri. Tanggal 16 April 1972 Kawabata ditemukan tewas bunuh diri dengan mengisap gas beracun.

Sejumlah teori bermunculan (selain teori stagnasi kreativitas) untuk menjelaskan motif bunuh diri Kawabata. Satu teori mengatakan bahwa Kawabata bunuh diri karena tidak tahan dengan kondisi kesehatannya yang memburuk (dia menderita Parkinson). Teori lain menyebutkan bahwa kematian sahabatnya, sastrawan kenamaan Yukio Mishima – yang bunuh diri dengan cara yang spektakuler dengan melakukan upacara harakiri di markas pasukan beladiri Jepang bersama ‘kekasih’ pria-nya Morita – sangat mengejutkannya sehingga Kawabata mengambil keputusan yang sama. Tidak ada yang dapat memastikan motif sebenarnya, karena Kawabata tidak meninggalkan catatan apapun sebelum Dia meninggal.

Karya-karya terpilih dari Kawabata Yasunari:

1926 Izu no Odoriko (The Dancing Girl of Izu)

1930 Asakusa Kureinaidan (The Scarlet Gang of Asakusa)

1935-37, 1947 Yukiguni (Snow Country)

1951-54 Meijin (The Master of Go)

1949-52 Senbazuru (Thousand Cranes)

1949-54 Yama no Oto (The Sound of the Mountain)

1954 Mizuumi (The Lake)

1961 Nemureru Bijo (The House of the Sleeping Beauties)

1962 Koto (The Old Capital)

1964 Utsukushisa to Kanashimi (To Beauty and Sadness)

1964 Kataude (One Arm)

Tenohira no Shosetsu (Palm-of-the-Hand Stories)

Referensi:

Written by jojoba

Oktober 19, 2007 at 7:42 am