Aksara yang mengalir begitu saja – mbuh lah..

Waiting on the World to Change

Archive for the ‘Inspirasi’ Category

Zona Pribadiku, Zona pribadimu

with one comment

Apakah Anda menyadari hal-hal yang tampaknya remeh, namun sangat memengaruhi interaksi Anda dengan lingkungan berkaitan dengan apa yang disebut ‘wilayah pribadi’, alias dalam bahasa sundanya disebut privacy? Pernahkah Anda memerhatikan bagaimana setiap orang, termasuk Anda sendiri, berusaha sedapat mungkin mempertahankan wilayah pribadi agar tidak dilanggar oleh orang lain? Apabila seseorang menerobos masuk melewati jarak yang kita anggap zona pribadi itu, kita akan merasa gelisah, uring-uringan, lalu ujung-ujungnya – kalau tak mampu mengontrol diri – mudah tersulut emosinya dan melakukan tindakan agresif.

Konsep tentang kebutuhan ruang pribadi pada manusia pertama kali dicetuskan oleh Antropolog Amerika bernama Edward T. Hall pada tahun 60-an, tatkala dia memperkenalkan istilah “proxemics”, yang diturunkan dari kata proximity yang berarti kedekatan. Setiap orang – mengacu pada konsep tersebut – memiliki apa yang disebut sebagai “gelembung virtual”, sebuah gelembung tak kasat mata yang bersifat fleksibel, mengikuti ke mana pun kita pergi, bertugas menjaga jarak ‘aman’ kita dari orang lain, dan membuat kita terlindungi secara psikis.

Yang menarik, besarnya kebutuhan ruang pribadi berbeda-beda pada tiap orang. Salah satu faktor yang mempengaruhinya adalah kondisi sosial ekonomi, sehingga hanya dengan mengamati bagaimana seseorang menjaga wilayah pribadinya, kita dapat menduga latar belakang sosial ekonomi orang tersebut. Inilah seni menyenangkan yang kelak melahirkan kajian populer tentang bahasa tubuh.

Bagaimana cara terbaik mempraktekkan ilmu ini? Well, keluar rumah dan pergi ke lingkungan yang ramai: jalan, mall, kantor, atau bahkan di dalam lift. Amati orang-orang di sekitar anda – dengan diam-diam tentu, bukan memelototi mereka. Perhatikan tingkah polah mereka. Selalu ada hal-hal tersirat yang hanya mungkin disadari apabila anda cukup peka:

  • Ketika sepasang pria dan wanita berciuman, anda dapat membedakan apakah ciuman tersebut ciuman kekasih atau sekadar ciuman persahabatan dengan memperhatikan jarak pinggul mereka saat berciuman. Kalau sekadar sahabat, secara tak sadar mereka akan menjaga jarak antar pinggul mereka paling tidak 15 cm. Sebaliknya, sepasang kekasih akan merapatkan pinggul mereka serapat mungkin. Di Yogyakarta kalau tidak salah juga ada skripsi yang mengupas perilaku berboncengan motor sepasang muda-mudi, yang menunjukkan tingkat kedekatan hubungan mereka. Semakin mesra hubungan mereka, semakin erat sang pembonceng (yang mestinya cewek) mendekap tubuh pasangannya, ‘biar tidak jatuh’.

  • Seseorang yang dibesarkan di desa atau kota kecil relatif memiliki zona pribadi lebih besar daripada orang kota. Ini bisa dimaklumi karena di desa orang terbiasa hidup dalam lingkungan yang lapang (persawahan), sehingga mereka menciptakan wilayah pribadi yang juga lebih besar. Ini bisa anda buktikan saat dia bersalaman. Orang kota cenderung mendekatkan tubuhnya saat bersalaman. Sebaliknya, orang desa akan menjaga jarak dan mengulurkan tangan lebih jauh. Pada orang-orang yang terbiasa hidup di daerah terpencil bahkan tidak ada kebiasaan bersalaman. Mereka lebih menjaga jarak lagi dengan hanya melambaikan tangan buat memberi salam. Seorang kawan saya punya teori lain untuk membedakan gerombolan orang desa dengan orang kota, yakni dengan melihat cara mereka berjalan dalam rombongan di trotoar. Orang kota tulen akan berjalan berjajar dan memenuhi ruang trotoar. Sebaliknya, orang desa akan berjalan berurutan satu-satu, dengan orang yang lebih berpengalaman diberi tempat paling depan. Hal ini konon dipengaruhi oleh kebiasaan mereka berjalan di pematang sawah yang sempit yang hanya cukup dilalui satu orang. Benar atau tidak, Wallahu a’ lam. Yang merasa wong ndeso tolong kasih verifikasi 🙂

  • Polisi biasa menggunakan pelanggaran zona pribadi sebagai taktik untuk melumpuhkan mental tersangka dalam pemeriksaan. Jika anda tersangka yang tengah diperiksa, mereka akan berdiri sedekat mungkin dengan anda, mengambil posisi di bagian yang lemah secara psikis (misal, berdiri merapat tepat di belakang punggung anda yang tak terlindung). Hal ini akan membuat anda merasa gelisah, cemas, grogi, sehingga pada gilirannya anda akan ‘menyerah’ dan menurut. (Catatan: hal ini hanya berlaku efektif buat tersangka culun atau bandit kelas teri yang tidak memiliki taktik kontra serangan psikologis. Tersangka teroris kelas berat atau bandit ndableg tentu tidak mempan diperlakukan seperti itu.

  • Kelompok demonstran, supporter sepakbola, atau kumpulan massa dalam jumlah besar apapun alasan mereka berkumpul, selalu memiliki potensi membikin kerusuhan. Mengapa? Semakin bertambah besar kerumunan orang; semakin sedikit ruang pribadi bagi masing-masing individu, yang menyebabkan mereka menjadi gelisah, emosional, dan mudah terprovokasi. Satu pemicu kecil saja dapat membangkitkan huru-hara tak terkendali. Polisi anti huru-hara meredam kemungkinan tersebut dengan cara memecah kerumunan besar menjadi kelompok-kelompok lebih kecil sehingga tiap orang mendapatkan kembali zona pribadinya, dan hal itu akan membuatnya lebih tenang.

  • Kalau anda berada di dalam lift, angkot, atau dalam bus yang padat penumpang di mana orang mau tidak mau harus membiarkan zona pribadinya dilanggar orang lain, anda akan menyadari bahwa setiap orang, termasuk anda sendiri, menjalankan ritual bawah sadar untuk menjaga keharmonisan sosial dengan cara:

    • Menghindari kontak mata

    • Memasang wajah datar alias tidak memperlihatkan ekspresi apapun

    • Menahan gerakan yang tak perlu, terutama bila tempat tersebut sangat padat

    • Membisu, tidak mengatakan sesuatu selain ucapan pendek seperti “permisi” atau “maaf”

    • Jika membawa buku atau koran atau ponsel, maka benda-benda itu sering dipakai buat pengalih perhatian: pura-pura sibuk baca atau pencat-pencet tombol ponsel.

  • Sebuah penelitian menunjukkan bahwa di WC umum yang berderet panjang, 90% orang cenderung memilih WC bagian ujung. Apabila tempat itu telah terisi barulah dia bersedia memakai WC bagian tengah. Tanya kenapa?

Iklan

Written by jojoba

November 30, 2007 at 6:39 am

W.S. Rendra: Maqam Mereka Masih Viagra

leave a comment »

Penyair besar berjuluk Burung Merak itu memasuki usia 72 tahun. Suaranya tak lagi selalu menggelegar, tapi karismanya masih membayang. Ketika berbicara, kutipan ayat suci kerap mengalir dengan pengucapan puitis dari mulutnya. Beberapa teman lama dan kerabat menyambanginya pada hari ulang tahun, Rabu pekan lalu, untuk mengucap tahniah. Sehari-hari Rendra kini menyibukkan diri dengan membaca teks sejarah–kegiatan yang sudah dilakukannya dalam beberapa tahun terakhir. Berbagai bacaan ia lahap tanpa batas, mulai dari asal mula buah-buahan dan tanaman pangan yang sekarang lazim ditemui di Indonesia sampai periode kejayaan dan keruntuhan kerajaan-kerajaan Nusantara.

Seniman yang kenyang masuk tahanan di masa Orde Lama dan Orde Baru itu tak lagi terlalu produktif berteater. Pentas teater terakhirnya adalah Sobrat, yang berlangsung di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, dua tahun lalu. Tapi ia masih sering diundang berorasi, berbicara, dan sesekali membaca puisi di berbagai daerah.

Seperti para leluhur yang, menurutnya, tak hanya pandai menyerap tapi juga mahir mengolah, Rendra masih mengikuti dan menganalisis berbagai peristiwa yang terjadi di Tanah Air. Di padepokannya yang luas dan asri di Cipayung Jaya, Depok, Jawa Barat, ia menuturkan berbagai soal, mulai dari sastra, fundamentalisme agama, sampai spiritualitas kepada Nugroho Dewanto, Seno Joko Suyono, dan Anton Septian dari Tempo. Berikut nukilannya.

(Keterangan: T=Tempo; R=Rendra)

T: Apakah Anda masih mengikuti perkembangan dunia sastra kita?

R: Saya rutin mengikuti dengan membaca rubrik sastra dan puisi di Koran Tempo dan Kompas yang saya langgani. Siapa saja sastrawan muda kita yang menurut Anda cukup menonjol? Salah satunya Nenden Lilis. Sebagai lirikus, makin lama dia makin matang. Dia sudah pentas di Eropa. Juga Joko Pinurbo dan banyak lagi yang lain.

 

T: Ada kritik, seperti disampaikan penyair Taufiq Ismail, bahwa dunia sastra kita belakangan tergelincir kepada erotisme. Bahkan ia menyebut ada Gerakan Syahwat Merdeka dan Fiksi Aliran Kelamin dalam dunia sastra kita?

R: Erotika bukan hal baru dalam dunia sastra kita. Sudah ada sejak zaman Centhini, juga dalam cerita-cerita carangan seperti Sembodro Larung dan Pergiwo-Pergiwati. Wah, itu erotikanya indah. Erotika itu penting untuk kesehatan badan dan gairah pemikiran. Berbeda dengan malaikat, kita itu dilahirkan dengan hormon-hormon yang menimbulkan nafsu. Kita diciptakan Allah dengan hormon semacam itu yang perlu peremajaan. Menurut agama saya yaitu Islam, erotika dan seksualita itu boleh. Islam itu bukan agama yang aseksual. Yang dilarang itu adalah perzinaan. Erotika itu bagus untuk menjaga kebugaran. Jadi erotika tidak untuk diredam.

 

T: Sudah seberapa gawat sesungguhnya dunia sastra kita sehingga ada yang merasa harus melarang sastra yang menonjolkan erotika?

R: Ah, enggak gawat. Zaman sekarang apresiasi terhadap tubuh semakin terbuka. Orang semakin banyak pakai bikini. Kita yang harus menahan diri.

 

T: Beberapa novelis seperti Ayu Utami dan Jenar Mahesa Ayu dinilai vulgar karena menonjolkan adegan persenggamaan secara terperinci, bagaimana menurut Anda?

R: Gerakan anti-erotika memang agak galak sekarang ini. Saya kira itu salah kaprah dalam soal me-manage nafsu. Mereka bukan mengendalikan nafsunya tapi malah melarang-larang orang lain. Seperti orang mengatakan jangan terlalu banyak makan gula, bikin gemuk. Jangan terlalu banyak makan lemak nanti kolesterol. Mestinya dia menahan diri, bukan mengatakan daging atau makanan bergula harus dilarang. Itu menunjukkan perasaan suudzhon dan zalim karena melarang sesuatu yang tak dilarang oleh agama.

 

T: Menurut Anda, karya mereka tidak vulgar?

R: Dengan sikap seperti itu, orang yang menganggap vulgar sesungguhnya dia sendiri sangat vulgar. Meremehkan naluri manusia. Meremehkan sunatullah.

 

T: Mereka sendiri tak bisa menahan diri?

R: Mereka tidak bisa me-manage diri sendiri, menyalahkan orang lain. Buruk muka cermin dibelah.

 

T: Kenapa gerakan anti-erotika sekarang begitu kencang?

R: Mereka itu orang yang beragama untuk politik. Mereka merasa memonopoli kebenaran dan kesucian. Mereka memperkenankan dirinya melakukan kekerasan dan kezaliman kepada orang lain.

 

T: Anda percaya ada karya sastra yang sengaja untuk merangsang berahi?

R: Memang ada yang sengaja mengeksploitasi seksualitas untuk merangsang pancaindra, itu saya sebut picisan. Mereka hanya merangsang sensasi. Seperti pembacaan puisi yang mengandung sensasi, membawakan diri dengan sensasional. Tidak ada hubungan dengan puisi, sekadar gimmick.

 

T: Padahal kesadaran manusia tak cuma pancaindra?

R: Kesadaran manusia itu adalah kesadaran pancaindra, kesadaran naluri, dan kesadaran batin atau rohani. Pada tingkat tertentu, intensitas penghayatan rohani yang bertemu dengan naluri dan pikiran, tiga-tiganya bila bersatu dengan intens sering muncul imaji erotik seperti yang terdapat pada candi. Rasa menyatunya diri dengan alam.

 

T: Artinya, itu semua alamiah?

R: Iya. Orang Jawa mengatakan greget. Puncak dari greget kadang-kadang adalah erotik. Kelenjar-kelenjar adrenalin menjadi somatik. Gagasan, buah pikiran yang turun ke kalbu lalu bertemu gairah hidup itu somatik, membangkitkan air mata. Kadang-kadang bisa membuat kita menari atau menulis syair sambil menangis. Saya sering seperti itu. Bukan cengeng. Lalu sambil gemetar. Somatik. Kelenjar-kelenjar bergeletar. Sebab di dalam kelenjar-kelenjar itu terdapat melodi. Kalau jantung berdetak, dia berirama. Jadi, pada waktu buah pikiran turun ke kalbu, pertemuan itu intens, dia membutuhkan bentuk. Apalagi waktu bertemu naluri, dia butuh irama. Itu melodi. Dalam intensitas seperti itu muncul imaji-imaji erotik.

 

T: Anda mengalaminya juga ketika berkarya?

R: Waktu saya menulis Suto Mencari Bapak, itu melahirkan imaji persetubuhan. Saya kira seperti itu juga yang terjadi pada relief-relief di Candi Cetho dan Candi Sukuh. Atau dalam cerita Bimasraya. Itu tak ada hubungannya dengan sekadar pornografi.

 

T: Dan itu semua bukan sekadar syahwat?

R: Itu bukan syahwat. Itu kelenjar. Itu greget. Kalau sekadar syahwat itu maqam-nya obat kuat, maqam-nya masih Viagra. Sayang sekali, penghayatan akan kehidupan dan bersatu dengan alam itu hanya terbatas sampai pergaulan Viagra. Mereka kurang mendalam, jadi tak perlu ditanggapi secara berlebih-lebihan. Urusannya dengan majalah picisan saja.

 

T: Apakah gerakan anti-erotika juga ada dalam sejarah di Jawa?

R: Tidak ada. Cuma ada sekarang. Kebudayaan kita itu matang dalam menangani erotika. Tidak melihat kerbau perempuan terus berahi. Kalau itu sudah penyakit jiwa modern. Kita tidak cuma menyerap, tapi juga mengolah.

 

T: Apa maksudnya matang dalam menangani erotika?

R: Artinya, tidak mudah terangsang. Kita bisa me-manage nafsu. Melihat Ratu Ken Dedes, orang berkomentar, “Wah, payudaranya masih bagus.” Itu maksudnya Ken Dedes masih sehat. Bukan berarti, “Aku pengen dia.” Seperti orang lihat kembang bagus, terus ingin memetik. Orang yang begitu-begitu tidak siap beragama. Kurang beriman. Sibuk menyalahkan dunia. Mengaitkan agama dengan kekuasaan atas kebenaran. Sangat tidak Islamiyah.

 

T: Bagaimana dengan kelompok yang menyebut diri sastra Islami yang mendambakan akhirat?

R: Boleh saja. Saya juga menyampaikan hal semacam itu dalam Suto Mencari Bapak. Nyanyian Angsa itu proses pelacur yang mau meninggal dan berakhir dengan persetubuhan. Tapi tidak ada niat membangkitkan kepuasan pancaindra.

 

T: Bagaimana Anda memandang RUU Anti-Pornografi?

R: Itu menunjukkan kelemahan iman. Menghadapi nafsunya sendiri mbok ya enggak usah pakai undang-undang. Ada ulama dari Cirebon, KH Husein Muhammad, pernah mengingatkan saya. Mas, Nabi dulu pernah berpesan, sepeninggalku janganlah hal-hal yang tak bisa dirumuskan, diundang-undangkan. Dan jangan memperkarakan sesuatu yang tak bisa dirumuskan.

 

T: Pornografi termasuk hal yang tak bisa dirumuskan?

R: Bila Anda ke Bali atau Hawaii, orang pakai pakaian minim dan ketat itu tidak apa-apa. Apalagi kalau itu hanya grafik. Tapi di tempat lain bisa jadi masalah.

 

T: Bukankah ada hukum adat yang malah berbeda dalam memandang pornografi?

R: Pada beberapa suku bangsa yang hukum adatnya masih kuat, malah ada perumusan yang jelas terhadap pornoaksi, yaitu sesuatu yang keluar dari tubuh adalah najis. Jangan sampai itu terjadi di muka umum. Jadi, kalau saya kentut, meludah, membersihkan kotoran mata, dan lain-lain, jangan di muka umum. Termasuk kalau saya mengeluarkan darah, saya menikam atau menggores seseorang sampai keluar darah, itu jadi masalah. Tak usah sampai membunuh, tapi sekadar membuat berdarah saja sudah masalah. Lalu berlanjut hal-hal yang disebut fi’il di Lampung atau siri di Bugis. Menolak hadiah, meremehkan unjuk kebaikan orang lain, itu fi’il. Merusak komunikasi dan silaturahim. Tidak dermawan dalam bersikap.

 

T: Itu juga pelanggaran?

R: Iya, saya tidak suka itu. Sikap arogan. Tidak dermawan dalam bersikap dan perkataan. Tidak mengenal bersyukur.

 

T: Bagaimana dengan beberapa daerah yang memberlakukan peraturan tentang syariat?

R: Saya tidak mau tinggal di tempat seperti itu. Bayangkan ada pekerja yang ditangkap karena kemalaman. Orang didorong hidup dalam prasangka buruk. Membuat undang-undang kok dasarnya suudzhon.

 

T: Mungkin terlalu mencontoh budaya Arab?

R: Ya, itu kan budaya Arab. Allah tidak menyukai orang yang penuh waswas dan suudzhon. Kita tidak bisa terlalu berpaling ke Timur Tengah karena rasa suudzhon-nya luar biasa. Di sana sama-sama syahadatnya bisa saling membunuh kok, dengan bom lagi. Krisis moral dalam beragama ini harus diperhatikan.

 

T: Fundamentalisme agama sedang mengalami gelombang pasang?

R: Itu sudah dari dulu. Ku Klux Klan itu sejak abad ke-19 tidak juga reda. Pertentangan antara Buddha dan Buddha sudah ada sejak zaman Sriwijaya. Begitu juga Hindu dan Hindu di India. Kelemahan manusia itu kalau sudah beragama lalu ada nafsu kekuasaan politik. Kalau sudah begitu, gampang waswas. Wah, ini ada Kristenisasi. Seolah-olah Islamisasi itu beda dengan Kristenisasi.

 

T: Bagaimana sebaiknya kita bersikap?

R: Harus kembali kepada iman. Kita harus memperkuat iman, nukleus keluarga dan masyarakat yang beriman. Dan menghargai iman orang lain. Dalam Islam, itu yang diajarkan Allah. Kita tidak diajari untuk mengatakan kepada orang kafir, “Salah agamamu. Masuk neraka kamu. Buntulah jalanmu ke surga.” Sebaliknya kita diajari untuk mengatakan, “Untukmu agamamu, untukku agamaku.”

 

T: Terus, bagaimana dengan banyak yang mengaku-aku nabi kemudian dilarang MUI?

R: Itulah ekstremnya kalau orang merasa paling benar. Sudah diperingatkan Allah dalam Al-Quran, surat “Para Penyair”. “Berhati-hatilah kamu yang sering mengembara ke lembah-lembah yang gelap.” Konsep “lembah yang gelap” itu berkembang luas. Misalnya naluri. Meditasi, tafakur, dan zikir juga kalau dilakukan secara intens membuat kita seakan-akan dekat dengan Allah, padahal tidak. Lalu kita sendiri menciptakan berbagai jalan supaya dekat dengan Allah. Padahal Allah sudah memberikan jalan. Kalau kamu beriman, bertakwa, beramal saleh, beribadah, kamu dekat dengan Allah.

 

T: Belakangan ini Anda menjadi sangat religius?

R: Dari dulu saya religius. Selalu melakukan olah batin yang bagus untuk kesehatan. Tapi pengasuh saya dulu, Mas Janadi, mengingatkan, “Jangan kamu anggap dengan olah batin kamu bisa ketemu Tuhan, ketemu Nabi. Ketemu eyangmu saja tidak.”

 

T: Anda merasakan ada perbedaan spiritualitas, dulu dan sekarang?

R: Dulu ada pengaruh dari mistikus Katolik yang mengatakan, “Menjelmalah Kau.… Mendekatlah Kau.” Sedangkan orang Jawa kan maqam-nya suwung, meniadakan diri untuk dekat dengan Allah. Kita tak bisa berteriak, “Mendekatlah Kau, Ya Allah.” Tapi kita sendiri yang mendekatkan diri kepada Allah dengan perbuatan kita. Orang Jawa berpegang pada surat Al-Ikhlas. Allah itu ahad. Bahkan, sebelum Islam datang, orang Jawa itu telah suwung. Makanya, Jawa mudah menerima Islam.

 

T: Dengan spiritualitas itu Anda merasa tenteram?

R: Iya, seperti pengembara yang menemukan rumah.

 

T: Itu juga yang membuat Anda kelihatan segar?

R: Ah, ini karena diperkenankan Allah. Saya juga rutin berolahraga. Meditasi dalam gerak. Sehabis mandi, dengan tubuh masih basah, saya melakukan beberapa gerakan sampai tubuh kering (Rendra mengembangkan kedua tangannya, menggerakkan perlahan hingga kedua telapak tangannya bertemu, lalu ditarik ke arah dada). Itu sekitar sepuluh menit.

 

T: Kalau meditasi yang lain?

R: Saya memakai metode yang diperkenalkan Sosrokartono–kakak laki-laki Kartini–yaitu Petruk Kantong Bolong. Kita tak menahan, tak menolak semua suara, semua pikiran, tapi seperti kantong bolong. Masuk lalu keluar lagi. Dalam hidup sehari-hari pun, kita tidak menahan, kita ramah saja. Hal-hal yang mengganggu, yang tidak mengenakkan, permusuhan, biarkan saja. Kita tidak perlu berteriak-teriak bahwa orang lain sesat. Kesucian tidak perlu dipamer-pamerkan.

+++++++

W.S. Rendra

 

__,_._,___

Tempat dan Tanggal Lahir:

Solo, Jawa Tengah, 7 November 1935

Pendidikan:

American Academy of Dramatic Arts, Amerika, 1967

Fakultas Sastra dan Kebudayaan Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta,

tidak lulus

SMA St Josef, Solo, Jawa Tengah

Pekerjaan:

Sastrawan. Pendiri Bengkel Teater

Menulis sajak sejak 1950-an

Kumpulan puisinya: Balada Orang Tercinta meraih Hadiah Sastra Nasional

Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional, 1957

Menerima Anugerah Seni dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1969

Menerima Hadiah Seni dari Akademi Jakarta, 1975

Ditahan pemerintah Orde Baru karena pembacaan sajak-sajak protes di

Taman Ismail Marzuki, Jakarta, 1978

***-/**

 

(Sumber: Tempo, 12-18 November 2007)

Written by jojoba

November 14, 2007 at 6:35 am

Ditulis dalam Inspirasi, Persona, Susastra

Tagged with , ,

Mengajar Berpikir (Edward de Bono)

leave a comment »

“Perkenalan” saya dengan Edward de Bono terjadi tanpa disengaja tatkala saya tengah mengaduk-aduk rak buku perpustakaan kampus buat mencari bahan seputar metodologi penelitian sosial buat keperluan tugas akhir kuliah. Di antara jajaran buku-buku yang ada terselip satu buku lusuh ukuran saku berjudul Mengajar Berpikir (Teaching Thinking). Dan seperti umumnya kebiasaan free-thinker amatiran yang gemar coba-coba mengunyah makanan asing, saya pinjam buku yang salah letak tersebut dan melupakan sejenak tugas akhir yang menanti. Berikut beberapa point penting yang bisa saya sarikan dari buku tersebut:

  • Tuhan tidak perlu berpikir. Berpikir hanya digunakan oleh manusia buat melengkapi pengetahuannya yang tidak memadai.

  • Dalam sebuah masyarakat yang kompleks (seperti masyarakat modern sekarang), kebutuhan untuk berpikir semakin besar daripada waktu yang lampau. Kita mempunyai kebebasan yang lebih besar, dan kebebasan adalah penindasan dari kesempatan karena setiap kesempatan berarti keharusan ntuk mengambil keputusan.

  • Lebih baik belajar berpikir terbuka daripada menjadikan berpikir semata-mata sebagai ekspresi ketidakpuasan emosional.

  • Memutuskan untuk mengajarkan berpikir merupakan suatu keputusan politik, karena beberapa sistem politik akan lebih senang kalau rakyat hanya menurut dan tidak perlu berpikir. Hanya itikad untuk menipu yang membuat seseorang takut kepada pandangan yang jelas.

  • Usaha mencari kesempurnaan akademis seringkali merupakan musuh bagi pendidikan praktis berpikir: eksplorasi pengalaman yang dilakukan secara sadar dalam mencapai suatu tujuan.

  • Tidaklah tepat menganggap seorang pemakai bahasa yang terampil otomatis pemikir yang terampil pula. Salah pula menganggap seseorang yang kurang baik ekspresi lisannya otomatis kurang baik pula cara berpikirnya. Bahasa dan ekspresi adalah sarana untuk menuangkan hasil pemikiran, bukan pemikiran itu sendiri. (Btw, dengan kalimat lain bisa dikatakan bahwa orang yang pinter ngomong belum tentu cerdas)

  • Tujuan berpikir adalah mempersiapkan sesuatu yang akan kita rasakan. Dengan berpikir, kita menata kembali persepsi dan pengalaman kita, sehingga kita memiliki pandangan yang lebih jelas mengenai sesuatu. Pandangan yang lebih jelas inilah yang membuat perasaan kita tergetar. Tanpa berpikir, perasaan hanya merupakan tirani. Mengapa? Karena perasaan adalah sejenis tindakan. Tujuan berpikir adalah mempersiapkan diri kita untuk bertindak.

  • Idiom akademis yang diajarkan di sekolah dan disempurnakan di universitas layaknya keterampilan mengetik dua jari: keterampilan yang sangat baik untuk menghadapi situasi tertutup di mana semua informasi telah tersedia, tetapi sangat tidak efisien untuk menghadapi situasi terbuka, di mana hanya sebagian dari informasi tersedia namun keputusan tetap harus dibuat.

  • Adalah keangkuhan yang luar biasa untuk beranggapan hanya ada dua pilihan, yang terpolarisasi dengan tajam pada suatu soal, yang mengatakan bahwa bila yang satu salah maka yang lain pasti benar.

  • Masalah mendasar dari keterlibatan ego dalam pemikiran kita adalah kita secara normal menganggap logika sebagai suatu cara memproses persepsi kita, dan mengambil implikasi yang lengkap dari persepsi itu. Kita tidak dapat melihat bahwa dalam banyak situasi, sebagaimana dengan dukungan ego, struktur logika muncul paling awal dan mempunyai momentumnya sendiri, dan persepsi dibuat supaya cocok dengan struktur itu. Di tangan yang terampil, mau tidak mau struktur itu konsisten, namun persepsinya sangat tertutup dan sempit.

  • Sistem logika tradisional (yang berbasis verbal) menghadapi kesulitan besar dalam berurusan dengan besaran, karena bahasa berurusan dengan sifat-sifat dan bukan dengan ukuran. Kesalahan besaran tidak dapat dideteksi dengan memeriksa argumentasi itu sendiri karena argumen itu barangkali konsisten secara logika dan benar secara internal. Kesalahan hanya bisa diketahui bila si pemikir telah mempunyai bidang persepsi yang lebih luas untuk dapat menilai argumentasi itu.

  • Kesalahan seringkali bukan terletak pada kurangnya pengetahuan, tetapi lebih pada cara kita memandang pengetahuan itu.

  • Mengajarkan berpikir bukanlah mengajarkan logika, tetapi mengajarkan persepsi.

  • Seringkali, terlalu cepat sampai pada tahap pengolahan logika dapat membatasi penyelidikan kita dalam tahap pengerahan perhatian maupun eksplorasi persepsi. Jadi salah satu fungsi berpikir adalah mengarahkan perhatian melintasi bidang persepsi.

  • Pengarahan perhatian secara sadar ke bidang seluas mungkin (memperluas wawasan, melihat sesuatu dari sudut pandang lain, dan keterbukaan sikap) merupakan bagian yang sangat mendasar dalam berpikir.

Written by jojoba

Oktober 26, 2007 at 2:39 pm

Ditulis dalam Inspirasi, Serbaneka

Tagged with , ,

Kawabata Yasunari

with one comment

200px-kawabata_yasunari.jpg

Kawabata Yasunari. Orang barat membalik penyebutan namanya menjadi Yasunari Kawabata, barangkali karena kebiasaan penyebutan nama keluarga di belakang nama diri. Sastrawan Jepang penerima hadiah Nobel Kesusastraan tahun 1968 ini dikenal luas dunia terutama lewat novel-novelnya seperti Izu no Odoriko (The Dancing Girl of Izu; Penari dari Izu), Yukiguni (Snow Country; Negeri Salju), dan Yama no Oto (The Sound of The Mountain; Suara dari Gunung). Ada sebongkah kekuatan nan halus dalam tulisan-tulisannya – khas Jepang – yang hanya mungkin ditemukan pada karya-karya sejajar para penulis besar dari belahan dunia yang lain dalam gaya yang berbeda.

Selain menulis novel, Kawabata juga menulis cerpen. Kawabata menamai cerita-cerita pendeknya sebagai Tenohira No Shosetsu; ‘Kisah-kisah telapak tangan’. Dan memang itulah yang sesungguhnya Dia sukai: menulis cerita-cerita yang pendek namun bernas tentang peristiwa sehari-hari dengan gaya prosa liris, terlihat kalem dan enteng di permukaan namun sesungguhnya amat dalam, menyerupai sebuah sketsa impresionistis (dua terjemahan cerpennya Delima dan Pohon Prem dapat anda baca di weblog ini).

Kawabata lahir di Osaka pada 14 Juni 1899. Pada usia dua tahun dia telah menjadi yatim piatu sehingga diasuh oleh kakek-neneknya, sementara kakak perempuannya diasuh oleh bibinya. Namun hal tersebut tidak bertahan lama. Neneknya meninggal ketika usianya baru tujuh tahun, disusul oleh kakeknya yang meninggal ketika Ia berusia lima belas.

Kehilangan orang-orang terdekat dalam usia yang begitu muda, Kawabata lantas ikut bersama keluarga ibuya. Selanjutnya dia tinggal secara mandiri di sebuah asrama dekat sekolah menengah atas tempatnya menimba ilmu.

Pada bulan Maret 1917 selulus SMU Dia berangkat ke Tokyo unuk mengikuti ujian Dai-chi Koto-gakko (First Upper School) di bawah ampuan Universitas Kekaisaran Tokyo (Tokyo Imperial University).

Semasih kuliah aktivitas Kawabata antara lain ‘membangunkan’ kembali majalah sastra Universitas Tokyo Shin-shico yang telah mati suri selama empat tahun. Di media tersebut Kawabata sekaligus menerbitkan cerpennya yang pertama, Shokonsai Ikkei (A Scene from a Seance).

Kawabata lulus kuliah tahun 1924, tahun yang sama ketika Dia mulai menarik perhatian beberapa penulis dan redaktur sastra ternama, antara lain Kikuchi Kan, redaktur media sastra Bungei Shunju tempat Dia mengajukan karya-karyanya untuk dimuat. Oktober tahun itu pula Dia bersama sejumlah sastrawan seperti Kataoka Teppei dan Yokomitsu Riichi menerbitkan jurnal sastra Bungei Jidai (The Artistic Age; Zaman Artistik), sebagai reaksi atas kesusastraan tradisional Jepang yang berakar pada naturalisme, sekaligus juga mengambil posisi berlawanan dengan gerakan sastra proletar yang diusung sastrawan komunis. Selain menulis fiksi, Kawabata bekerja sebagai reporter di Mainichi Shimbun.

Meski menolak terjun ke dalam kegairahan militeristik yang melanda Jepang selama perang dunia kedua, tidak bisa dipungkiri bahwa suasana perang berpengaruh terhadap hasil karyanya. Sejumlah kritikus melihat adanya pergeseran tematis pada tulisan-tulisan Kawabata sebelum dan sesudah perang. Hal ini diakui sendiri olehnya, di mana Dia sempat menyatakan dengan getir bahwa setelah perang Dia hanya mampu menulis sejumlah elegi alias syair-syair ratapan belaka.

Mungkin hal itu pula yang membuatnya mengambil keputusan drastis, yakni mengakhiri hidupnya sendiri. Tanggal 16 April 1972 Kawabata ditemukan tewas bunuh diri dengan mengisap gas beracun.

Sejumlah teori bermunculan (selain teori stagnasi kreativitas) untuk menjelaskan motif bunuh diri Kawabata. Satu teori mengatakan bahwa Kawabata bunuh diri karena tidak tahan dengan kondisi kesehatannya yang memburuk (dia menderita Parkinson). Teori lain menyebutkan bahwa kematian sahabatnya, sastrawan kenamaan Yukio Mishima – yang bunuh diri dengan cara yang spektakuler dengan melakukan upacara harakiri di markas pasukan beladiri Jepang bersama ‘kekasih’ pria-nya Morita – sangat mengejutkannya sehingga Kawabata mengambil keputusan yang sama. Tidak ada yang dapat memastikan motif sebenarnya, karena Kawabata tidak meninggalkan catatan apapun sebelum Dia meninggal.

Karya-karya terpilih dari Kawabata Yasunari:

1926 Izu no Odoriko (The Dancing Girl of Izu)

1930 Asakusa Kureinaidan (The Scarlet Gang of Asakusa)

1935-37, 1947 Yukiguni (Snow Country)

1951-54 Meijin (The Master of Go)

1949-52 Senbazuru (Thousand Cranes)

1949-54 Yama no Oto (The Sound of the Mountain)

1954 Mizuumi (The Lake)

1961 Nemureru Bijo (The House of the Sleeping Beauties)

1962 Koto (The Old Capital)

1964 Utsukushisa to Kanashimi (To Beauty and Sadness)

1964 Kataude (One Arm)

Tenohira no Shosetsu (Palm-of-the-Hand Stories)

Referensi:

Written by jojoba

Oktober 19, 2007 at 7:42 am

Membuat orang lain menghargai Anda

with one comment

Penghargaan orang lain atas diri Anda sangat dipengaruhi oleh sejauh mana Anda menghargai diri Anda sendiri. Berikut beberapa tips tentang bagaimana membuat orang lain menghargai Anda dengan cara mengubah persepsi atas diri Anda sendiri (Saya dapat dari Majalah Intisari, lupa edisinya).

  • Banggalah terhadap hasil pencapaian Anda apabila Anda berhasil menyelesaikan pekerjaan dengan sukses. Jangan menganggapnya sebagai keberuntungan belaka. Semua bisa Anda peroleh karena kerja keras Anda.
  • Ucapkan terima kasih kepada orang yang memuji Anda, tanpa harus merasa malu atau jengah.
  • Ungkapkan perasaan Anda (misalnya mencintai seseorang) dengan tulus kepada orang yang memang anda cintai. Jangan dipendam
  • Akui kesalahan apabila Anda melakukan kekeliruan. Semua orang pernah melakukan kesalahan, namun hanya orang yang menghargai diri sendirilah yang mau dan tahu cara mengakuinya. Yang perlu dilakukan adalah mengakuinya dengan penuh rasa tanggung jawab, mengambil pelajaran dari kesalahan yang Anda buat, dan berusaha memperbaikinya.
  • Apabila seseorang mengancam Anda dengan kata-kata, lawan dengan perkataan pula, tidak perlu bertindak emosional.
  • Jangan pernah menghina orang lain. Seseorang yang bermartabat dan menghargai dirinya sendiri tidak akan pernah merendahkan martabat dan harga diri orang lain.
  • Berjalanlah dengan penuh percaya diri. Angkat kepala Anda dan tegakkan punggung. Yakinlah bahwa Anda melakukan cara berjalan dengan benar.
  • Berpakaianlah dengan rapi. Perhatikan penampilan, kerapian, serta kebersihan tubuh Anda; namun jangan terkesan berlebihan.
  • Mencoba sesuatu yang baru setiap minggu: majalah baru, kenalan baru, film terbaru – mungkin juga teman kencan yang baru;-)
  • Turuti keinginan hati Anda. Pikirkan dan lakukan sesuatu yang telah lama Anda rencanakan. Misal, melakukan perjalanan jauh, membeli seikat bunga buat seseorang, menulis jurnal pribadi (weblog) di internet …
  • Pandangan Anda terhadap diri Anda lebih penting dari apa yang dikatakan orang lain tentang Anda.
  • Sendirian tidak berarti kesepian. Rasa kesepian pada dasarnya berasal dari dalam diri Anda sendiri.
  • Yakinlah bahwa Anda orang yang berharga, entah dicintai atau tidak.
  • Menyadari bahwa masa lalu tetaplah masa lalu. Tidak peduli seberapa sering Anda memikirkan (dan mungkin menyesalinya), Anda tidak bisa mengubahnya.
  • Hargai diri anda sebagai satu pribadi yang utuh.


Some quotes

  • Jika Anda bisa berpikir tentang hari yang lalu tanpa rasa penyesalan, dan hari esok tanpa rasa takut, Anda sudah berjalan di jalur kehidupan yang benar.
  • Kebahagiaan datang jika kita berhenti mengeluh tentang kesulitan-kesulitan yang kita hadapi, dan mengucapkan terima kasih atas kesulitan-kesulitan yang tidak menimpa kita.
  • Detail kehidupan kita akan dilupakan oleh banyak orang, namun semangat dan kasih sayang kita akan selalu dikenang oleh orang-orang yang pernah merasakannya. (Liv Ullman)

Written by jojoba

Agustus 17, 2007 at 8:36 am

Ditulis dalam Inspirasi, Jagung Pop, Serbaneka

Tagged with , ,

The Road Not Taken

leave a comment »

frost2.gif

Two roads diverged in a yellow wood,
And sorry I could not travel both
An
d be one traveler, long I stood
And looked down one as far as I could
To w
here it bent in the undergrowth;
Then took the other, as just as fair,

And having perhaps the better claim,
Because it was grassy and wanted wear;
Though as for that the passing there
Had worn them really about the same,
And both that morning equally lay
In leaves no step had trodden black.
Oh, I kept the first for another day!
Yet knowing how way leads on to way,
I doubted if I should ever come back.
I shall be telling this with a sigh
Somewhere ages and ages hence:
Two roads diverged in a wood, and I-
I took the one less traveled by,
And that has made all the difference.

 

A Poem by Robert Frost

 

Written by jojoba

Agustus 14, 2007 at 3:29 pm

Ditulis dalam Inspirasi, Odisi, Susastra

Tagged with , , ,

Di Bawah Satu Langit

leave a comment »

herojetsword.jpg

Judul : Ying Xiong (Hero)
Produksi : Miramax
Sutradara : Zhang Yimou
Skenario : Feng Li, Bin Wang, Zhang Yimou
Pemain : Jet Li (Wuming/Nameless), Tony Leung (Canjian/Broken Sword), Maggie Cheung (Feixue/Flying Snow), Zhang Ziyi (Ruyue/Moon), Chen Daoming (King of Qin), Donnie Yen (Changkong/Sky)

Sesosok pahlawan adalah sebentuk subyektifitas: dia bisa benar dan dipuja-puji oleh satu masyarakat namun dicaci dan direndahkan masyarakat lainnya. Akan tetapi kepahlawanan berbeda. Masyarakat di manapun cenderung membentuk sebuah konsensus dalam menetapkan definisi sikap kepahlawanan, yakni suatu keberanian dan kombinasi berbagai kualitas personal lain pada diri seseorang yang membuatnya memiliki nilai lebih bagi orang banyak, utamanya di tempat dia tumbuh dan berkembang.
Zhang Yimou (Raise of The Red Lantern, Yellow Earth, Red Sorghum, Curse of the Golden Flower) tampaknya menyadari betul hal tersebut ketika membuat Ying Xiong (di pasaran internasional beredar dengan judul Hero). Dia tidak berbicara tentang pahlawan bagi seluruh umat manusia. Dia hanya bercerita tentang seorang pahlawan bagi dirinya dan bagi (sebagian besar) rakyat Cina. Kita tidak perlu mencela subyektifitasnya tersebut karena kita sendiri belum tentu sanggup untuk bersikap lebih dewasa. Karena itu nikmati sajalah sebentuk gaya dan aliran gambar-gambar puitik yang disajikan dalam film berdurasi 96 menit ini apabila anda tidak setuju atau merasa jengah dengan tema dukungan implisit pada kediktatoran yang diangkatnya.
Hero dibuka dengan adegan iring-iringan pengawal berkuda Kerajaan Qin yang mengawal Wuming alias pendekar tanpa nama (Jet Li). Wuming (menurut pengakuannya sendiri) adalah seorang bekel (kepala desa) dan pendekar dari keturunan bangsa Qin yang berhasil membunuh tiga orang pendekar tangguh Bangsa Zhao yang menjadi ancaman terbesar bagi Raja Qin : Changkong, Canjian, dan Feixue. Atas jasanya itu dia berhak memperoleh penghargaan berupa segepok tael emas dan kesempatan mendekati sang raja dalam jarak sepuluh langkah untuk minum teh bersamanya.
Namun Raja Qin Shihuang Ti (Chen Daoming) tidak percaya begitu saja pada cerita Wuming yang dianggapnya kelewat fantastis. Dia melihat ada skenario terselubung : ketiga musuh raja dengan sengaja mengorbankan dirinya agar ada salah seorang yang beroleh kesempatan mendekati sang raja dan membunuhnya.
Wuming, yang menyadari tidak ada gunanya lagi berbohong lantas membeberkan motif sebenarnya. Lebih dari itu, dia juga memperlihatkan kebimbangan untuk meneruskan misinya yang tinggal selangkah, termasuk ketka Raja Qin melemparkan pedangnya dan membiarkan dirinya menjadi sasaran terbuka bagi serangan Wuming.
Mengapa Wuming bimbang dan mengapa sang raja begitu “ceroboh” di hadapan seseorang yang hendak membunuhnya? Pada bagian inilah Yimou dengan menawan memperlihatkan dua jiwa, dua karakter berseberangan yang telah mencapai kematangan tertinggi sebagai pendekar : mereka telah berhasil menyingkirkan ego; sebatang pedang dari tangan dan hati mereka, dan menyisakan kebesaran jiwa dengan lebih mengutamakan kepentingan yang lebih besar.
Apa kepentingan yang lebih besar itu? Cina yang bersatu. Canjian (Tony Leung) sebagai musuh terbesar Raja Qin dan sekaligus orang yang paling memahami persoalan, menasihati Wuming agar tidak membunuh Qin. Baginya, Raja Qin adalah satu-satunya orang yang sanggup mempersatukan Cina, menjaga kebesarannya, dan mengayomi rakyat. Apabila hal ini disadari, maka dendam pribadi maupun permusuhan antara bangsa Qin-Zhao dan empat bangsa lainnya tidak lagi relevan dikedepankan. Yang diperlukan adalah kelapangan hati, dan bila perlu pengorbanan kepentingan pribadi.
Pengorbanan inilah yang dipilih Wuming. Dia lepaskan kesempatan membunuh sang raja, melangkah keluar balairung mendekati gerbang luar istana, berbalik, dan membiarkan tubuhnya dihujani ribuan anak panah yang meluncur menerjang seperti kawanan lebah.
Salahkah dia mengambil pilihan sikap semacam itu (atau pertanyaan yang lebih relevan : salahkah Yimou membuat ending cerita tragis yang tidak begitu populer bagi para penonton yang terbiasa dijejali penyelesaian masalah dangkal dan hitam-putih khas film-film blockbuster holywood)? Anda bebas menilainya sendiri sesuai idealisme yang anda miliki, laku batin yang anda anut, dan panjang tali kekang kebebasan berpikir anda, karena ini tokh bukan persoalan salah-benar, melainkan persoalan bagaimana membuat keputusan berdasar pilihan yang tidak banyak tersedia.


Jalan Pedang : Tiga tahap dalam Pencapaian Ilmu Pedang

Tahap pertama,penyatuan antara diri dengan pedang. Pedang adalah diri, diri adalah pedang. Keterampilan teknis terkuasai dengan baik. Pada tahap ini bahkan sehelai rumput di tangan pun bisa menjadi senjata yang mematikan.

Tahap kedua, menghilangkan pedang dari tangan. Pedang hanya ada di hati. Dengan pedang di hati, musuh yang berada jauh sekalipun bisa dibunuh dengan mudah, bukan secara fisik melainkan secara mental.

Tahap ketiga, pencapaian tertinggi dari ilmu pedang, yakni menghilangkan pedang baik di tangan maupun di hati. Tidak ada lagi musuh yang harus dikalahkan karena tidak ada lagi yang dianggap sebagai musuh. Penyerahan diri total, mengakui ada persoalan yang jauh lebih besar dari kepentingan diri sendiri, dan inilah hakikat dari ilmu pedang dan semua ilmu yang lain : suatu jalan untuk mencapai derajat kemanusiaan yang paripurna.

Written by jojoba

Agustus 11, 2007 at 5:25 pm

Ditulis dalam Inspirasi, Jagung Pop

Tagged with , , , ,