Aksara yang mengalir begitu saja – mbuh lah..

Waiting on the World to Change

Archive for the ‘Cerpen’ Category

Kaki yang Mahal

leave a comment »

Mereka membuatku lega. Mereka mengirimkan kartu, memohonku untuk datang ke kantor; akhirnya aku datang juga ke sana.

Mereka sangat baik, diambilnya kartu registrasiku dan berkata: “Hm,” Aku juga berkata: “Hm.”

Kaki yang mana?” tanya pegawai di situ.

Kanan.”

Seluruhnya?”

Seluruhnya.”

Hm,” katanya lagi. Kemudian ia mencari-cari surat di mejanya. Aku diperkenankan duduk.

Akhirnya ia menemukan apa yang yang nampaknya sebagai surat yang dicarinya. Ia berkata: “Kupikir ini merupakan pekerjaan yang cocok untukmu. Kau dapat duduk sambil bekerja. Tukang semir sepatu di taman dekat istana; suka kan?”

Aku tidak dapat membersihkan sepatu. Aku selalu menarik perhatian orang karena sepatuku yang kotor.”

Kau dapat belajar,” katanya. “Seseorang dapat belajar segala hal. Seorang Jerman dapat mengerjakan apa saja. Kalau kau suka, kau dapat dilatih dengan gratis.”

Hm,” kataku.

Setuju, kan?”

Tidak,” kataku, “Aku tidak ingin itu. Aku ingin pensiun yang lebih besar.”

Kau gila,” tukasnya dengan nada bersahabat dan penuh perhatian.

Aku tidak gila. Tidak seorangpun dapat mengganti kakiku. Aku bahkan tidak lagi dapat berjualan rokok tanpa kesulitan.”

Laki-laki itu bersandar ke kursinya dan menghirup udara dalam-dalam.”sahabatku yang baik,” ia kembali mulai berbicara, “kakimu benar-benar kaki mahal terkutuk. Aku perhatikan kau berumur tujuh puluh tahun. Terimalah: tujuh puluh mark sebulan, dua belas kali setahun. Itu berarti empat puluh satu dikali dua belas dikali tujuh puluh. Terimalah, lupakan keinginanmu – tetapi jangan berpikir kakimu tinggal satu. Kau mungkin bukan satu-satunya orang yang akan hidup demikian lamanya. Dan kau berbicara mengenai kenaikan pensiunmu. Maafkan, tetapi kau benar-benar gila.”

Tuan yang baik,” kataku sambil menyandarkan diri ke kursi dan juga menghirup udara dalam-dalam, “Kupikir kau benar-benar meremehkan kakiku. Kakiku jauh lebih mahal, ia kaki yang sangat mahal. Aku tidak hanya keras hati, tapi sayangnya juga berakal sehat. Dengarkan baik-baik.”

Waktuku sangat terbatas.”

Dengarkan baik-baik,” kataku.

Kakiku telah menyelamatkan hidup banyak orang yang sekarang uang pensiunnya lumayan banyaknya. Ceritanya begini: Aku mengambil tempatku di suatu front depan dan aku diharapkan mengamati pergerakan musuh sehingga yang lainnya dapat mundur pada saat yang tepat. Staf markas besar di front belakang kemudian dapat berpindah tempat. Mereka ingin mundur pada saatnya, tetapi dengan tidak tergesa-gesa. Pada mulanya kami berdua, tetapi orang itu kemudian terbunuh. Saat ini ia tidak membebani kau apapun. Benar, ia telah kawin, tapi istrinya sehat dan dapat bekerja. Kau tidak perlu khawatir. Laki-laki itu benar-benar berharga murah. Ia menjadi tentara hanya selama empat minggu dan berharga tidak lebih dari selembar kartu pos dan beberapa kerat ham. Ia mulanya seorang tentara patuh; ia membiarkan dirinya sendiri terbunuh dengan sepantasnya. Yah, kemudian aku tinggal sendirian, ketakutan dan kedinginan, dan aku ingin sekali keluar dari keadaan itu. Aku baru saja akan berdiri dan berlari, sewaktu…”

Waktuku sangat terbatas,” kata laki-laki itu, dan mulai mencari-cari pensilnya.

Tidak, dengarkan,” kataku,

Sekarang tiba bagian yang penting. Persis sewaktu aku akan berlari, hal tersebut terjadi pada kakiku. Dan karena aku tidak dapat berdiri, aku berpikir sendirian, kau pun dapat mengatakannya pada mereka sekarang, dan aku lalu memberi tanda supaya mereka semua dapat lari. Mereka semua mundur dengan urutan yang sesuai mula-mula Markas Besar Divisi, lalu Markas Besar Brigade, kemudian pos Komando Batalion, dan seterusnya, semua dengan urutan yang teratur. Cerita yang lucu, bukan? Karena mereka lupa untuk membawa aku serta. Mengerti maksudku? Mereka demikian terburu-burunya.

Ini benar-benar cerita yang sangat lucu, karena bila aku tidak kehilangan kaki, mereka semua akan mati: Jenderal, Kolonel, Mayor, semua denga urutan keseniorannya dan kau tidak harus membayar pensiun mereka. Sekarang kau mengerti berapa nilai kakiku. Sang jenderal berumur lima puluh dua, kolonel empat puluh delapan dan mayor lima puluh, semuanya sangat sehat, berhati dan berpikiran sehat pula.

Dengan cara hidup kemiliteran mereka, sekurang-kurangnya mereka akan hidup sampai delapan puluh tahun seperti Hindunburg. Sekarang tentukanlah: seratus enam puluh – anggap saja rata-rata tiga puluh, setuju? Kakiku telah menjadi kaki sangat mahal, salah satu kaki termahal yang dapat dibayangkan. Kau setuju tidak?”

Kau sungguh-sungguh gila,” kata laki-laki itu.

Tidak,” lanjutku, “Aku tidak gila. Sayangnya hati dan pikiranku sama sehatnya, dan sangat sayang aku juga tidak terbunuh sesaat sebelum kakiku tertembak. Kita akan menghemat banyak uang karenanya.”

Kau terima pekerjaan itu tidak?” tanya laki-laki itu.

Tidak,” kataku sambil berlalu.

***

Cerpen oleh Heinrich Boll.

Judul asli: My Expensive Leg; diterbitkan dalam kumpulan cerpen Wanderer, Kommst Du Nach Spa. Terjemahan dalam Bahasa Indonesia oleh Hadrian Syah Rasad, diterbitkan di Majalah Horison No. 8 Tahun 1983

Tentang Heinrich Boll

boll-photo.jpg

Heinrich Boll (lahir 21 Desember 1917 dan wafat 16 Juli 1985) adalah sastrawan Jerman pasca perang, penerima banyak penghargaan seperti Prix de la Tribune di Paris, dan pemenang hadiah Nobel Kesusastraan tahun 1972. Terkenal dengan gaya tulisannya yang satiris. Salah satu karya novelnya yang terkenal adalah The Lost Honor of Katharina Blum (Hilangnya Kehormatan Katharina Blum)

Written by jojoba

Desember 7, 2007 at 2:20 pm

Ditulis dalam Cerpen, Susastra

Tagged with , ,

Rusia Bukan Tempat Jatuh Cinta

leave a comment »

Mengenang kembali kehidupan sosial di Rusia era komunisme melalui sebuah cerpen..

Cerpen: Hedy Kalikoff

Yang pertama berkesan pada jiwaku tentang Rusia ialah pemandangan alamnya yang tanpa warna. Pesawat kami mulai turun melintasi padang-padang terbuka penuh titik-titik yang kemudian ternyata pohon cemara, kumpulan rumah-rumah kecil, bayangan yang hangat dari satu dunia lama penuh cahaya. Jalan-jalan dan pabrik-pabrik bagaikan garis-garis memotong pada foto hitam-putih, persis seperti aku pernah membayangkannya.

Lewat pintu pesawat Aeroflot yang kutumpangi aku ke luar menerjuni cahaya terang keabuan. Kemudian, samar-samar menembusi lapisan salju yang turun agak lebat, aku menatap mata seseorang yang kemudian ternyata seorang tentara dari salah satu republik bagian selatan. Matanya gelap menatapku.

Akhir musim dingin atau awal musim semi tak dapat dibedakan di Rusia. Sambil menghentak-hentakkan kaki, aku membersihkan salju dari sepatuku. Untuk menghangatkan tanganku aku saling menggosokkannya dengan kencang dan agak lama.

Kapan musim semi akan muncul?” aku bertanya pada seorang Rusia temanku.

Musim semi sudah mulai,” katanya.

 

Moskow, 16 Januari

David sayang,

Tadi malam aku menonton sebuah film yang sungguh hebat, “Lima Malam”. Aku dengar film ini juga pernah main di New York, di bioskop kesenian yang biasa memutar film-film asing. Lihatlah kalau sempat. Film itu begitu sederhana tapi indah sekali dan memakai musik tahun 50-an, hitam putih sampai menjelang akhir dan kemudian baru muncul bagian yang berwarna. Gilanya lagi, film itu nyaris tanpa gerak. Kebanyakan ceritanya mengambil tempat di sebuah apartemen di Moskow. Tapi harus kuakui film itu sangat menarik. Banyak hal yang aku tak mengerti. Namun aku masih dapat merasakannya seperti ketika kita menghadapi satu karya seni yang hebat.

 

***

Mengapa kalian pikir ia sedang memakan semangka?” Tatiana Ivanova terus bertanya berulang-ulang. Roknya gelap penuh noda kapur. Dia menunggu jawaban tak sabaran.

Karena lapar,” seseorang menyahut.

Beberapa orang yang duduk di bagian belakang kelas tertawa. Tatiana mengatupkan mulutnya, jengkel, tapi harus menahan kemarahannya. Di sampingku duduk Richard, tidak bergerak. Matanya senantiasa terpaut pada Tatiana.

Duduk berdampingan dengan Richard selama mengikuti pelajaran dengan Tatiana, memberikan rasa tenteram bagiku. Rasa terpesona Richard terhadap guru wanita itu, mengalihkan rasa takut yang selalu terbawa dalam diriku sebagai orang asing dan mencairkan rasa tertekan yang hampir selalu merundungku di lingkungan yang serba dingin itu; Rusia yang serba dingin dalam segala hal.

Mengapa Girov sedang makan semangka dalam cerita ini?” Tatiana tak mau kalah. Cerita “Wanita dengan Anjing” itu sedang dibongkar kulit hingga terbuka semua isinya lewat uraian Tatiana.

Apa yang ingin disampaikan Chekov dengan ini Richard?”

Suara yang menyebut namanya itu memenggal pesonanya yang lelah menenggelamkannya seperti kesurupan. Dia diam beberapa saat.

Dia memperlihatkan bahwa Girov agak kurang peduli pada … penderitaan Anna.”

Tatiana Ivanova tersenyum. Bahasa Rusia Richard nyaris sempurna.

Bagus, Richard. Sangat bagus. Kalian semuanya sebaiknya mengikuti Richard dan sesekali memikirkan apa yang kalian baca.”

Richard membalas senyumnya tanpa perasaan bangga. Tatiana menulis dengan cepat di papan tulis hingga seluruh tubuhnya ikut bergerak dan pantatnya yang setengah umur itu bergoyang.

Bagaimana mungkin kau bisa menjawab pertanyaan itu?” aku berbisik kepada Richard.

Hmm?”

Kamu bahkan tidak mendengar apa yang dikatakannya.”

Aku tak tahu,” sahut Richard dengan senyuman samar dan pandangan matanya kembali tertancap pada Tatiana; Tatiana yang kami semua tak pernah bisa memahaminya namun bagi Richard selalu merupakan godaan pesona yang memabukkan.

Apa yang bisa dipahami dari Chekov tentang kebudayaan borjuis di Rusia sebelum revolusi?” Tatiana meneruskan.

***

 

TIDAK berapa jauh dari institut tempat mahasiswa asing ada sebuah kafetaria. Tapi ngobrol gaya Eropa atau Amerika tak berarti di Moskow dan tak ada yang menyenangkan dari suasana kafetaria manapun di Rusia. Kopinya encer dan terlalu manis. Bakinya selalu basah. Tangan-tangan merah pelayan selalu menggosok formika pada meja dengan lap-lap yang berbusa oleh sabun. Uap-uap mengepul dari panci-panci raksasa di belakang meja panjang tempat melayani sekalian orang. Di meja kita selalu ada orang tak dikenal ikut duduk bersama. Satu sama lain tak ada yang saling memperhatikan. Pintu kafetaria itu selalu terbuka. Baju-baju berwarna gelap masuk. Meja-meja terus dilap. Sepatu-sepatu yang basah menutupi lantai dengan salju dan lumpur hingga membuat sungai kecil di lantai. Di sebuah kafetaria seperti itulah aku berkenalan dengan Volodya.

SUBWAY atau metro system di Moskow sangat bersih, penuh warna-warni dan mosaik. Di sana aku dapat mempelajari lebih banyak selera seni orang-orang Rusia. Aku sering bergantung dalam metro yang selalu ramai, terayun dan aku selalu sangat tertarik pada topi-topi mereka lebih daripada yang lain.

Ada perempuan yang memakai topi lebar putih, terbuat dari bulu dan mereka kelihatan seperti tetesan hujan salju dari dongeng “The Nutcracker Suite”. Beberapa orang memakai topi yang kelihatan seperti permadani terbuat dari benang-benang berwarna terang dengan bentuk yang tak berselera seperti yang orang Amerika lebih suka memakainya buat lantai di kamar mandi.

Yang paling sederhana memakai topi dari bulu kelinci berwarna gelap. Mereka memakai tutup telinga yang biasa dinaikkan dari topi kecil berpinggir bulu-bulu binatang seperti yang dipakai pelayan toko yang ikut model mutakhir sampai dengan bentuk yang paling kuno yang sudah jarang sekali terlihat, terbuat dari bulu-bulu berwarna gelap, mahal dan membuat kesan selalu dihormati.

Biarkan aku lewat.” Seorang perempuan tua bersuara kasar bilang kepadaku. Dia memandangku dari tumit hingga kepala berulang-ulang, ketika ia mau lewat ke luar pintu menjelang stasiun berikutnya. Dia menatap lama-lama kepada baju dinginku yang terbuat dari kain tebal dan bulu kelinci. Tetapi yang mengagetkan ialah sepatuku. Semua pakaianku bisa diterima. Tetapi sepatuku bagi semua orang Rusia terlalu jantan untuk dipakai seorang wanita. Perempuan itu memandangku tepat di wajahku.

Anak muda. Sepatumu sangat menjengkelkan.”

***

 

Di SEBUAH kafetaria di Paris. Beberapa minggu sesudah meninggalkan Moskow aku jatuh cinta dengan seorang lelaki Perancis. Tapi cintaku tak terbalas. Waktu itu aku lagi duduk dengan seorang lelaki lain, orang Amerika yang kutemui di stasiun kereta api. Kami saling bercerita tentang diri masing-masing tanpa perduli satu sama lain. Kami bersama-samahanya dua hari. Cerita saling dilemparkan dan tak ada yang saling menyambut.

Brandy itu sangat manis dan berwarna merah jambu. Warnanya melekat di pinggir gelas. Lelaki itu di seberang kamar. Memperhatikan dengan penuh minat apa yang dikatakan temannya. Ia tersenyum dan mengangguk. Rambutnya disisir lurus ke belakang. Wajahnya tampak gelap karena cahaya matahari dan aku membayangkan bahwa dia baru kembali dari Yugoslavia atau Yunani. Seluruh pakaiannya berwarna hitam dari sepatu sampai pakaian dalamnya kecuali kaus kakinya yang berwarna merah jambu. Sebenarnya kaus kakinya itulah yang membuat aku jadi tertarik kepadanya. Tetapi bagaimanapun aku pasti jatuh cinta padanya. Aku iri hati dan ingin mendapatkan perhatiannya seperti aku telah memperhatikannya.

Aku ingin membaringkan diriku di antara kedua lelaki itu dan menjadi pusat perhatian mereka. Tetapi sesudah begitu banyak bulan di Moskow di mana laki-laki adalah laki-laki dan wanita adalah wanita dan tidak pernah saling menyatukan dirinya dalam keakraban. Jadi yang menarik perhatianku tentang orang Perancis adalah pakaiannya yang seakan menyatukan jenis keduanya.

***

 

ORANG RUSIA yang duduk satu meja denganku mengatakan sesuatu. Aku menatapnya dan bertanya karena kaget.

Apa?”

Aku memang kaget. Sudah beberapa hari aku sakit dan terlambat sampai di kafetaria untuk ikut sarapan. Dan aku merasa sedikit pusing.

Ada yang bilang bahwa orang yang suka makan pelan-pelan adalah orang yang pikirannya hebat,” dia mengulang ucapannya sambil tersenyum. Matanya biru muda.

Oh, begitu?” jawabku bodoh. Aku melihat kembali ke meja dan berpaling.

Anda dari mana?” dia menatapku sambil bertanya. Rupanya kesan bahwa aku orang asing masih kentara.

Amerika.”

Amerika? Begitu jauh. Apa yang anda lakukan di sini?”

Belajar bahasa Rusia.”

Pantas, bahasa Rusiamu bagus sekali.”

Terimakasih,” sahutku masih dengan senyuman bodoh. Aku berpaling lagi darinya dan marah pada diri sendiri karena merasa begitu malu.

Aku tak pernah ke Amerika. Apa bedanya dengan Rusia?”

Kami mempunyai lebih banyak buah-buahan dan sayur-sayuran.”

Aku ingin menceritakan padanya. Hidup jauh lebih mudah dan para pelayannya jauh lebih sopan, persahabatannya lebih menyenangkan. Di sana juga lebih banyak surat kabar. Tak begitu menekan.

Di sini lebih dingin,” sahutku. Ia tertawa.

Apakah kau tak tahan dengan musim dingin di sini?”

Tidak, sama sekali tidak. Apakah kau memang bisa tahan?”

Kali ini aku menatap tepat di wajahnya. Kulitnya halus dan putih dengan tulang pipi yang lebar dan mulutnya bulat.

Sesungguhnya tidak. Kami hanya seperti kelihatan tahan.”

Senyumnya tampak menawan. Sering ia tersenyum begitu, sengaja atau kebetulan. Aku tak begitu yakin. Dia mengambil sepotong roti dan menyapu kuah di piringnya dengan roti itu. Ia makan penuh nafsu. Kejunya segera lenyap. Ia menyapukan mentega di rotinya. Dia membuka bibirnya, minum kopi yang encer itu. Laki-laki jarang tahu kalau ia sedang diperhatikan oleh perempuan. Mereka menyangka diri serba tahan dan aman. Matanya tertutup ketika ia minum. Dia menarik sebagai orang Rusia. Tak ada kesan ia kurang yakin. Bagi lelaki Rusia, wanita tidak menakutkan. Peran lelaki dan wanita begitu jelas bedanya. Sikapnya mengayomi wanita meskipun orangnya tampak kecil, tapi seakan ia mampu melindungi.

Sekarang piringnya sudah kosong dan ia membersihkan mulutnya.

Namaku volodya,” katanya. “Siapa namamu?”

Laura.”

Dengan agak malu-malu ia mencoba mengucapkan namaku. Ia nampak sulit mengucapkan huruf L, seperti L dalam bahasa Rusia saja. Aku mengangguk. Ia mencoba sekali lagi dengan penuh keyakinan.

Seperti mengucapkan Lara, ya?”

Ya.”

Ia kembali tersenyum, sedikit berat lidahnya di hadapan orang asing.

Senyummu manis sekali, Lara,” katanya.

Ucapan itu menyadarkanku kembali tentang negeriku. Aku orang Amerika, kataku pada diri sendiri. Aku bukan Lara. Aku mau mengatakan sejelas-jelasnya kepadanya, seperti aku sering mengatakan pada lelaki, supaya jangan salah mengerti bahwa kalau aku bersuara lembut itu bukan berarti aku kurang percaya pada diri sendiri dan kalau aku baik hati jangan melihat itu sebagai kelemahan.

Sekarang ia menceritakan negeriku.

Tidak, tidak. Harga tidak begitu tinggi di Amerika,” aku menjelaskan.

Maksudmu, tak ada inflasi di sana?”

Tentu saja ada inflasi. Tapi tidak seburuk yang diberitakan di koran-koran Rusia ini.”

Ia mengangguk tersenyum dan aku pikir ia hanya pura-pura setuju untuk menyenangkanku. Aku melihat jam tanganku. Kami telah mengobrol hampir setengah jam.

Apakah kau akan pergi sekarang,” ia bertanya.

Ya.”

Di mana kau belajar?”

Di Institut Pushkin. Apakah kau tahu di mana tempatnya?”

Ya. Tempatnya tidak lebih jauh dari tempatku kerja.”

Kau kerja di mana?”

Departemen Perdagangan.”

Oh.”

Aku menatapnya dengan lebih teliti dan merasa ingin tahu jabatannya. Aku sadar bahwa ia sangat berbeda dengan teman Rusiaku yang lain, yang kebanyakan ingin pergi merantau untuk menetap di luar negeri. Aku ingin tahu kalau ia anggota Partai Komunis.

Jalan Shuseva bukan?” tanya Volodya.”Aku bisa mengantarkanmu setengah jalan.”

Jalan dekat pintu sangat licin dan aku masih agak pusing setelah beberapa hari terbaring di tempat tidur. Mungkin itu sebabnya mengapa aku merasa tak begitu terganggu ketika tangannya memegang punggungku waktu ia membantuku keluar pintu.

***

Setelah beberapa bulan di Rusia aku mulai bermimpi. Bahwa segalanya sudah diletakkan dalam dunia yang penuh kotak-kotak. Satu kotak dibatasi dengan garis hitam yang jelas dengan kotak lainnya. Tak ada yang boleh pindah dari kotaknya masing-masing. Koran pun demikian.

Dalam mimpiku itu terlihat, semuanya ditutupi dengan semacam kain dan benang-benang jarang hingga kotak-kotak itu seakan dibikin dari benag-benang halus. Terkadang muncul pemandangan, lantas berlalu perlahan. Tetapi ketika aku melihatnya lebih jelas aku melihat garis itu semakin samar. Sering sekali aku mencoba menangkap garis-garis itu tetapi ketika aku hendak memegangnya garis itu menghilang, bergerak liar seperti belut dalam air.

Volodya dan aku berjalan ke arah jalan Shuseva. Kami berdua hampir sama tinggi dan pasti kelihatan mirip dengan pakaian kami yang hitam dan topi yang terbuat dari bulu binatang berwarna gelap. Waktu itu tengah hari dan jalan sepi. Sementara itu kami berjalan melalui salju sedalam mata kaki. Volodya bicara tentang teater dan menanyakan kalau aku ingin ikut dia nonton, kapan-kapan.

Ya,” kataku, “ingin.”

Dia menceritakan tentang sebuah drama baru oleh Vampilov.

Aku merasa mulai lemah. Meskipun aku mencoba konsentrasi mendengar ucapannya, tapi aku tak bisa. Aku rasa sakit dan lebih sakit lagi dan sama sekali tak memperhatikan lagi segala ucapannya.

Volodya,” aku memotong.

Ya?” Dia menghadapiku dengan senyuman mempesona. Tetapi kali ini tak berpengaruh apa-apa terhadapku.

Aku merasa sakit. Aku harus duduk di suatu tempat.”

Volodya tampak mengerutkan keningnya menatapku. Ia kelihatan begitu peduli. “Kau sakit?”

Sedikit.”

Aku memandang ke sekeliling. Kami berada tak begitu jauh dari pusat kota Moskow, tempat yang terlalu sulit untuk sakit atau mencari tempat duduk. Dekat kami ada kotak setinggi 30 senti dan aku duduk di pinggirnya. Karena merasa panas, aku membuka topiku.

Ayo, ayo,” kata Volodya. “Kau tak boleh duduk di sini,” katanya lagi agak mendesak.

Orang-orang melihat.”

Tampaknya orang Rusia merasa takut berada di antara orang banyak dan diperhatikan. Ia tampak sangat terganggu. Aku menarik napas panjang mencoba berdiri.

Volodya memegang tanganku dan membawaku ke taman yang terdekat, sebuah taman yang putih ditutup salju dan kosong, jauh dari pinggir jalan. Dia membersihkan bagku yang bersalju dan kami duduk.

Pohon-pohon tampak saling membongkok bagaikan gadis-gadis remaja saling berbisik tentang hal-hal yang rahasia. Kami saling bergenggaman tangan meski pun sama-sama memakai sarung tangan yang tebal, dan kami menonton salju-salju berjatuhan.

Atap-atap rumah tampak berkilauan. Para pembersih salju di jalan terus bekerja tanpa henti dengan memakai skop, mengikis sakju dari trotoar. Salju terbang bertaburan ke segala penjuru.

Dahan-dahan pepohonan berselimut putih, bertabrakan oleh angin, bunyinya seperti gelas-gelas bersentuhan di ruang makan yang sangat sepi. Udara dengan butir-butir salju seperti gula pasir, tampak seperti kristal-kristal dalam tempaan cahaya.

Aku merasa diriku sebagian dari pemandangan itu. Begitu rapuh dan memerlukan perawatan. Aku sering sakit, suka pingsan dan sering merasa lemah. Aku tersenyum karena malu. Mukaku terasa merah dan sebentar dingin lagi. Aku sudah berubah menjadi tokoh dalam sebuah novel. Aku sudahmenjadi semua wanita Rusia dalam kisah-kisah yang pernah aku baca. Sementara itu aku menjadi segala-galanya yang diharapkan Volodya dan karena itu ia mendapatkan apa yang dicarinya, dia jadi begitu bahagia. Dia melihat kepalaku yang tanpa topi hingga ia juga membuka topinya. Tapi ia langsung kedinginan. Aku menyuruhnya memakai topinya lagi.

Kau pasti kedinginan.”

Dan kau juga,” sahut Volodya.

Tidak. Aku merasa hangat.”

Kau sudah lama sakit?”

Hanya beberapa hari.”

Sebaiknya kau ke dokter.”

Aku kira, aku tak akan apa-apa.”

Ia menggelengkan kepalanya.

Wanita Amerika. Kalian semua mengira, kalian semua kuat. Dan aku tak tahu apakah aku bisa mempercayainya.”

Aku membalas senyumannya. Aku marah pada diri sendiri karena tergantung pada senyum itu untuk menyelamatkan diri dari kemarahannya. Kami saling bertatapan. Dia membersihkan salju dari rambutku.

Aku akan membeli karcis teater itu,” ia memberitahu. “Bagaimana aku bisa menghubungimu. Apakah kau punya telepon?”

Tidak. Aku harus menghubungimu dari telepon umum.”

Dia mulai mencabik kertas dari buku catatan pena sambil menunggu ia memberitahu nomor teleponnya. Dia mengambil kertas dan pena itu.

Aku dapat menulis lebih cepat dari kamu,” katanya dan menulis namanya sendiri. Tapi dia lupa menuliskan nama keluarganya di ujung namanya. Tulisannya sangat rapi, seperti ia menulis untuk anak kecil.

Telepon aku hari Selasa. Pasti aku sudah dapat karcisnya.”

Baik, aku berjanji.”

Tetapi aku tak yakin bahwa aku akan menelponnya.

Aku harus pergi sekarang,” kataku sesaat kemudian.

Dia melihat kepadaku sangat serius.

Aku akan menunggu panggilanmu,” katanya. Aku mengangguk.

Sampai jumpa Laura kecil.”

Aku merasa muka jadi merah.

Sampai jumpa Volodya.”

***

Operator telepon itu memaksaku mengulangi beberapa kali Kirsenov dan mengejanya. Aku meneleponnya atas permintaan saudaranya di New York. Operator itu menanyaiku beberapa pertanyaan dan aku menjawabnya sebaik mungkin dengan bahasa Rusiaku yang kurang lancar.

Akhirnya operator itu memotong dan mengatakan mereka tidak punya telepon.

Apakah anda yakin?” Aku mengulangi bertanya. Saudaranya di Amerika sangat yakin mereka punya telepon.

Sangat yakin,” sahut operator itu dan memutuskan hubungan.

Suatu sore di seberang kota, sesudah berjam-jam mencarinya, aku menemukan flat Kirsenov itu.

Aku pasti datang lebih cepat kalau anda mempunyai telepon …” Aku mulai menjelaskan.

Tapi kami sudah lama punya telepon. Kami sudah bertahun-tahun punya telepon.”

***

Beberapa minggu setelah meninggalkan Moskow aku berada di Indiana. Aku bagaikan bermimpi di lautan warna-warni hijau di tengah-tengah negeriku tercinta. Bahuku menjadi gelap di tempat yang terbuka dan rata itu. Aku menyegarkan diriku dengan keasyikan berenang sepanjang hari. Tetapi malam ketika pohon-pohon di luar jendelaku bergerakresah dan kabut biru kehijauan aku kembali ke Moskow lewat mimpi yang kaleidoskopik. Gambarnya selalu berubah dan kabur.

Ruangan-ruangan lapangan terbang dan kereta api selalu menandai mulanya mimpi itu. Dan dalam mimpi buruk yang hitam dan abu-abu itu, aku selalu berdiri menunggu berbaris,terlambat dapat bus, hilang atau tersesat di jalan, mencari tempat masuk yang benar, dan selalu salah, selalu menanyakan arah berulang-ulang, mengisi telepon umum dengan uang-uang kopek dalam jumlah yang sudah tak terhitung lagi, mengacaukan tata bahasa Rusia, bersikap slah dalam tata cara sehari-hari, kehilangan domptku, .. lupa namaku.

Tetapi pada pagi hari yang sudah mulai panas hingga mataku berkedip, gambar-gambar dari mimpi itu menjadi satu, kemudian lenyap menghilang.

Di salah satu stasiun metro di Moskow aku menuruni eskalator yang paling panjang di dunia. Di bawahku, di tangga yang sama, ada seorang lelaki berwajah gelap, berkulit gelap, berjenggot. Ia berpaling melihat ke belakang dan ke atas melihat padaku, agak lama. Kulihat di sekeliling memang dia tidak menatap orang lain, hanya aku. Dan dia tetap begitu. Aku pura-pura tidak peduli. Dia tetap menatapku. Aku tunggu dari eskalator itu dan buru-buru pergi ke tempat menunggu kereta. Dia juga. Aku menunggu kereta sementara ia berjalan berputar-putar di sekitarku dan kadang-kadang memandangku. Kereta datang. Aku membiarkannya lewat. Dan satu lagi yang berikutnya. Sialan. Orang itu masih lewat. Aku punya janji dengan seorang teman Rusia dan aku berusaha agar tidak diikuti.

***

Akhirnya aku jadi marah, persis seperti orang Amerika. Mengapa seseorang ingin mengawasiku? Bagaimana mungkin aku ini begitu penting? Dari ratusan mahasiswa-mahasiswa asing di Moskow dan pedagang-pedagang dan turis-turis?

Aku berbalik dan melihat langsung kepadanya. Dia pura-pura tidak memperhatikanku. Aku menatapnya. Dia kelihatan agak kaget, kemudian tersenyum dan mendekatiku. Katanya, “Anda darimana?”

Kanada,” aku berbohong.

Oh, benar?” Itu menarik sekali. Aku tidak dapat membacanya dari wajahmu.”

Aku diam. Aku ingin mengatakan padanya agar dia membiarkan aku sendirian. Tetapi itu satu kalimat yang hampir-hampir tidak pernah kedengaran di Rusia. Waktu aku baru di Moskow ada yang menasehati; kau harus belajar bagaimana sendirian di tempat yang asing dan ramai.

Kau mau pergi ke arah mana?” Aku bertanya.

Tidak ke manapun,” sahutnya.

Dia memiringkan kepalanya seakan mau bertanya tetapi kemudian dia membalik dan pergi menjauhiku. Kami berdua berputar-putar di tempat itu, sementara kereta api tetap datang dan pergi. Akhirnya dia menghilang di tempat ramai. Aku pulang. Terlalu takut untuk meneruskan perjalanan ke rumah temanku itu.

Tiga hari berikutnya aku sedang berlari masuk gedung institut, terlambat hadir di kelas seperti biasa, ketika akumelihat lelaki berjenggot itu lagi. Dia sedang berdiri di bawah bayangan gelap dekat pintu masuk gedung lain.

***

Moskow, 8 Maret

David sayang,

aku sangat senang menerima suratmu yang terakhir itu. Surat itu datang pada saat aku merasa capek dan dingin, marah sama si Rusia ini dan merasa sangat jauh dari negeriku. Aku rindu kau dan aku sering memikirkanmu. Tapi aku kira risiko itu lebih kuambil daripada akhirnya kita saling terikat hanya karena takut kehilangan.

Apakah kau tidak berpikir begitu juga?

Oh, omong-omong saja ya. Jangan kuatir tentang Richard. Ia benci.

***

Di sebuah telepon umum di pinggir jalan aku memegang banyak uang logam dan telepon itu sering salah sambung dan putus sebelum aku sampai dapat sambungan yang benar. Seorang perempuan menjawab dan membalas pertanyaanku:

Volodya siapa? Apakah anda tak tahu nama keluarganya?”

Aku ragu-ragu dan kemudian mmutuskan. Apakah dia sengaja memberi aku nomor telepon yang salah? Apakah perempuan itu kenal bahwa aku orang asing dan ia ingin tahu lebih dulu tentang diriku?

Tak ada lagi yang dapat kukerjakan selain dari itu. Sesudah beberapa minggu aku memutuskan tidak ada harapan lagi untuk meghubungi Volodya itu dan aku tidak mengharap bisa bertemu dia kembali.

Aku menyimpan dalam pikiranku, pertemuan dengan dia sebagai kenangan aneh dan tak masuk akal, seperti yang sering terjadi selama aku di Moskow.

***

Moskow, 12 April

David sayang,

Makin lama aku di sini, aku makin bingung. Aku berharap dapat pengertian dan penjelasan tentang Uni Soviet dan berharap, tolol, bahwa ketika aku pulang aku dapat membicarakan Uni Soviet dan menjelaskannya kepada orang-orang lain. Tentu saja aku banyak belajar. Tetapi aku merasa seperti aku sedang mengupas kulit luar dari sebutir bawang; lapisan yang paling tipis dan transparan.

Beberapa malam lalu aku makan malam dengan beberapa orang Rusia dan Amerika, termasuk Richard. Kami semua berumur 20-an dan semua orang Rusia itu begitu bebas dan menyenangi Amerika. Seperti biasa kami mulai membandingkan Amerika Serikat dan Uni Soviet dan percakapan terjadi antara Richard dengan seorang lelaki Rusia bernama Sasha.

Akhirnya Sasha mengatakan, “Dengarlah, apa yang akan terjadi kalau kau kerja di Amerika dan datang terlambat?”

Tidak apa-apa. Hanya ditegur saja,” Richard menjawab.

Dan kalau kamu sering datang terlambat?” Sasha meneruskan, “dan kadang-kadang tidak masuk sama sekali?”

Aku pasti diberhentikan,” sahut Richard.

Kalau kau di sini, kau tidak diberhentikan. Atau kalau kau diberhentikan, pemerintah pasti mencarikan kerja lain secepat mungkin.” Sasha tersenyum. “Jadi di negeri yang mana manusia lebih bebas?”

Kau mengerti maksudku? Sasha itu hanya bercanda. Tetapi, aku pikir ini semua tergantung dari pihak seseorangdan kadang-kadang aku merasa seperti sudah lupa di mana sebenarnya aku berpihak.

***

Sekali jadi pembangkang, tetap jadi pembangkang,” kata Richard.

Jangan begitu,” kataku padanya dan mulai memasukkan mie ke dalam air yang sedang direbus. Asrama itu hanya menyediakan empat kompor untuk 50 orang.

Belum, belum,” Richard memegang tanganku. “Air itu harus mendidih lebih dahulu.” Dia mengambil bungkus mie itu dan meletakkannya kembali di atas meja.

Ya Tuhan,” aku mengeluh. “Dan bagaimanapun aku tak bermaksud melucu tadinya. Aku pikir sungguh-sungguh begitu.”

Pikir apa?” Aku melihat air itu mulai mendidih.

Bahwa orang yang mengeluh kehidupan di sini pasti juga menjadi radikal dan mengeluh di mana saja mereka berada. Kalau tidak mengeluh soal ekonomi negerinya tentu mengeluh soal politik.”

Sungguh kau pikir begitu?”

Ya.”

Kalau begitu, soal menjadi pembangkang hanya soal kejiwaan?”

Sekarang air itu sudah menguap. Ia tak membalas pertanyaanku dan hanya memasukkan mie itu ke dalam didih air.

***

Beberapa minggu setelah aku mencoba menelepon Volodya, dia muncul lagi di kafetaria itu. Dia duduk di meja yang sama. Tapi kali ini dengan tiga lelaki lain. Aku berhenti di mejanya sebelum aku menuju ke tempat teman Amerikaku duduk. Dan aku hanya memikirkan, bagaimana sedihnya perasaanku ketika aku tak bisa menghubunginya.

Volodya. Aku mencoba meneleponmu. Tapi tak sampai. Maaf, ya?”

Dia tidak melihat kepadaku. Kulitnya memerah dan dia tetap melihat pada meja. Setengah berbisik dia mengatakan, “aku akan menunggumu di luar.” Aku berdiri sesaat lagi, kemudian cepat berlalu.

***

Headline berita, intervensi Amerika di Guatemala. Headline berita, intervensi Amerika di San Salvador. Headline berita, imperialisme Amerika di Amerika Selatan. Headline berita, intervensi Amerika di Filipina. Headline berita, perasaan anti Amerika berkembang di Timur Tengah. Headline berita, kamerad Brezhnev diterima dengan baik di India.

Ketika kami semua meninggalkan kafe itu menuju sekolah, aku kaget sekali melihat Volodya berdiri di luar kafe itu. Dia telah menunggu begitu lama selama aku mendengar teman-temanku ngobrol dan pura-pura makan. Sekarang aku bingung. Tapi aku kira, karena sikapnya seakan dia tidak mau berbicara dengan aku. Dia bicara dan tersenyum seperti tak terjadi apa-apa.

Hello,” kataku tanpa bisa tersenyum.

Aku menunggu sepanjang sore itu,” katanya sambil memegang tanganku. “dan juga sore berikutnya.”

Dia berhenti dan berdiri menghadapku di tengah trotoar.

Dan ketika kau tidak menelepon, aku begitu kecewa. Aku tak pernah menonton teater itu. Aku menghabiskan sore itu di rumah dengan dua karcis yang sudah kubeli,” katanya lagi.

Aku sudah coba menelepon. Aku tak tahu apa yang sesungguhnya terjadi. Teleon di sini sangat …” Bagaimana cara mengatakan kacau dalam bahasa Rusia … ? “Sulit. Aku sungguh-sungguh ingin pergi dengan kau.”

Dia kelihatan sangat senang mendengar ucapanku.

Bagaimana kesehatanmu?”

Oh, baik-baik saja. Sangat sehat.”

Kau harus jaga diri lebih baik,” katanya. Ia melihat kepadaku. “Sebaiknya kau pakai topimu hari ini.”

Di satu sudut dekat perempatan institut dia berhenti.

Aku harus pergi ke jurusan lain. Departemenku di arah itu.” Dia menunjuk ke arah jalan Hertzen.

Aku mau tahu kalau arahnya memang ke sana ataukah dia hanya tidak mau kelihatan bersama orang Amerika di tempat umum.

Kau harus meneleponku,” katanya, “Aku akan menunggu.”

Aku akan mencoba. Tapi bagaimana kalau tak bisa sambung?”

Nama keluargaku adalah Ivanov,” ia menambahkan. “Coba kau ulangi,” katanya lagi.

Aku menatapnya agak curiga.

Aku hanya ingin kau mengerti nama itu.”

Aku kira dia mengira aku sangat bodoh. Ivanov di Rusia seperti John di Amerika. Nama itu sangat sering terdengar. Aku mengulangi namanya dan dia tersenyum.

Persis seperti perempuan Rusia. Kalau begitu kau pasti akan menghubungiku,” katanya.

Ia memegang pipiku dengan tangan bersarung dan berbalik. Aku berjalan ke sekolah dengan pikiran kacau. Di kantongku ada banyak uang logam.

Moskow, 28 April

David sayang,

Aku ingin kau menulis surat lebih sering kepadaku.

***

Di seberang kolam Moskow yang sangat luas dan kelihatan dari jauh karena uapnya, ada museum seni Pushkin. Di sana selalu ramai dan orang-orang harus menunggu dan berbaris di depannya cukup lama karena di sana selalu ada pameran dari seni barat. Aku menunggu di luar satu jam lebih hingga kakiku kejang kedinginan tetapi ketika aku dibiarkan masuk, aku heran karena pengaruh lukisan-lukisan itu membuat aku merasa seperti mandi dalam air hangat atau membaca buku yang paling menyenangkan. Renoir, Rembrandt, Manet, Courbet, Cezanne, Veronese, Botticelli. Seperti reuni saja laiknya. Aku tinggal berjam-jam di sana, memanjakan diri menikmati kekayaan seni dari barat.

Hari mulai larut dan aku mulai sadar bahwa laki-laki ini yang pernah hidup pada masa yang berbeda di negeri yang lain, jauh lebih mudah kupahami daripada orang-orang Rusia yang berdiri di sekelilingku, yang menebarkan salju di seluruh lantai.

Dengan jari tangan yang sangat dingin aku mencari nomor telepon Volodya di buku alamatku. Hari sudah mau malam. Matahari mulai tenggelam. Di horison masih terlihat garis sinar berwarna kemerahan. Aku memasukkan logam ke dalam kotak telepon dan mulai memutar nomornya ketika aku mencoba membayangkan wajahnya. Tetapi bayangan yang kubayangkan kenyataannya seperti lukisan kubisme; tulang pipi yang khas Eropa Utara, seperti lapis-lapis dengan bagian-bagian kulit yang pucat dan rambut berwarna muda. Bagaikan lukisan di mana hitam putih dipermainkan hingga kontrasnya sangat terang. Jidatnya yang sangat putih di atas pelipisnya yang dalam. Aku kira jauh lebih gampang aku menjadi pacar Cezanne daripada Volodya. Aku merobek halaman dimana nomor teleponnya terlukis dalam buku catatanku dan membuangnya.

Malam sudah jatuh menutupi pepohonan dan padang-padang di Moskow. Aku membayangkan Volodya duduk di sebuah kamar kecil; cahaya yang menghilang membuat wajahnya menjadi abu-abu kebiruan, remang-remang gelap dan kemudian hitam. Aku tak akan pernah mengerti negeri ini; aku tak akan pernah merasa menjadi bagiannya. Aku berjalan kencang sampai aku menakutkan segerombolan gagak-gagak. Gagak-gagak itu berterbangan, menjerit, menjadi titik-titik hitam di langit.

***

Salah satu mimpi yang aku dapatkan setelah kembali ke Amerika sangat lain dari yang lain. Bukan mimpi buruk. Tapi hanya pemandangan salju yang datangnya pada bulan Agustus yang panas; dan terasa sangat aneh untuk bermimpi tentang salju di musim panas.

***

Hujan salju terus turun dari saat pertama aku tiba di Moskow. Salju bertumpukan bagaikan lapisan kertas-kertas bon yang belum dibayar. Salju itu mencair menjadi lumpur. Dan ketika aku mulai berpikir bahwa kota itu terlalu kasar dan kotor, salju itu kembali menutupi noda-noda mengisi keretakan-keretakan yang membuat segalanya menjadi rata kembali. Kadang-kadang salju itu memberat menjadi seperti sebuah kerangkeng. Bunyi-bunyi genertap, gema terperangkap. Salju itu mendiamkan segala keluhan, diam tetapi terasa menderas. Pasif tetapi memiliki ketekunan. Kalau aku ingat Moskow, yang pasti aku teringat saljunya, bayangan yang tak bisa dihapuskan, tak terlupakan, seperti wajah seseorang yang tak bisa dihapuskan, tak terlupakan, seperti wajah seseorang yang nyaris jadi kekasihku, tetapi tak kesampaian.

***

Di gereja St. Nikolas dekat Lagrande Piace di Brussels segalanya terasa besar, berat, dan serba bergaya Romawi. Kayu gelap yang diukir, batu-batu berwarna abu-abu. Cahaya siang hari yang penuh bayangan hujan seperti disaring melalui jendela-jendela yang bergambar lila dan hijau jeruk.

Aku duduk di salah satu bangku yang tak enak diduduki dan merasa rindu gereja-gereja Rusia yang beratap lengkung seperti masjid, di luanya kelihatan tak terpelihara tetapi di dalamnya penuh ikon-ikon berwarna emas dan merah. Ruangan tengahnya kosong, hanya diisi dengan asap kemenyan. Wanita-wanita tua memakai selendang hitam, buruh-buruh melintasi jalanan penuh salju mengejar misa sore hari. Mereka membakar lilin merah lantas membuat salib di dada, berdiri berjam-jam dalam asap berbau wangi, bernyanyi dengan suara gemetaran.

Di sini, di Eropa Utara, gerejanya gelap, penuh ukiran serba rumit dan sepi. Orang-orang datang dan pergi memakai jas dan baju hujan berwarna krem. Mereka membakar lilin putih, berdoa sesaat lantas berlalu.

Di gereja katolik selalu ada tempat mengaku dosa dan ada tanda yang mengatakan bahwa pendeta yang berada di sana dapat mengerti bahasa Jerman, Itali, Perancis, dan Belanda.

***

Seorang lelaki yang memakai baju dingin potongan Inggris berjalan melewatiku. Kulitnya sangat putih dan orangnya gagah. Aku hanya melihatnya selintas tetapi tiba-tiba aku teringat Moskow, teringat pada Volodya dan taman yang penuh salju di mana pohon-pohon adalah bayangan hitam. Kenangan ini kembali kepadaku bagaikan banjir, terasa lagi sentuhan tangannya yang terbalut sarung tangan, terlihat lagi bayangan tulang pipinya yang gelap itu. Namaku disalahucapkan. Dan aku teringat warna biru, birunya langit yang selalu mengejutkan kalbu seperti sesekali muncul dalam musim dingin yang biasanya berlangit kusam keabuan.

Aku ingin mengangkat tubuhku ke dalam telapak tanganku sendiri, dan pergi menemui seorang pendeta tua.

Aku ingin berlutut di atas batu keras dan menekankan jidatku di atas batu granit dingin sambil berdongeng kepadanya dan memohon maaf dari kerut wajahnya yang bagaikan ukiran logam karya Durer.

Ya, aku ingin meminta pengampunan bagi dosa-dosa yang tak pernah kulakukan.

***

 

Catatan:

Sumber: Majalah Horison No.8 tahun 1983. Diterjemahkan oleh Margaret G. Agusta

Cerpen ini merupakan karya pertama Hedy Kalikoff yang dipublikasikan, dan memenangkan sayembara penulisan fiksi yang diselenggarakan majalah Mademoiselle’s pada 1982. Saat itu usianya 24 tahun, mendapatkan gelar sarjana muda dari Connecticut College, AS, dan sempat mengikuti kuliah bahasa dan kebudayaan Rusia di Moskow selama satu semester.

Written by jojoba

November 18, 2007 at 1:38 pm

Ditulis dalam Cerpen, Susastra

Tagged with , , , , ,

Pohon Prem

leave a comment »

Ibu dan ayah itu sedang memperdebatkan sesuatu waktu mereka duduk berlawanan dan memandang dua atau tiga bunga merah di pohon prem tua itu.

Setelah beberapa puluh tahun, bunga-bunga pertama telah bermekaran di cabang rendah itu juga. Pohon itu sama sekali tak berubah, sejak si ibu datang ke rumah itu sebagai pengantin. Tak ingat lagi, kata si ibu. Pengelakan ini mengganggu si ayah. Tak punya waktu untuk pohon prem, kata si ibu. Soalnya si ibu telah menyia-nyiakan waktunya, kata si ayah. Masalahnya tampaknya adalah bahwa si ibu tidak berminat membagi berbagai perasaan dengan suaminya tentang pendeknya hidup manusia dibandingkan dengan hidup pohon prem tua itu.

Percakapan menjurus ke dodol tahun baru. Si ayah bilang bahwa pada tanggal dua januari ia membeli dodol dari Fugetsudo. Si ibu bilang sama sekali tidak ingat hal itu.

“Tapi aku masih ingat baik-baik bahwa kuhentikan mobil di Meiji dan Fugetsudo, dan aku membeli dodol di kedua toko itu.”

“kuingat Meiji. Tapi kau belum pernah sekalipun membeli apapun di Fugetsudo sejak aku berada di rumah ini.”

“Kau ini bicara seenaknya saja.”

“Kau tak pernah membelikanku apapun.”

“Tapi kau memakannya. Aku tahu aku yang membelinya.”

“Kau membuatku merasa tak enak. Kau memimpikannya. Kau bicara tentang yang kau impikan.”

“Oh?”

Di dapur, anak gadisnya yang sedang makan mendengarkan perdebatan itu. Ia tahu siapa yang benar, tetapi tak berkehendak membukanya. Ia berdiri tersenyum di samping ceret.”

“Kau yakin kau membawanya pulang waktu itu?” Si ibu tampaknya ingin menyatakan bahwa setidaknya si ayah mungkin telah membeli dodol itu dulu.

“Aku membelinya – tetapi mungkin ketinggalan di dalam mobil?” Ia jadi ragu-ragu.

“Kalau kau telah meninggalkannya dalam mobil, sopirnya tentu telah membawanya ke mari. Ia tentu tidak pergi begitu saja dengan dodol-dodol itu. Kan mobil kantor.”

“Memang.”

Si gadis agak gelisah.

Ia menjadi gelisah karena ibunya telah lupa hal itu, dan ayahnya telah membiarkan keyakinannya digoyahkan begitu mudah.

Si ayah berjalan-jalan pada tanggal dua Januari itu dan mobilnya disuruh mengikuti di belakang, dan ia telah membeli sekotak besar dodol manis di Fugetsudo. Ibu telah ikut memakannya.

Hening; setelah itu dengan sangat tenang ibu teringat.

“Oh, itu! Kau membelinya kan?”

“Ya.”

“Kuingat sekarang. Kita memberikannya kepada seseorang. Terbungkus rapi. Siapa ya?”

“Ya. Kau memberikannya kepada seseorang.” Ayah bicara seolang-olah urat yang mengejang di leher tiba-tiba mengendor. “Kepada Fusae barangkali?”

“Fusae, barangkali. Ya, kukatakan seharusnya tidak diperlihatkan anak-anak.”

“Ya, Fusae.”

Dan pertengkaranpun usai. Rasa sepakat tampaknya memuaskan keduanya.

Namun kenyataannya berbeda. Mereka dulu itu tidak memberikannya kepada Fusae, pembantunya yang dulu, tetapi kepada anak lelaki tetangga sebelah.

Si gadis menunggu sampai ibunya teringat hal itu pula. Tetapi hanya suara ceret the saja yang kedengaran dari ruang makan pagi.

Gadis itu menyediakan makan siang.

“Kau dengar percakapan kami tadi, Yoshiko?” tanya ayah.

“Ya.”

“Ibumu sudah pelupa benar. Semakin pelupa dia, semakin berpura-pura dia bahwa segalanya beres. Kau harus membantunya mengingat-ingat segala sesuatu.”

“Aku sangsi siapa di antara kami yang lebih pelupa. Kali ini aku kalah, tetapi aku masih sangsi.”

Anaknya berpikir akan mengatakan sesuatu tentang Fusae dan anak lelaki tetangga itu tetapi tak jadi.

Dua tahun setelah itu, ayahnya meninggal. Ia telah menderita serangan otak dan jarang pergi ke kantor sebelum itu.

Dan tetap saja bunga-bunga prem bersemi dari dahan bawah itu. Yoshiko sering memikirkan masalah Fugetsudo. Ia tak pernah mengatakannya kepada ibunya. Mungkin sekali ibunya sudah melupakannya.

 

***

Sebuah cerpen karya Kawabata Yasunari

Sumber: Majalah Horison No.5 tahun 1983. Diterjemahkan oleh Sapardi Djoko Damono dari edisi bahasa Inggris oleh Edward Seidensticker dalam Contemporary Japanese Literature, Tokyo, 1978.

Written by jojoba

Oktober 18, 2007 at 1:47 pm

Ditulis dalam Cerpen, Susastra

Tagged with , ,

Delima

leave a comment »

Dalam angin kencang malam itu, pohon delima itu rontok daun-daunnya.

Daun-daun itu menumpuk berbentuk lingkaran di kaki batang pohon itu.

Kimiko terkejut melihatnya telanjang pagi harinya, dan mengagumi bundarnya lingkaran daunan itu.

Ada sebutir buah delima, sangat bagus, tertinggal di pohon.

“Lihatlah buah itu,” katanya memanggil ibunya.

“Aku telah lupa,” Ibunya memandang pohon itu sekilas lalu kembali ke dapur.

Itu memuat Kimiko merenungkan kesepian mereka. Buah delima yang di beranda itu tampaknya juga kesunyian dan terlupakan.

Kira-kira dua minggu sebelumnya, kemenakannya yang berumur tujuh tahun berkunjung menengoknya; ia segera saja memperhatikan delima-delima itu. Kemenakannya itu memanjat pohon itu.

Kimiko merasa sedang menghadapi kehidupan.

“Ada sebuah yang besar di atas,” teriaknya dari beranda.

“Tapi kalau aku memetiknya, aku tak bisa turun nanti.”

Benar. Turun dari pohon dengan kedua belah tangan membawa buah-buah delima memang tidak mudah. Kemenakannya itu anak manis.

Sampai saat kemenakannya itu berkunjung, keluarganya sudah melupakan pohon delima itu. Dan sampai kini mereka telah melupakannya lagi.

Kemudian buahnya tersembunyi di antara daunan. Kini ia tersembul jelas menatap langit.

Ada kekuatan dalam buah itu dan dalam lingkaran daunan di kaki pohon. Kimiko beranjak dan menjoloknya dengan sebilah bambu.

Buah itu begitu matang sehingga biji-bijinya tampaknya berusaha memecahkannya. Biji-biji itu tampak berkilau di sinar matahari ketika Kimiko meletakkannya di beranda, dan matahari seolah akan menyusup ke dalamnya.

Gadis itu merasa seperti harus minta maaf.

Sekitar pukul sepuluh, ketika sedang menjahit di lantai atas, kimiko mendengar suara Keikichi. Meskipun pintu tidak dikunci, pemuda itu tampaknya telah masuk melalui kebun. Suaranya mengandung sesuatu yang penting.

“Kimiko, Kimiko!” Panggil ibunya. “Keikichi di sini.”

Kimiko membiarkan jarumnya lepas tanpa benang. Lalu ditusukkannya ke bantalan jarum.

“Kimiko selalu mengatakan betapa inginnya bertemu denganmu lagi sebelum kau berangkat. Keikichi akan berangkat ke medan perang. “Tetapi kami tidak bisa pergi menemuimu tanpa undangan, dan kau juga tak datang – tak juga datang. Syukur kau datang hari ini.”

Si ibu memintanya agar tinggal sampai makan siang, tetapi ia terburu-buru.

“Yah, setidaknya makanlah delima. Kami menanamnya sendiri.” Si ibu memanggil Kimiko lagi.

Pemuda itu menyalami Kimiko dengan matanya, seolah-olah ia lebih dari apa yang bisa dilakukannya dalam menunggu gadis itu turun. Kimiko berhenti di tangga.

Sesuatu yang hangat serasa menyusup kemata pemuda itu, dan buah delima terjatuh dari tangannya.

Mereka saling memandang dan tersenyum.

Ketika Kimiko menyadari dirinya tersenyum wajahnya menjadi merah. Keikichi bangkit dari beranda.

“Jaga dirimu baik-baik, Kimiko.”

“Dan kau.”

Ia telah berbalik pergi dan mengucapkan selamat tinggal kepada ibu Kimiko.

Kimiko memandang ke arah pintu pagar setelah pemuda itu pergi.

“Ia begitu tergesa,” kata ibunya. “Dan delima itu begitu bagus.”

Keikichi telah meninggalkan delima itu di beranda.

Jelas bahwa pemuda itu menjatuhkannya ketika sesuatu yang terasa hangat menyusup di matanya dan waktu itu ia sudah mulai membelahnya. Ia belum sampai membelahnya menjadi dua. Delima itu tergeletak dengan biji-bijinya di atas.

Ibunya membawanya ke dapur dan mencucinya, dan memberikannya kepada Kimiko.

Kimiko merengut tidak mau menerimanya, dan kemudian, sekali lagi wajahnya memerah, menerima buah itu dengan pikiran yang agak kalut.

Keikichi seolah telah mengambil beberapa biji di bagian pinggir buah itu.

Dengan kehadiran ibunya di depannya, terasa aneh bagi Kimiko untuk tidak memakannya. Ia menggigit buah itu dengan acuh tak acuh. Mulutnya terasa pahit. Ia mencecap semacam kebahagiaan yang memilukan, seolah-olah merasuk jauh ke dalam dirinya.

Tanpa memperhatikannya, ibunya telah berdiri.

Ibunya menuju ke cermin dan duduk.

“Lihatlah rambutku. Aku tadi mengucapkan selamat pisah kepada Keikichi dengan rambut acak-acakan begini.”

Kimiko mendengar suara sisir.

“Ketika ayahmu meninggal,” kata ibunya lembut, “aku takut menyisir rambutku. Kalau menyisir rambut aku melupakan apa yang sedang kulakukan. Kalau aku sadar kembali terasa seolah-olah ayahmu menantiku untuk menyelesaikan sisiranku.”

Kimiko teringat kebiasaan ibunya memakan sisa yang ditinggalkan ayahnya di piring.

Kimiko merasa seperti ada yang menariknya, suatu kebahagiaan yang membuatnya ingin menangis.

Ibunya barangkali telah memberikan delima itu kepadanya karena sayang kalau dibuang. Hanya karena itu saja. Telah menjadi kebiasaan untuk tidak membuang-buang barang.

Sendirian dengan kebahagiaan tersembunyi, Kimiko merasa malu di hadapan ibunya.

Ia berpikir bahwa peristiwa tadi merupakan salam pisah yang lebih baik dari yang bisa dibayangkan Keikichi, dan bahwa ia bisa menanti pemuda itu sampai kapan pun ia kembali.

Ia memandang ke arah ibunya. Matahari mencapai pintu kertas yang agak jauh dari tempatnya duduk di depan kaca.

Gadis itu agak takut-takut menggigit delima yang di pangkuannya.

***

Sebuah Cerpen karya Kawabata Yasunari

Sumber: Majalah Horison No.5 tahun 1983. Diterjemahkan oleh Sapardi Djoko Damono dari edisi bahasa Inggris oleh Edward Seidensticker dalam Contemporary Japanese Literature, Tokyo, 1978.

Written by jojoba

Agustus 7, 2007 at 1:00 pm

Ditulis dalam Cerpen, Susastra

Tagged with , ,