Aksara yang mengalir begitu saja – mbuh lah..

Waiting on the World to Change

Di Bawah Satu Langit

leave a comment »

herojetsword.jpg

Judul : Ying Xiong (Hero)
Produksi : Miramax
Sutradara : Zhang Yimou
Skenario : Feng Li, Bin Wang, Zhang Yimou
Pemain : Jet Li (Wuming/Nameless), Tony Leung (Canjian/Broken Sword), Maggie Cheung (Feixue/Flying Snow), Zhang Ziyi (Ruyue/Moon), Chen Daoming (King of Qin), Donnie Yen (Changkong/Sky)

Sesosok pahlawan adalah sebentuk subyektifitas: dia bisa benar dan dipuja-puji oleh satu masyarakat namun dicaci dan direndahkan masyarakat lainnya. Akan tetapi kepahlawanan berbeda. Masyarakat di manapun cenderung membentuk sebuah konsensus dalam menetapkan definisi sikap kepahlawanan, yakni suatu keberanian dan kombinasi berbagai kualitas personal lain pada diri seseorang yang membuatnya memiliki nilai lebih bagi orang banyak, utamanya di tempat dia tumbuh dan berkembang.
Zhang Yimou (Raise of The Red Lantern, Yellow Earth, Red Sorghum, Curse of the Golden Flower) tampaknya menyadari betul hal tersebut ketika membuat Ying Xiong (di pasaran internasional beredar dengan judul Hero). Dia tidak berbicara tentang pahlawan bagi seluruh umat manusia. Dia hanya bercerita tentang seorang pahlawan bagi dirinya dan bagi (sebagian besar) rakyat Cina. Kita tidak perlu mencela subyektifitasnya tersebut karena kita sendiri belum tentu sanggup untuk bersikap lebih dewasa. Karena itu nikmati sajalah sebentuk gaya dan aliran gambar-gambar puitik yang disajikan dalam film berdurasi 96 menit ini apabila anda tidak setuju atau merasa jengah dengan tema dukungan implisit pada kediktatoran yang diangkatnya.
Hero dibuka dengan adegan iring-iringan pengawal berkuda Kerajaan Qin yang mengawal Wuming alias pendekar tanpa nama (Jet Li). Wuming (menurut pengakuannya sendiri) adalah seorang bekel (kepala desa) dan pendekar dari keturunan bangsa Qin yang berhasil membunuh tiga orang pendekar tangguh Bangsa Zhao yang menjadi ancaman terbesar bagi Raja Qin : Changkong, Canjian, dan Feixue. Atas jasanya itu dia berhak memperoleh penghargaan berupa segepok tael emas dan kesempatan mendekati sang raja dalam jarak sepuluh langkah untuk minum teh bersamanya.
Namun Raja Qin Shihuang Ti (Chen Daoming) tidak percaya begitu saja pada cerita Wuming yang dianggapnya kelewat fantastis. Dia melihat ada skenario terselubung : ketiga musuh raja dengan sengaja mengorbankan dirinya agar ada salah seorang yang beroleh kesempatan mendekati sang raja dan membunuhnya.
Wuming, yang menyadari tidak ada gunanya lagi berbohong lantas membeberkan motif sebenarnya. Lebih dari itu, dia juga memperlihatkan kebimbangan untuk meneruskan misinya yang tinggal selangkah, termasuk ketka Raja Qin melemparkan pedangnya dan membiarkan dirinya menjadi sasaran terbuka bagi serangan Wuming.
Mengapa Wuming bimbang dan mengapa sang raja begitu “ceroboh” di hadapan seseorang yang hendak membunuhnya? Pada bagian inilah Yimou dengan menawan memperlihatkan dua jiwa, dua karakter berseberangan yang telah mencapai kematangan tertinggi sebagai pendekar : mereka telah berhasil menyingkirkan ego; sebatang pedang dari tangan dan hati mereka, dan menyisakan kebesaran jiwa dengan lebih mengutamakan kepentingan yang lebih besar.
Apa kepentingan yang lebih besar itu? Cina yang bersatu. Canjian (Tony Leung) sebagai musuh terbesar Raja Qin dan sekaligus orang yang paling memahami persoalan, menasihati Wuming agar tidak membunuh Qin. Baginya, Raja Qin adalah satu-satunya orang yang sanggup mempersatukan Cina, menjaga kebesarannya, dan mengayomi rakyat. Apabila hal ini disadari, maka dendam pribadi maupun permusuhan antara bangsa Qin-Zhao dan empat bangsa lainnya tidak lagi relevan dikedepankan. Yang diperlukan adalah kelapangan hati, dan bila perlu pengorbanan kepentingan pribadi.
Pengorbanan inilah yang dipilih Wuming. Dia lepaskan kesempatan membunuh sang raja, melangkah keluar balairung mendekati gerbang luar istana, berbalik, dan membiarkan tubuhnya dihujani ribuan anak panah yang meluncur menerjang seperti kawanan lebah.
Salahkah dia mengambil pilihan sikap semacam itu (atau pertanyaan yang lebih relevan : salahkah Yimou membuat ending cerita tragis yang tidak begitu populer bagi para penonton yang terbiasa dijejali penyelesaian masalah dangkal dan hitam-putih khas film-film blockbuster holywood)? Anda bebas menilainya sendiri sesuai idealisme yang anda miliki, laku batin yang anda anut, dan panjang tali kekang kebebasan berpikir anda, karena ini tokh bukan persoalan salah-benar, melainkan persoalan bagaimana membuat keputusan berdasar pilihan yang tidak banyak tersedia.


Jalan Pedang : Tiga tahap dalam Pencapaian Ilmu Pedang

Tahap pertama,penyatuan antara diri dengan pedang. Pedang adalah diri, diri adalah pedang. Keterampilan teknis terkuasai dengan baik. Pada tahap ini bahkan sehelai rumput di tangan pun bisa menjadi senjata yang mematikan.

Tahap kedua, menghilangkan pedang dari tangan. Pedang hanya ada di hati. Dengan pedang di hati, musuh yang berada jauh sekalipun bisa dibunuh dengan mudah, bukan secara fisik melainkan secara mental.

Tahap ketiga, pencapaian tertinggi dari ilmu pedang, yakni menghilangkan pedang baik di tangan maupun di hati. Tidak ada lagi musuh yang harus dikalahkan karena tidak ada lagi yang dianggap sebagai musuh. Penyerahan diri total, mengakui ada persoalan yang jauh lebih besar dari kepentingan diri sendiri, dan inilah hakikat dari ilmu pedang dan semua ilmu yang lain : suatu jalan untuk mencapai derajat kemanusiaan yang paripurna.

Written by jojoba

Agustus 11, 2007 pada 5:25 pm

Ditulis dalam Inspirasi, Jagung Pop

Tagged with , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: