Aksara yang mengalir begitu saja – mbuh lah..

Waiting on the World to Change

Mengajar Berpikir (Edward de Bono)

leave a comment »

“Perkenalan” saya dengan Edward de Bono terjadi tanpa disengaja tatkala saya tengah mengaduk-aduk rak buku perpustakaan kampus buat mencari bahan seputar metodologi penelitian sosial buat keperluan tugas akhir kuliah. Di antara jajaran buku-buku yang ada terselip satu buku lusuh ukuran saku berjudul Mengajar Berpikir (Teaching Thinking). Dan seperti umumnya kebiasaan free-thinker amatiran yang gemar coba-coba mengunyah makanan asing, saya pinjam buku yang salah letak tersebut dan melupakan sejenak tugas akhir yang menanti. Berikut beberapa point penting yang bisa saya sarikan dari buku tersebut:

  • Tuhan tidak perlu berpikir. Berpikir hanya digunakan oleh manusia buat melengkapi pengetahuannya yang tidak memadai.

  • Dalam sebuah masyarakat yang kompleks (seperti masyarakat modern sekarang), kebutuhan untuk berpikir semakin besar daripada waktu yang lampau. Kita mempunyai kebebasan yang lebih besar, dan kebebasan adalah penindasan dari kesempatan karena setiap kesempatan berarti keharusan ntuk mengambil keputusan.

  • Lebih baik belajar berpikir terbuka daripada menjadikan berpikir semata-mata sebagai ekspresi ketidakpuasan emosional.

  • Memutuskan untuk mengajarkan berpikir merupakan suatu keputusan politik, karena beberapa sistem politik akan lebih senang kalau rakyat hanya menurut dan tidak perlu berpikir. Hanya itikad untuk menipu yang membuat seseorang takut kepada pandangan yang jelas.

  • Usaha mencari kesempurnaan akademis seringkali merupakan musuh bagi pendidikan praktis berpikir: eksplorasi pengalaman yang dilakukan secara sadar dalam mencapai suatu tujuan.

  • Tidaklah tepat menganggap seorang pemakai bahasa yang terampil otomatis pemikir yang terampil pula. Salah pula menganggap seseorang yang kurang baik ekspresi lisannya otomatis kurang baik pula cara berpikirnya. Bahasa dan ekspresi adalah sarana untuk menuangkan hasil pemikiran, bukan pemikiran itu sendiri. (Btw, dengan kalimat lain bisa dikatakan bahwa orang yang pinter ngomong belum tentu cerdas)

  • Tujuan berpikir adalah mempersiapkan sesuatu yang akan kita rasakan. Dengan berpikir, kita menata kembali persepsi dan pengalaman kita, sehingga kita memiliki pandangan yang lebih jelas mengenai sesuatu. Pandangan yang lebih jelas inilah yang membuat perasaan kita tergetar. Tanpa berpikir, perasaan hanya merupakan tirani. Mengapa? Karena perasaan adalah sejenis tindakan. Tujuan berpikir adalah mempersiapkan diri kita untuk bertindak.

  • Idiom akademis yang diajarkan di sekolah dan disempurnakan di universitas layaknya keterampilan mengetik dua jari: keterampilan yang sangat baik untuk menghadapi situasi tertutup di mana semua informasi telah tersedia, tetapi sangat tidak efisien untuk menghadapi situasi terbuka, di mana hanya sebagian dari informasi tersedia namun keputusan tetap harus dibuat.

  • Adalah keangkuhan yang luar biasa untuk beranggapan hanya ada dua pilihan, yang terpolarisasi dengan tajam pada suatu soal, yang mengatakan bahwa bila yang satu salah maka yang lain pasti benar.

  • Masalah mendasar dari keterlibatan ego dalam pemikiran kita adalah kita secara normal menganggap logika sebagai suatu cara memproses persepsi kita, dan mengambil implikasi yang lengkap dari persepsi itu. Kita tidak dapat melihat bahwa dalam banyak situasi, sebagaimana dengan dukungan ego, struktur logika muncul paling awal dan mempunyai momentumnya sendiri, dan persepsi dibuat supaya cocok dengan struktur itu. Di tangan yang terampil, mau tidak mau struktur itu konsisten, namun persepsinya sangat tertutup dan sempit.

  • Sistem logika tradisional (yang berbasis verbal) menghadapi kesulitan besar dalam berurusan dengan besaran, karena bahasa berurusan dengan sifat-sifat dan bukan dengan ukuran. Kesalahan besaran tidak dapat dideteksi dengan memeriksa argumentasi itu sendiri karena argumen itu barangkali konsisten secara logika dan benar secara internal. Kesalahan hanya bisa diketahui bila si pemikir telah mempunyai bidang persepsi yang lebih luas untuk dapat menilai argumentasi itu.

  • Kesalahan seringkali bukan terletak pada kurangnya pengetahuan, tetapi lebih pada cara kita memandang pengetahuan itu.

  • Mengajarkan berpikir bukanlah mengajarkan logika, tetapi mengajarkan persepsi.

  • Seringkali, terlalu cepat sampai pada tahap pengolahan logika dapat membatasi penyelidikan kita dalam tahap pengerahan perhatian maupun eksplorasi persepsi. Jadi salah satu fungsi berpikir adalah mengarahkan perhatian melintasi bidang persepsi.

  • Pengarahan perhatian secara sadar ke bidang seluas mungkin (memperluas wawasan, melihat sesuatu dari sudut pandang lain, dan keterbukaan sikap) merupakan bagian yang sangat mendasar dalam berpikir.

Written by jojoba

Oktober 26, 2007 pada 2:39 pm

Ditulis dalam Inspirasi, Serbaneka

Tagged with , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: