Aksara yang mengalir begitu saja – mbuh lah..

Waiting on the World to Change

Pulp Fiction, Pendidikan Moral a la Tarantino

leave a comment »


Pulp Fiction adalah satu dari sedikit film yang tidak melulu berhenti sebagai hiburan sejam dua jam belaka. Sisi paling menarik dari film ini adalah permainan plot dan karakterisasinya yang ‘tidak lumrah’ namun tetap asyik dan sedikit sinting buat pemirsa konvensional. Layaknya Wachowski bersaudara memiliki epigon-epigon yang latah setelah kesuksesan The Matrix yang mereka sutradarai, Quentin Tarantino juga memiliki banyak “pengikut” yang bertebaran di mana-mana setelah sukses merilis Pulp Fiction yang mendulang banyak award (termasuk Palm D’Or, penghargaan untuk film terbaik Festival Film Cannes tahun 1994).

Anda harus memiliki mata dan telinga yang cukup moderat untuk menonton Pulp Fiction, karena sepanjang durasinya yang 154 menit, Tarantino seolah tidak tahan buat menghamburkan perbendaharaan scene vulgar dan kata-kata kotor khas Amerika jalanan yang dimilikinya (situs imdb.com mencatat, kata “fuck” diucapkan 281 kali). Harap maafkan saja hal itu, karena tidak mengurangi kredibilitasnya untuk dinobatkan oleh banyak movie buff sebagai film terbaik dekade 90-an.

Secara garis besar Pulp Fiction merupakan kombinasi dari tiga plot cerita utama yang masing-masing berdiri sendiri namun saling berkaitan satu sama lain, yang dituturkan dengan teknik naratif paralel. Buat Anda pembaca novel-novel John Steinbeck atau In Cold Blood-nya Truman Capote, teknik bertutur semacam ini tentu tidak asing lagi.

Pulp Fiction dibuka (sekaligus ditutup) oleh adegan perampokan pada jam sarapan di sebuah kafetaria yang padat pengunjung di kawasan suburban LA. Pasangan perampok amatir Pumpkin (Tim Roth) dan Yolanda alias Honeybunny (Amanda Plummer) tengah mengobrol seputar kesulitan mereka mencari tempat yang enak buat dirampok. Obrolan ngalor-ngidul itu lantas mencetuskan ide spontan buat merampok kafetaria itu.

Sepintas kisah perampokan kafetaria itu berdiri sendiri, karena terpotong oleh caption film, dan plot cerita selanjutnya sama sekali tidak menyinggungnya. Baru pada akhir cerita penonton dibuat ngeh bahwa adegan itu bertautan dengan “pertobatan” Jules, anak buah gangster Marcellus Wallace (Ving Rhames) yang memperoleh pencerahan batin setelah merasa diselamatkan Tuhan dari hamburan peluru pistol.

Walau memiliki susunan plot yang unik, kekuatan utama Pulp Fiction sendiri sebetulnya lebih bertumpu pada penciptaan karakter pendukung cerita yang matang dan dialog-dialog intensif yang cerdas. Hal inilah yang membedakan Tarantino dari sineas-sineas penirunya yang kebanyakan hanya sebatas meniru kulit belaka, ikut-ikutan membolak-balik plot dengan harapan filmnya dibilang unik dan nyleneh.

Melihat karakter-karakter yang ada dalam Pulp Fiction, kita seolah menengok pada banyak sisi kepribadian dalam diri kita sendiri. Lihatlah Vincent Vega (John Travolta). Bandit yang satu ini menggambarkan karakter seseorang yang slenge’an, tidak dewasa, lawless, tidak pernah merasa bersalah bahkan setelah jelas-jelas membikin kekacauan. Dia dapat dengan enaknya meledakkan kepala Marvin (Phil LaMarr) dengan satu dentum tembakan dan bilang kalau tembakan itu tidak sengaja. Namun begitu terdapat sisi kepolosan yang menggelikan saat Dia merasa grogi berat ketika harus menemani Mia Wallace (Uma Thurman), istri sang Big Boss, dugem ke sebuah nite club.

Atau tengoklah Jules Winfield (Samuel L. Jackson). Sahabat Vincent ini layaknya seorang idealis dan moralis sejati. Dia tidak henti-hentinya bicara tentang ‘ini seharusnya begini, itu seharusnya begitu’ dan tidak pernah lupa mengutip seayat Bible (Ezekiel 25:17) sebelum membunuhi orang-orang. Tidakkah kelakuan Jules ini mirip dengan karakter banyak orang di negeri ini yang gemar berlindung di balik atribut religi guna melegalkan tindakan brutalnya?

Karakter yang paling waras barangkali hanya Butch Coolidge (Bruce Willis), sang petinju sial yang dikejar-kejar anak buah Marcellus setelah membunuh lawannya di atas ring, di mana dalam pertandingan itu Dia “seharusnya” kalah pada ronde kelima sesuai kesepakatan. Butch adalah tipikal regular American guy, orang yang tidak neko-neko dalam menjalani hidup, ingin segalanya berjalan lurus namun terjebak dalam pergaulan dunia hitam yang terkadang memaksanya ikut-ikutan bertindak brutal demi mempertahankan diri. Sisi nyentrik Butch adalah obsesi kuatnya atas jam kuno pemberian almarhum ayahnya. Dia rela menempuh bahaya buat mengambil arloji tersebut yang tertinggal di kamar apartemennya. Siapa mengira tindakan itu secara tidak langsung justru membuatnya rujuk kembali dengan Marcellus, yang diselamatkannya ketika tengah disodomi oleh oknum Sheriff Zed (Peter Greene) dan anteknya Maynard (Duane Whitaker).

Pulp Fiction merupakan prestasi kedua Tarantino setelah Reservoir Dogs (1992), di mana dia memperoleh baik sukses komersial maupun reputasi internasional. Bekas penjaga rental video ini menempati posisi yang unik dalam jajaran sineas Amerika generasi baru, di mana posisinya sebagai sutradara memiliki merek dagang tersendiri dan lebih banyak mendongkrak popularitas film-filmnya ketimbang aktor-aktris yang bermain di dalamnya.

Tarantino memiliki cara yang unik dalam mengkasting pemain. Sembari menuliskan naskah skenario, dia telah menyesuaikan karakter yang diciptakannya dengan aktor yang menurutnya pantas memainkan peran tersebut. Samuel L. Jackson adalah aktor yang secara spesifik dipilihnya untuk memerankan Jules Winfield, sama halnya dengan karakter pasangan perampok kacangan Pumpkin dan Honeybunny yang dikhususkan buat dimainkan Tim Roth dan Amanda Plummer. Beberapa karakter lain juga dia tujukan secara spesifik untuk aktor tertentu, namun terpaksa digantikan oleh aktor lain karena berbagai alasan. Peran Butch Coolidge mulanya ditujukan buat Sylvester Stallone, namun akhirnya jatuh ke tangan Bruce Willis. Demikian pula peran Vincent Vega pada awalnya hendak diberikan pada Michael Madsen, namun jadwal syuting Madsen yang bentrok tidak memungkinkannya memainkan peran tersebut sehingga pilihan beralih pada John Travolta.

Buatku pribadi, Pulp Fiction adalah sebuah contoh bagus tentang bagaimana pendidikan moral tidak harus mengambil bentuk serba normatif. Film yang penuh kekerasan dan taburan kata-kata kotor ini justru mampu memberi penggambaran jernih dan nyata bahwa dalam dunia hitam pun, secuil perbuatan baik akan mendapat balasan yang baik, dan sebaliknya. Sebuah pengertian bahwa tiap perbuatan akan menuai karmanya masing-masing.

Namun apakah model pendidikan moral semacam ini efektif buat penonton di Nusantara, entahlah. Jangan-jangan malah adegan kekerasannya yang terus diingat-ingat. Masyarakat kita telah dibiasakan dengan dogma turun-temurun bahwa kebenaran pasti datang dari satu otoritas tunggal, dan yang ada di luar itu pasti kebohongan belaka.

***

 

Pulp Trivia (sumber: imdb.com)

  • Produksi Pulp Fiction menelan biaya delapan juta dollar. Lima juta dollar dari jumlah tersebut dialokasikan untuk membayar aktor-aktris pendukungnya sehingga biaya produksi sesungguhnya hanya tiga juta dollar.

  • Selain menyutradarai, Tarantino juga berperan sebagai Jimmie, kawan Jules, yang uring-uringan berat ketika Jules mendadak datang pada suatu pagi membawa mayat Marvin untuk dititipkan di rumahnya. The Bonnie Situation. Produser Lawrence Bender juga muncul sebagai cameo pada adegan di kafetaria sebagai pria yuppies berambut panjang

  • Pistol yang digunakan Vincent adalah 1911A1 Auto Ordnance .45 ACP yang telah diberi lapisan krom, dan pistol Jules adalah Star Model B 9 mm

  • Tarantino menciptakan karakter Winston “The Wolf” khusus untuk diperankan oleh Harvey Keitel

  • Kalimat yang diucapkan Vincent “You know what they call a Quarter Punder with Cheese in Paris?… They call it a Royale with Cheese.” terpilih pada urutan 81 sebagai 100 kalimat film terbaik versi majalah Premiere tahun 2007.

Written by jojoba

Oktober 21, 2007 pada 2:51 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: