Aksara yang mengalir begitu saja – mbuh lah..

Waiting on the World to Change

Pohon Prem

leave a comment »

Ibu dan ayah itu sedang memperdebatkan sesuatu waktu mereka duduk berlawanan dan memandang dua atau tiga bunga merah di pohon prem tua itu.

Setelah beberapa puluh tahun, bunga-bunga pertama telah bermekaran di cabang rendah itu juga. Pohon itu sama sekali tak berubah, sejak si ibu datang ke rumah itu sebagai pengantin. Tak ingat lagi, kata si ibu. Pengelakan ini mengganggu si ayah. Tak punya waktu untuk pohon prem, kata si ibu. Soalnya si ibu telah menyia-nyiakan waktunya, kata si ayah. Masalahnya tampaknya adalah bahwa si ibu tidak berminat membagi berbagai perasaan dengan suaminya tentang pendeknya hidup manusia dibandingkan dengan hidup pohon prem tua itu.

Percakapan menjurus ke dodol tahun baru. Si ayah bilang bahwa pada tanggal dua januari ia membeli dodol dari Fugetsudo. Si ibu bilang sama sekali tidak ingat hal itu.

“Tapi aku masih ingat baik-baik bahwa kuhentikan mobil di Meiji dan Fugetsudo, dan aku membeli dodol di kedua toko itu.”

“kuingat Meiji. Tapi kau belum pernah sekalipun membeli apapun di Fugetsudo sejak aku berada di rumah ini.”

“Kau ini bicara seenaknya saja.”

“Kau tak pernah membelikanku apapun.”

“Tapi kau memakannya. Aku tahu aku yang membelinya.”

“Kau membuatku merasa tak enak. Kau memimpikannya. Kau bicara tentang yang kau impikan.”

“Oh?”

Di dapur, anak gadisnya yang sedang makan mendengarkan perdebatan itu. Ia tahu siapa yang benar, tetapi tak berkehendak membukanya. Ia berdiri tersenyum di samping ceret.”

“Kau yakin kau membawanya pulang waktu itu?” Si ibu tampaknya ingin menyatakan bahwa setidaknya si ayah mungkin telah membeli dodol itu dulu.

“Aku membelinya – tetapi mungkin ketinggalan di dalam mobil?” Ia jadi ragu-ragu.

“Kalau kau telah meninggalkannya dalam mobil, sopirnya tentu telah membawanya ke mari. Ia tentu tidak pergi begitu saja dengan dodol-dodol itu. Kan mobil kantor.”

“Memang.”

Si gadis agak gelisah.

Ia menjadi gelisah karena ibunya telah lupa hal itu, dan ayahnya telah membiarkan keyakinannya digoyahkan begitu mudah.

Si ayah berjalan-jalan pada tanggal dua Januari itu dan mobilnya disuruh mengikuti di belakang, dan ia telah membeli sekotak besar dodol manis di Fugetsudo. Ibu telah ikut memakannya.

Hening; setelah itu dengan sangat tenang ibu teringat.

“Oh, itu! Kau membelinya kan?”

“Ya.”

“Kuingat sekarang. Kita memberikannya kepada seseorang. Terbungkus rapi. Siapa ya?”

“Ya. Kau memberikannya kepada seseorang.” Ayah bicara seolang-olah urat yang mengejang di leher tiba-tiba mengendor. “Kepada Fusae barangkali?”

“Fusae, barangkali. Ya, kukatakan seharusnya tidak diperlihatkan anak-anak.”

“Ya, Fusae.”

Dan pertengkaranpun usai. Rasa sepakat tampaknya memuaskan keduanya.

Namun kenyataannya berbeda. Mereka dulu itu tidak memberikannya kepada Fusae, pembantunya yang dulu, tetapi kepada anak lelaki tetangga sebelah.

Si gadis menunggu sampai ibunya teringat hal itu pula. Tetapi hanya suara ceret the saja yang kedengaran dari ruang makan pagi.

Gadis itu menyediakan makan siang.

“Kau dengar percakapan kami tadi, Yoshiko?” tanya ayah.

“Ya.”

“Ibumu sudah pelupa benar. Semakin pelupa dia, semakin berpura-pura dia bahwa segalanya beres. Kau harus membantunya mengingat-ingat segala sesuatu.”

“Aku sangsi siapa di antara kami yang lebih pelupa. Kali ini aku kalah, tetapi aku masih sangsi.”

Anaknya berpikir akan mengatakan sesuatu tentang Fusae dan anak lelaki tetangga itu tetapi tak jadi.

Dua tahun setelah itu, ayahnya meninggal. Ia telah menderita serangan otak dan jarang pergi ke kantor sebelum itu.

Dan tetap saja bunga-bunga prem bersemi dari dahan bawah itu. Yoshiko sering memikirkan masalah Fugetsudo. Ia tak pernah mengatakannya kepada ibunya. Mungkin sekali ibunya sudah melupakannya.

 

***

Sebuah cerpen karya Kawabata Yasunari

Sumber: Majalah Horison No.5 tahun 1983. Diterjemahkan oleh Sapardi Djoko Damono dari edisi bahasa Inggris oleh Edward Seidensticker dalam Contemporary Japanese Literature, Tokyo, 1978.

Written by jojoba

Oktober 18, 2007 pada 1:47 pm

Ditulis dalam Cerpen, Susastra

Tagged with , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: