Aksara yang mengalir begitu saja – mbuh lah..

Waiting on the World to Change

Kaki yang Mahal

leave a comment »

Mereka membuatku lega. Mereka mengirimkan kartu, memohonku untuk datang ke kantor; akhirnya aku datang juga ke sana.

Mereka sangat baik, diambilnya kartu registrasiku dan berkata: “Hm,” Aku juga berkata: “Hm.”

Kaki yang mana?” tanya pegawai di situ.

Kanan.”

Seluruhnya?”

Seluruhnya.”

Hm,” katanya lagi. Kemudian ia mencari-cari surat di mejanya. Aku diperkenankan duduk.

Akhirnya ia menemukan apa yang yang nampaknya sebagai surat yang dicarinya. Ia berkata: “Kupikir ini merupakan pekerjaan yang cocok untukmu. Kau dapat duduk sambil bekerja. Tukang semir sepatu di taman dekat istana; suka kan?”

Aku tidak dapat membersihkan sepatu. Aku selalu menarik perhatian orang karena sepatuku yang kotor.”

Kau dapat belajar,” katanya. “Seseorang dapat belajar segala hal. Seorang Jerman dapat mengerjakan apa saja. Kalau kau suka, kau dapat dilatih dengan gratis.”

Hm,” kataku.

Setuju, kan?”

Tidak,” kataku, “Aku tidak ingin itu. Aku ingin pensiun yang lebih besar.”

Kau gila,” tukasnya dengan nada bersahabat dan penuh perhatian.

Aku tidak gila. Tidak seorangpun dapat mengganti kakiku. Aku bahkan tidak lagi dapat berjualan rokok tanpa kesulitan.”

Laki-laki itu bersandar ke kursinya dan menghirup udara dalam-dalam.”sahabatku yang baik,” ia kembali mulai berbicara, “kakimu benar-benar kaki mahal terkutuk. Aku perhatikan kau berumur tujuh puluh tahun. Terimalah: tujuh puluh mark sebulan, dua belas kali setahun. Itu berarti empat puluh satu dikali dua belas dikali tujuh puluh. Terimalah, lupakan keinginanmu – tetapi jangan berpikir kakimu tinggal satu. Kau mungkin bukan satu-satunya orang yang akan hidup demikian lamanya. Dan kau berbicara mengenai kenaikan pensiunmu. Maafkan, tetapi kau benar-benar gila.”

Tuan yang baik,” kataku sambil menyandarkan diri ke kursi dan juga menghirup udara dalam-dalam, “Kupikir kau benar-benar meremehkan kakiku. Kakiku jauh lebih mahal, ia kaki yang sangat mahal. Aku tidak hanya keras hati, tapi sayangnya juga berakal sehat. Dengarkan baik-baik.”

Waktuku sangat terbatas.”

Dengarkan baik-baik,” kataku.

Kakiku telah menyelamatkan hidup banyak orang yang sekarang uang pensiunnya lumayan banyaknya. Ceritanya begini: Aku mengambil tempatku di suatu front depan dan aku diharapkan mengamati pergerakan musuh sehingga yang lainnya dapat mundur pada saat yang tepat. Staf markas besar di front belakang kemudian dapat berpindah tempat. Mereka ingin mundur pada saatnya, tetapi dengan tidak tergesa-gesa. Pada mulanya kami berdua, tetapi orang itu kemudian terbunuh. Saat ini ia tidak membebani kau apapun. Benar, ia telah kawin, tapi istrinya sehat dan dapat bekerja. Kau tidak perlu khawatir. Laki-laki itu benar-benar berharga murah. Ia menjadi tentara hanya selama empat minggu dan berharga tidak lebih dari selembar kartu pos dan beberapa kerat ham. Ia mulanya seorang tentara patuh; ia membiarkan dirinya sendiri terbunuh dengan sepantasnya. Yah, kemudian aku tinggal sendirian, ketakutan dan kedinginan, dan aku ingin sekali keluar dari keadaan itu. Aku baru saja akan berdiri dan berlari, sewaktu…”

Waktuku sangat terbatas,” kata laki-laki itu, dan mulai mencari-cari pensilnya.

Tidak, dengarkan,” kataku,

Sekarang tiba bagian yang penting. Persis sewaktu aku akan berlari, hal tersebut terjadi pada kakiku. Dan karena aku tidak dapat berdiri, aku berpikir sendirian, kau pun dapat mengatakannya pada mereka sekarang, dan aku lalu memberi tanda supaya mereka semua dapat lari. Mereka semua mundur dengan urutan yang sesuai mula-mula Markas Besar Divisi, lalu Markas Besar Brigade, kemudian pos Komando Batalion, dan seterusnya, semua dengan urutan yang teratur. Cerita yang lucu, bukan? Karena mereka lupa untuk membawa aku serta. Mengerti maksudku? Mereka demikian terburu-burunya.

Ini benar-benar cerita yang sangat lucu, karena bila aku tidak kehilangan kaki, mereka semua akan mati: Jenderal, Kolonel, Mayor, semua denga urutan keseniorannya dan kau tidak harus membayar pensiun mereka. Sekarang kau mengerti berapa nilai kakiku. Sang jenderal berumur lima puluh dua, kolonel empat puluh delapan dan mayor lima puluh, semuanya sangat sehat, berhati dan berpikiran sehat pula.

Dengan cara hidup kemiliteran mereka, sekurang-kurangnya mereka akan hidup sampai delapan puluh tahun seperti Hindunburg. Sekarang tentukanlah: seratus enam puluh – anggap saja rata-rata tiga puluh, setuju? Kakiku telah menjadi kaki sangat mahal, salah satu kaki termahal yang dapat dibayangkan. Kau setuju tidak?”

Kau sungguh-sungguh gila,” kata laki-laki itu.

Tidak,” lanjutku, “Aku tidak gila. Sayangnya hati dan pikiranku sama sehatnya, dan sangat sayang aku juga tidak terbunuh sesaat sebelum kakiku tertembak. Kita akan menghemat banyak uang karenanya.”

Kau terima pekerjaan itu tidak?” tanya laki-laki itu.

Tidak,” kataku sambil berlalu.

***

Cerpen oleh Heinrich Boll.

Judul asli: My Expensive Leg; diterbitkan dalam kumpulan cerpen Wanderer, Kommst Du Nach Spa. Terjemahan dalam Bahasa Indonesia oleh Hadrian Syah Rasad, diterbitkan di Majalah Horison No. 8 Tahun 1983

Tentang Heinrich Boll

boll-photo.jpg

Heinrich Boll (lahir 21 Desember 1917 dan wafat 16 Juli 1985) adalah sastrawan Jerman pasca perang, penerima banyak penghargaan seperti Prix de la Tribune di Paris, dan pemenang hadiah Nobel Kesusastraan tahun 1972. Terkenal dengan gaya tulisannya yang satiris. Salah satu karya novelnya yang terkenal adalah The Lost Honor of Katharina Blum (Hilangnya Kehormatan Katharina Blum)

Written by jojoba

Desember 7, 2007 pada 2:20 pm

Ditulis dalam Cerpen, Susastra

Tagged with , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: