Aksara yang mengalir begitu saja – mbuh lah..

Waiting on the World to Change

Zona Pribadiku, Zona pribadimu

with one comment

Apakah Anda menyadari hal-hal yang tampaknya remeh, namun sangat memengaruhi interaksi Anda dengan lingkungan berkaitan dengan apa yang disebut ‘wilayah pribadi’, alias dalam bahasa sundanya disebut privacy? Pernahkah Anda memerhatikan bagaimana setiap orang, termasuk Anda sendiri, berusaha sedapat mungkin mempertahankan wilayah pribadi agar tidak dilanggar oleh orang lain? Apabila seseorang menerobos masuk melewati jarak yang kita anggap zona pribadi itu, kita akan merasa gelisah, uring-uringan, lalu ujung-ujungnya – kalau tak mampu mengontrol diri – mudah tersulut emosinya dan melakukan tindakan agresif.

Konsep tentang kebutuhan ruang pribadi pada manusia pertama kali dicetuskan oleh Antropolog Amerika bernama Edward T. Hall pada tahun 60-an, tatkala dia memperkenalkan istilah “proxemics”, yang diturunkan dari kata proximity yang berarti kedekatan. Setiap orang – mengacu pada konsep tersebut – memiliki apa yang disebut sebagai “gelembung virtual”, sebuah gelembung tak kasat mata yang bersifat fleksibel, mengikuti ke mana pun kita pergi, bertugas menjaga jarak ‘aman’ kita dari orang lain, dan membuat kita terlindungi secara psikis.

Yang menarik, besarnya kebutuhan ruang pribadi berbeda-beda pada tiap orang. Salah satu faktor yang mempengaruhinya adalah kondisi sosial ekonomi, sehingga hanya dengan mengamati bagaimana seseorang menjaga wilayah pribadinya, kita dapat menduga latar belakang sosial ekonomi orang tersebut. Inilah seni menyenangkan yang kelak melahirkan kajian populer tentang bahasa tubuh.

Bagaimana cara terbaik mempraktekkan ilmu ini? Well, keluar rumah dan pergi ke lingkungan yang ramai: jalan, mall, kantor, atau bahkan di dalam lift. Amati orang-orang di sekitar anda – dengan diam-diam tentu, bukan memelototi mereka. Perhatikan tingkah polah mereka. Selalu ada hal-hal tersirat yang hanya mungkin disadari apabila anda cukup peka:

  • Ketika sepasang pria dan wanita berciuman, anda dapat membedakan apakah ciuman tersebut ciuman kekasih atau sekadar ciuman persahabatan dengan memperhatikan jarak pinggul mereka saat berciuman. Kalau sekadar sahabat, secara tak sadar mereka akan menjaga jarak antar pinggul mereka paling tidak 15 cm. Sebaliknya, sepasang kekasih akan merapatkan pinggul mereka serapat mungkin. Di Yogyakarta kalau tidak salah juga ada skripsi yang mengupas perilaku berboncengan motor sepasang muda-mudi, yang menunjukkan tingkat kedekatan hubungan mereka. Semakin mesra hubungan mereka, semakin erat sang pembonceng (yang mestinya cewek) mendekap tubuh pasangannya, ‘biar tidak jatuh’.

  • Seseorang yang dibesarkan di desa atau kota kecil relatif memiliki zona pribadi lebih besar daripada orang kota. Ini bisa dimaklumi karena di desa orang terbiasa hidup dalam lingkungan yang lapang (persawahan), sehingga mereka menciptakan wilayah pribadi yang juga lebih besar. Ini bisa anda buktikan saat dia bersalaman. Orang kota cenderung mendekatkan tubuhnya saat bersalaman. Sebaliknya, orang desa akan menjaga jarak dan mengulurkan tangan lebih jauh. Pada orang-orang yang terbiasa hidup di daerah terpencil bahkan tidak ada kebiasaan bersalaman. Mereka lebih menjaga jarak lagi dengan hanya melambaikan tangan buat memberi salam. Seorang kawan saya punya teori lain untuk membedakan gerombolan orang desa dengan orang kota, yakni dengan melihat cara mereka berjalan dalam rombongan di trotoar. Orang kota tulen akan berjalan berjajar dan memenuhi ruang trotoar. Sebaliknya, orang desa akan berjalan berurutan satu-satu, dengan orang yang lebih berpengalaman diberi tempat paling depan. Hal ini konon dipengaruhi oleh kebiasaan mereka berjalan di pematang sawah yang sempit yang hanya cukup dilalui satu orang. Benar atau tidak, Wallahu a’ lam. Yang merasa wong ndeso tolong kasih verifikasi🙂

  • Polisi biasa menggunakan pelanggaran zona pribadi sebagai taktik untuk melumpuhkan mental tersangka dalam pemeriksaan. Jika anda tersangka yang tengah diperiksa, mereka akan berdiri sedekat mungkin dengan anda, mengambil posisi di bagian yang lemah secara psikis (misal, berdiri merapat tepat di belakang punggung anda yang tak terlindung). Hal ini akan membuat anda merasa gelisah, cemas, grogi, sehingga pada gilirannya anda akan ‘menyerah’ dan menurut. (Catatan: hal ini hanya berlaku efektif buat tersangka culun atau bandit kelas teri yang tidak memiliki taktik kontra serangan psikologis. Tersangka teroris kelas berat atau bandit ndableg tentu tidak mempan diperlakukan seperti itu.

  • Kelompok demonstran, supporter sepakbola, atau kumpulan massa dalam jumlah besar apapun alasan mereka berkumpul, selalu memiliki potensi membikin kerusuhan. Mengapa? Semakin bertambah besar kerumunan orang; semakin sedikit ruang pribadi bagi masing-masing individu, yang menyebabkan mereka menjadi gelisah, emosional, dan mudah terprovokasi. Satu pemicu kecil saja dapat membangkitkan huru-hara tak terkendali. Polisi anti huru-hara meredam kemungkinan tersebut dengan cara memecah kerumunan besar menjadi kelompok-kelompok lebih kecil sehingga tiap orang mendapatkan kembali zona pribadinya, dan hal itu akan membuatnya lebih tenang.

  • Kalau anda berada di dalam lift, angkot, atau dalam bus yang padat penumpang di mana orang mau tidak mau harus membiarkan zona pribadinya dilanggar orang lain, anda akan menyadari bahwa setiap orang, termasuk anda sendiri, menjalankan ritual bawah sadar untuk menjaga keharmonisan sosial dengan cara:

    • Menghindari kontak mata

    • Memasang wajah datar alias tidak memperlihatkan ekspresi apapun

    • Menahan gerakan yang tak perlu, terutama bila tempat tersebut sangat padat

    • Membisu, tidak mengatakan sesuatu selain ucapan pendek seperti “permisi” atau “maaf”

    • Jika membawa buku atau koran atau ponsel, maka benda-benda itu sering dipakai buat pengalih perhatian: pura-pura sibuk baca atau pencat-pencet tombol ponsel.

  • Sebuah penelitian menunjukkan bahwa di WC umum yang berderet panjang, 90% orang cenderung memilih WC bagian ujung. Apabila tempat itu telah terisi barulah dia bersedia memakai WC bagian tengah. Tanya kenapa?

Written by jojoba

November 30, 2007 pada 6:39 am

Satu Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. ya..bagus juga si mas mempelajari hal-hal kecil seperti itu..

    pingu

    April 23, 2008 at 8:53 pm


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: